Kehidupan yang Telah Lama Berlalu

Kehidupan yang Telah Lama Berlalu

Hai!

Sudah lama sekali tak pernah bersua. Perlu kubersihkan sarang laba-laba bertambal-tambal di blogku ini. Sudah apak pula baunya, dan berantakan isinya. Beginilah jadinya jika ditengok sesekali saja dan ditaruh sembarangan benda-benda entah apa ke dalamnya.

Aku berkali-kali bertanya pada diriku sendiri, mau kuapakan hobi menulis yang dulu pernah melambungkan namaku ini? Kini, mengakuinya saja aku malu, sebab tak pantas rasanya kukatakan senang menulis tapi faktanya jarang sekali kulakukan. Beberapa hari yang lalu, aku berada di kampung halamanku untuk waktu yang lama. Mungkin yang terlama sejak empat tahun terakhir. Tetiba kuingat guru SMP-ku yang mengajariku menulis. Apa kabar beliau? Ingin rasanya kutemui, tapi masih belum enak hati. Aku belum jadi apa-apa.

Meninggalkan hobi yang satu ini seperti mengkhianati kerja keras yang telah mengantarkanku pada titik ini. Aku tak pernah mengingkari, menulis mengajarkan banyak hal. Entah apa yang akan terjadi bila dulu tak pernah kumulai menuliskan kata-kata di majalah sekolah. Liputan pertamaku, jelas kuingat, adalah ketika grup band Gigi tampil di kotaku. Meriah dan hingar-bingar sekali. Diantar oleh Bapak ke Alun-alun Ciamis, aku membawa buku catatan kecil dan sebatang pulpen. Gerimis turun sore itu, tapi ini adalah pertaruhan pertamaku mendapatkan berita.

Aku lupa bagaimana mulanya. Yang kuingat adalah, aku yang paling junior di sana. Rupanya belum ada rekan lain seangkatanku yang diajak meliput. Dasar junior, aku ditinggal sendirian oleh para seniorku yang sudah lebih berpengalaman. Aku masih malu-malu mewawancarai bapak polisi, sendirian dan kebasahan, sementara para senior mungkin sudah masuk ke back stage dan berfoto dengan Armand Maulana. Tapi hari itu aku senang, aku liputan. Li-pu-tan. Besoknya, kuantarkan dua lembar berita tentang konser Gigi ke tangan guruku untuk dimuat di majalah sekolah edisi bulan itu. Yeay, beritaku dimuat!

Kemudian mengalirlah tugas liputan demi liputan, tulisan demi tulisan, dan… voila! aku jadi ketua ekskul ini.

Sayangnya, ternyata aku tak mampu melanjutkan “karir” jurnalisku ini di SMA. SMA bagiku adalah masa senang-senang. Entahlah, tak banyak pelajaran yang kuingat selain lagu cacing di mata pelajaran Biologi. Lagu cacing yang kumaksud adalah lagu-lagu yang liriknya diganti dengan materi siklus hidup berbagai jenis cacing. Ajaibnya, aku ingat liriknya hingga sekarang. Karena apa? Karena itu bagian dari “senang-senang”. Sementara pelajaran lainnya hanya sebatas menghiasi buku catatan saja, nggak sampai ke otak😀 Demikian pula dengan kehidupan tulis-menulis… hilang saja seperti bunga dandelion tertiup angin.

Padahal, ketika tiba saatnya aku masuk kuliah, lagi-lagi aku diselamatkan oleh ingatanku bahwa aku pernah senang menulis. Setelah mendaftar ke kampus ini itu, mengambil jurusan sana-sini yang hebat-hebat, aku tak lolos di lapisan pertama: SNMPTN Undangan. Hey, aku tak terpukul, tapi mungkin ibuku yang ketar-ketir, was-was kalau anaknya tak bisa mencicipi bangku kuliah. Ya, efek terlalu bersenang-senang di SMA. Lalu di tahap selanjutnya, kudaftarkan diri di jurusan Ilmu Komunikasi Unpad, dan ya, diterima. Mungkin memang sudah seharusnya aku kembali rajin menulis.

Tapi ternyata tak semudah itu. Sejak masuk kuliah, aku bercita-cita akan mengambil peminatan jurnalistik. Jelas, karena aku pernah jadi jurnalis, lebih awal daripada teman-temanku yang lain. Maka dengan mantap memutuskan akan masuk geng jurnalistik di tahun kedua nanti. Salah satu dosenku berhasil merasuki pikiranku, bahwa jurusan jurnalistik itu seperti Gryffindor, sang pemberani. Hey, Harry Potter adalah favoritku, dan jelas aku akan menjadi Gryffindor. Dan Humas adalah Slytherin yang jelas aku tak suka sebab aku tak suka Malfoy dan Snape (Saat itu, edisi ketujuh belum keluar).

Semua berubah ketika orang tua saya berkali-kali menyuruh saya masuk Humas. Katanya, nggak tega liat nden kasak-kusuk cari berita. Lalu selama ini apa?

Karena sudah bosan berdebat dengan orang tua masalah pemilihan jurusan ini, maka akhirnya aku mengalah dan memutuskan untuk menjadi Slytherin (in the end, aku bangga menjadi slytherin karena Snape ternyata seorang  pahlawan. Yeah! :D). Kukumpulkan formulir penjurusan ke bagian akademik. Guess what? Dua minggu setelah itu, orang tuaku menelpon, membujukku agar memilih Jurnalistik. Hey, apa-apaan ini?

And here I am now, lulus dari jurusan Humas, di Fikom Unpad, kampus terbaik se-Indonesia Raya.

Ini sebenernya isi tulisannya agak nggak nyambung dengan judulnya. Tapi tak mengapa, namanya juga latihan lagi kembali menulis. Maaf ya, Yang Baca :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s