Setengah Biru Setengah Merah (Part 1)

Setengah Biru Setengah Merah (Part 1)

Bagiku, hidup ini lucu juga. Kadang kita diajak untuk melakukan pencarian, bereksplorasi, membuat pembenaran, dan menentukan pilihan. Tapi ternyata, jawabannya ada di depan mata, di situ-situ juga. Mungkin tak semua orang mengalaminya, tapi itulah yang terjadi padaku.

Pernah kuceritakan padamu tentang hobi menulisku, pemilihan jurusan, dan apa yang kulakukan tentang ini dan itu. Tapi aku geli ingin menceritakannya kembali.

Sejak kecil sepertinya aku senang menulis. Waktu itu mungkin umurku masih 3 tahun. Kulihat bapakku yang seorang guru sedang mencoret-coret sesuatu dengan pulpen. Tahu lah, ya, tulisan bapak guru. Bagiku bentuknya seperti garis bergerigi, turun naik, kadang ada lengkungan yang lebih panjang ke atas dan ke bawah. Dan ada jarak antara gerigi yang satu dengan yang lainnya. Bapak menuliskannya dengan cepat. Aku suka.

Lalu kutiru gaya bapak, menulis bergerigi dengan lengkungan ke atas dan ke bawah, persis seperti yang dilakukan bapak. Entah menulis di buku apa waktu itu.

Kelakuanku ketahuan bapak. Ditanyanya, “Nuju naon?”
“Nuju nyerat,” jawabku.

Bapak mungkin iba melihat tulisanku yang aduhai itu. Caraku menulis ‘sok’ cepat sepertinya lucu waktu itu. Bapak lalu menawariku untuk belajar menulis. Aku setuju.

Entah bagaimana aku belajar, memoriku melompat ketika aku sudah bisa menulis. Aku lupa usia berapa. Yang kuingat, waktu itu sedang musim acara Tralala-Trilili di RCTI bersama Agnes Monica dan Indra Bekti. Masih ingat?

Aku masih ingat jelas. Sebab ketika aku sudah diajari menulis, aku menulis banyak hal. Aku menulis di mana-mana: di kertas, di buku, di lemari, di kaca, dan tentu saja di tembok. Dan nama Agnes Monica dan Indra Bekti-lah yang kutulis di tembok itu. Kira-kira tulisannya begini: “Tralala-trilili bersama Agnes Monica dan Indra Bekti.” Lalu kuhiasi awan-awan, bunga, bintang, dan burung-burung seperti angka 3 tidur.

Aku menulis apapun. Kutulis nama lengkap sepupu-sepupu dan om-tanteku di setiap buku yang kupunya, atau kertas kosong yang kujumpai. Aku punya buku khusus yang bersampul hard cover berukuran folio yang kuisi dengan nama-nama angkutan umum. Semuanya, mulai dari bis, mini bus, dan angkot. Kususun berdasarkan abjad.

Setiap kali berjalan-jalan dan menemukan nama angkutan baru, maka akan kuhapal lekat-lekat, kusebut namanya terus menerus, kuingat sampai pulang ke rumah, lalu menuliskannya di buku itu. Satu hal yang membuatku kecewa, kereta tak punya nama, tulisannya tidak ada.

Buku itu sekarang hilang entah ke mana.

Lalu ibu menggantinya dengan buku harian. Kata ibu, aku bisa menuliskan apapun di situ, dari mulai pengalaman, perasaan, atau apapun itu. Persis seperti yang kulakukan saat ini. Sayangnya aku terlalu sayang pada buku harian itu, sedikit saja kutulisi. Warnanya terlalu cantik dan lucu-lucu. Jadi, kusimpan saja jadi koleksi.

Di SMP, aku memulai debutku menjadi penulis betulan. Jadi jurnalis. Begitu syahdunya kata itu waktu itu. Jurnalis. Bukan mau sombong, tapi tulisanku dipuji Kang Buce, fotografer jurnalistik (lupa koran apa) yang cerdas luar biasa. Aku jadi semakin percaya diri dalam menulis. Tulisanku masuk juga ke koran lokal Ciamis, tak cuma di majalah sekolah. Banyak memori yang kusimpan selama meliput kesana kemari. Sangat berharga dan berpengaruh membentuk pemikiranku hingga saat ini. Maka saat itu kuputuskan, mungkin kelak aku akan jadi penulis.

Di SMA, meskipun sudah sangat jarang menulis, tapi cita-cita jadi penulis tak pernah padam. Aku ‘menghasut’ teman-teman agar mau mendorong sekolah untuk membuka jurusan bahasa, bukan hanya IPA dan IPS. Tapi sayang, kurang berhasil. Minimal pembukaan jurusan bahasa harus ada 20 orang yang mendaftar. Saat itu kurang 2 orang. Akhirnya aku masuk IPA.

Di kelas 3, aku bingung menentukan jurusan. IPA aku tak gairah. Sastra orang tua tak setuju. Maka kuserahkan perkara pemilihan jurusan pada ibuku saja. Terserah beliau anaknya mau jadi apa. Toh aku akan baik-baik saja dimanapun aku akan berada. Di jalur pertama, SNMPTN Undangan, ibuku memilihkan jurusan-jurusan yang fantastis: Ekonomi, Hubungan Internasional, Teknologi Pangan, Kedokteran Hewan, dan entah apalah aku sudah lupa. Dan semuanya gagal.

Aku tak kaget. Ibuku ketar ketir takut anaknya tak bisa kuliah. Nama baiknya dipertaruhkan.

Di jalur kedua, SNMPTN Tertulis, aku mendaftar dengan syarat: pilihan pertama aku yang tentukan, selanjutnya terserah ibu saja. Tanpa bilang-bilang, sudah ku’klik’ pilihan pertama. Pilihan selanjutnya pilihan ibu dan bapak.

Aku lebih berjuang keras untuk ujianku yang satu ini. Aku tak ingin tak masuk perguruan tinggi negeri, karena swasta mahal biayanya. Aku berterima kasih pada kakak kelasku Fauzan Ahdan yang bersedia jadi mentor belajar untuk ujian SNMPTN.

Kau tahu apa pilihan pertamaku? Ya, aku masih ingin jadi penulis. Aku ingin jadi jurnalis. Kupilih Ilmu Komunikasi. Dan… ya! Aku lolos dan diterima di Unpad. Aku sudah setengah siap jadi jurnalis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s