Yuyun dan Perihal Keluarga

Yuyun dan Perihal Keluarga

Saat ini Indonesia tengah digegerkan oleh pemberitaan mengenai anak berumur 14 tahun bernama Yuyun yang diperkosa oleh 14 pemuda dan kemudian dibunuh. Mendengar hal ini saja sudah membuat bulu kuduk merinding. Apalagi, 7 dari 14 orang tersangka berusia di bawah 17 tahun, 5 lainnya berusia di atas 18 tahun, dan 2 lainnya–hingga tulisan ini dibuat–dikabarkan belum ditangkap (Baca selengkapnya di sini). Mengejutkan.

Sebagai rasa bela sungkawa dan bentuk keprihatinan masyarakat Indonesia, para netizen beramai-ramai menggunakan tagar #NyalaUntukYuyun dan #YYadalahKita di media sosial, terutama Twitter. Gerakan ini lantas mengundang perhatian terhadap kasus kekerasan seksual yang kerap menimpa perempuan. Hal ini tidak hanya karena kejadian ini tidak hanya bisa terjadi pada siapa saja, tetapi juga karena perempuan selalu menjadi korban namun tetap disalahkan dilihat dari berbagai sudut pandang. Saya, sebagai perempuan, jelas mengutuk tindakan tidak beradab yang dilakukan oleh pelaku.

Namun sebagai manusia, saya tidak hanya melihat kasus ini sebagai bentuk dari tindakan asusila, tidak manusiawi, dan kejam tetapi juga dampak dari berbagai aspek multidimensional. Sebagian besar pihak menyalahkan tayangan-tayangan pornografi yang tersebar melalui berbagai saluran komunikasi, terutama internet, yang saat ini sangat mudah diakses, termasuk oleh anak-anak. Saluran komunikasi tersebut dinilai menjadi biang keladi permasalahan ini terjadi.

Dewasa ini, teknologi informasi dan komunikasi telah merambah ke dalam berbagai aspek kehidupan. Seiring dengan perkembangan dunia, hal ini tentu tidak bisa dihindarkan. Teknologi informasi dan komunikasi sudah menjadi kebutuhan. Saya pikir, permasalahan tidak selesai di sini. Bukan teknologi yang salah, melainkan user atau pengguna teknologi tersebut. Ya, kita.

 

Perihal Keluarga

Saya tidak ingin membahas lagi perihal Yuyun dan keluarganya. Jelas, mereka adalah korban yang persoalannya tidak selesai sampai pelaku dihukum. Ada beban traumatik yang mungkin saja akan dialami seumur hidup oleh keluarga kecil itu. Yang ingin saya ulas adalah pelaku, dan keluarganya.

Media memang tidak mempublikasikan latar belakang keluarga pelaku. Ini tentu baik, secara moral dan etika. Namun demikian, bukan berarti kita tidak bisa belajar dari mereka, bukan?

Usia di bawah 17 tahun menurut negara disebut dengan anak-anak. Ya, para pelaku ini setengahnya belum dewasa, masih anak-anak. Namun bagaimana mereka bisa melakukan sesuatu yang sedemikian tercela padahal umur mereka, seharusnya, belum bersentuhan dengan hal-hal semacam itu: mabuk dan perilaku seksual yang diluar batas.

Sebagai makhluk behavioral, manusia akan sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan yang pertama kali dikenal oleh manusia adalah lingkungan keluarga, seperti apapun bentuknya. Lingkungan atau keluarga yang sangat menentukan karakteristik dan kepribadian manusia dinamakan significant other. Dari significant other inilah manusia akan melihat, meniru, dan belajar apapun yang ia butuhkan untuk memahami dunia dan hidupnya. Maka significant other ini penting. Penting, Saudara-saudara.

Saya percaya, tidak ada keluarga yang dengan sengaja memberikan pengaruh buruk terhadap anak-anaknya. Mereka umumnya tidak akan mengajarkan hal-hal tercela. Para orang tua ingin memiliki anak yang baik dan patuh. Lalu jika ternyata sang anak memiliki perilaku yang sedemikian tercela, mereka belajar dari mana?

Ya, lingkungan. Selain lingkungan keluarga, ada pula lingkungan pergaulan atau pertemanan. Dalam psikologi, jika lingkungan pergaulan ini lebih dominan, maka bisa jadi teman-teman yang berada di lingkungan inilah yang menjadi significant other. Merekalah yang akan lebih banyak mempengaruhi karakteristik maupun perilaku si anak. Pada tataran ini, keluarga menjadi berada di posisi nomor dua. Maka jika si anak memilih teman yang salah, kemungkinan ia akan terlibat di lingkungan yang ‘salah’.

‘Teman-teman’ yang salah ini juga merupakan mata rantai dari peristiwa yang kompleks. Sekali lagi, hubungan antara keluarga dan interaksi dengan lingkungan akan saling mempengaruhi.

Saya pernah dalam satu waktu mengikuti ceramah yang disampaikan oleh Ketua P2TP2A Provinsi Jawa Barat Netty Prasetyani Heryawan. Beliau mencontohkan kasus Emon (sekilas bisa dibaca di sini) yang dikatakan predator seksual terhadap anak-anak. Menurut Netty, bagi anak-anak yang menjadi korban Emon, Emon adalah sosok “pengganti orang tua mereka” sebab Emon memperlakukan anak-anak itu seperti teman, anak, keluarga, dan sebagainya. Artinya, anak-anak tersebut ternyata mengalami ‘kurang kasih sayang’ atau ‘kurang perhatian’ dari orang tua mereka sehingga mereka mendapatkan kasih sayang dari orang lain: Emon.

Emon sendiri menurut keterangan adalah anak dari keluarga yang miskin. Dan semasa kecil ia juga adalah korban pelecehan seksual. Siapa sangka, setelah dewasa ia melakukannya kepada puluhan anak (baca di sini). Sekali lagi, ini merupakan mata rantai dari berbagai situasi yang saling bertautan. Namun bukan berarti ini tidak bisa dicegah.

Hal yang saya ingin sampaikan adalah betapa situasi keluarga berdampak sangat penting, tidak hanya sebatas untuk tumbuh kembang anak tetapi juga stabilitas sosial di masyarakat. Keluarga harus cerdas dalam membimbing anak agar senantiasa mendapatkan pengetahuan yang cukup untuk menghadapi tantangan dunia masa kini.

Sebagai Ketua P2TP2A, Netty menggagas program 20 Menit Orang Tua Dampingi Anak. Program ini menganjurkan kepada keluarga untuk meluangkan waktu minimal 20 menit untuk mendampingi anak. Selama 20 menit tersebut orang tua disarankan untuk mengobrol dengan anak, baik untuk sekadar menanyakan kabar di sekolah maupun untuk memberikan edukasi kepada anak. Program ini tentu baik untuk dijalankan sehingga diharapkan orang tua akan terdorong untuk lebih memperhatikan dan meluangkan waktu bersama anak. Dengan demikian, anak akan lebih dekat dengan orang tua, mendapatkan perhatian dengan cukup, dan dapat terhindar dari berbagai pengaruh negatif di luar sana, sebab sedari rumah mental positif anak sudah dibangun dengan kokoh oleh keluarga.

Maka mari membangun keluarga cerdas dan bahagia. Hemmm… sama siapa yah? :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s