Setengah Biru Setengah Merah (Part 2 – habis)

Setengah Biru Setengah Merah (Part 2 – habis)

Sepertinya sejak awal orang tuaku masih ragu mengijinkan anaknya jadi jurnalis. Di kampusku, pemilihan jurusan dilakukan di tahun kedua. Maka di tahun pertama ini, bapak ibuku mengerahkan segala daya dan upaya agar aku tidak masuk jurusan jurnalistik. “Masuk Humas saja,” kata mereka.

Alasannya? Karena image jurnalis di benak mereka adalah orang yang pakaiannya tidak rapi dan harus ‘kasak kusuk’ cari berita. Mereka tak ingin anak kesayangannya bersusah-susah karena itu.

Sebagian wartawan mungkin ya begitu. Tapi senior-seniorku di Jurnalistik banyak yang cantik dan ganteng. Dan yang lebih menarik, mereka cerdas dan kharismatik, menurutku. Ah, aku sudah terlanjur berhasrat ingin berjaket biru, jurnalistik. [!]

Jaket merah bagiku, waktu itu, kurang sangar. Hehe :p
Ya, begitulah. Ternyata pribadiku seliar itu. Mungkin aku keturunan Prabu Siliwangi. #lho

Sampai seminggu sebelum penentuan jurusan, aku masih memilih biru. Tak sekalipun goyah. Hingga suatu saat aku mengingat sebuah pepatah Baginda Kesayanganku, katanya: “Ridhallahu waridha walidain”. Artinya, ridha Allah adalah ridhanya orang tua. Maka luluh lantak semua pertahanan. Baginda menyuruhku demikian. Yasudah, aku ikut saja.

Akhirnya aku berjaket merah. Siap ospek bernyanyi lagu Thunderation.
“Thunder.. thunder..
Thunderation
We are PR Generation
When we fight with determination
We created sensation”
Mantap.

Dua minggu setelah penyerahan berkas penjurusan, tiba-tiba dapet SMS dari Bapak.
“Nden, masuk jurnalistik aja.”
Deg!

Awalnya kuabaikan sms bapak. Tapi sejam kemudian ibu menelepon.
“Nden, terima SMS dari bapak?”
“Iya ada.”
“Terus gimana?”
“Ya nggak gimana-gimana. Gimana atuh da udah telat. Udah masuk humas.”
“Ya kan mungkin masih bisa diganti.”
“Nggak ah. Nggak usah. Males ngurusnya. Nggak bisa.”
“Perlu nggak ibu yang dateng ke kampus buat minta ganti jurusan?”

Deg! Ini maksudnya apaaaaa??? Segininya nyuruh pindah jurusan. Padahal berbulan-bulan lalu sampai harus berdebat di warung pulsa sambil nunggu hujan buat ngebahas penjurusan, maksa harus Humas. Di situlah saya merasa sedih.
Bang Ogi saksinya, aku ramisak di teras sekre Lises.

Akhirnya percakapan berakhir dengan pernyataan bahwa aku tetap di Humas. Meskipun bingung, “Ridhallahi wa ridha walidain”-nya gimana? Orang tua ridhanya ke mana? Akunya durhaka apa nggak? Jadi merah apa biru? Saat itu aku sempat berpikir untuk pindah jadi ungu. Haha.

Akhirnya, karena sejak awal masuk Fikom adalah pilihanku, maka aku akan terus dengan pilihanku. Pada akhirnya masuk Humas bukan lagi jadi keputusan siapa-siapa. Itu keputusanku. Selalu jadi keputusanku.

***

Kini ada dua warna di hidupku. Cangkangnya merah, tapi isinya tetap biru-mungkin dengan bauran sedikit merah. Dan ya, aku bisa jadi keduanya. Dan satu catatan, aku juga bisa jadi yang terbaik di keduanya.

Saat Ospek di tahun 2012, aku menjadi yang terbaik dalam penulisan artikel. Dan, aku peserta terbaik saat ospek jurusan. Well, red is in my blood now.

Tahun 2013, aku terpilih menjadi peserta pertukaran pelajar ke Amerika Serikat untuk program New Media and Journalism. Journalism, sodara-sodara. Dan aku jadi siswa terbaik juga pada program itu. And yes, blue is still in my blood as well.

Dan tebak, sekarang aku bekerja menjadi keduanya. Menjadi jurnalis dan humas di saat yang bersamaan. Kurasa ini yang Tuhan bisikkan kepadaku, bahwa aku harus menjadi merah dan biru sekaligus. Bukan ungu. Tapi merah dan biru. Mungkin setengah-setengah. Tapi keduanya ada padaku.

Ya. Aku suka itu.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s