Perempuan Baik (?)

Perempuan Baik (?)

Minggu lalu saya kedatangan seorang teman lama. Teman SMP. Kini ia bekerja di Jakarta, dan minggu lalu ia berkunjung ke Bandung untuk mengikuti sebuah kajian agama di kampusnya dulu. Lalu bergulirlah ceritanya tentang isi kajian itu yang menurutnya–menurutku juga–cukup menarik.

Katanya begini, ‘laki-laki yang baik pasti akan mendapatkan perempuan yang baik. Tapi perempuan baik belum tentu mendapatkan laki-laki yang baik.’

Saya terhenyak.

Teman saya menjelaskan, ada kalanya perempuan maupun laki-laki tidak mendapatkan pasangan sesuai dengan yang mereka harapkan. Bisa saja seorang laki-laki shalih berpasangan dengan perempuan yang, katakanlah, tidak seshalih si laki-laki. Begitu pula sebaliknya.

“Tapi bagaimanapun, perempuan itu harus baik, biar bisa menghasilkan generasi-generasi yang baik,” jelas teman saya.

Untuk poin itu, saya setuju.

Perihal baik dan buruk kualitas diri seseorang adalah sebuah subjektivitas manusia. Kebaikan dan keburukan adalah sebuah keniscayaan yang ada pada diri manusia. Tuhan menciptakan manusia berbeda dengan makhluk lainnya. Ia diberikan nalar dan nurani sekaligus, yang karenanya manusia bisa memiliki berbagai dimensi.

Wajah manusia bisa memiliki banyak sisi. Si A mungkin baik, sebab kau melihat sisi baiknya. Suatu saat orang lain bisa menilainya buruk karena melihat sisi buruknya. Maka kebaikan dan keburukan manusia seutuhnya hanya bisa dilihat oleh Dia yang maha melihat segala sesuatu.

Saya tidak bermaksud bicara agama. Namun dalil yang mengatakan perempuan baik untuk lelaki baik dan sebaliknya, hadir karena adanya konteks tertentu dan tidak berkorelasi dengan rumus perjodohan. Namun dewasa ini, untuk memotivasi para pencari jodoh, dalil tersebut kemudian diterjemahkan sebagai teori atau rumus mendapatkan jodoh idaman. *Tolong koreksi jika saya salah*

Tentu hal ini sah-sah saja, sebab tidak ada yang salah jika kita menganjurkan untuk memperbaiki dan memantaskan diri untuk mendapatkan jodoh yang sepadan.

Hal yang ingin saya tekankan adalah bahwa dengan siapapun jodohnya, menjadi baik adalah sebuah keharusan. Menjadi baik, dan ikhlaslah. Bukan menjadi baik dengan tujuan tertentu, salah satunya untuk mencari jodoh. Menjadi baiklah karena Allah menginginkan kita menjadi hamba yang baik, taat, dan bermanfaat bagi sesama.

Perihal jodoh, kita hanya tinggal percaya bahwa Allah akan memberikan yang terbaik bagi kita. Sebagaimana yang dikatakan dalam kajian teman saya itu, bahwa perempuan yang baik akan mampu menjadikan keturunannya menjadi orang yang baik, pun ia akan membimbing suaminya ke jalan yang lebih baik.

Demikian pula dengan para lelaki. Menjadi pemimpin yang baik bagi keluarga akan menghantarkan keluarga tersebut ke pintu syurga yang dijanjikan Allah. Ia yang akan membimbing anak dan istrinya ke jalan yang baik.

Keduanya tentu tidak semanis teori yang dikatakan. Ada proses yang harus dilalui dengan penuh kesabaran. Maka ketika sang perempuan mampu membawa suaminya, atau sebaliknya, lelaki mampu membawa istrinya, ke arah yang diridhai Allah, Dia akan memberikan apresiasi dalam bentuk apapun, bukan?

Akan selalu ada harga untuk setiap perjuangan mendapatkan ridha Allah. Tinggal sejauh mana kesanggupan kita menjalani itu semua. Wallahualam bishawab.

Demikian hasil diskusi panjang saya dengan si Teman. Kalau ada yang mau nimbrung, dipersilakan🙂

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s