Constructing Meaning

Constructing Meaning

Sepertinya saya punya masalah dengan perkara memaknai. Atau pada tataran konstruksi makna itu sendiri. Padahal skripsi saya jelas tentang makna. (YA, sekarang Anda bisa meragukan isi skripsi saya).

Perkara makna memang tak mudah meskipun bisa dipelajari. Makna berasal dari konstruksi tanda-tanda yang ditafsirkan. Bagiku, hal yang paling sulit adalah menafsirkan tanda-tanda pada manusia. Sebagai seorang yang memiliki kepribadian ENFP, tak mudah bagiku untuk bisa menilai dan menentukan apa dan bagaimana terhadap sesuatu. Bisa dibilang, saya adalah decision maker yang buruk. Karena logika kalah dengan perasaan. Perasaan (Biar jelas). Terkadang antara realita yang terjadi dengan ekspektasi yang kita bangun sendiri bisa jadi bias, tak jelas mana batasnya.

Suatu hari aku bertemu dengan pria yang kusuka sejak SMA. Pertemuan kami memang timbul tenggelam, baik secara nyata maupun virtual. Secara fisik kami berjauhan. Jauh sekali. Tapi bagiku rasa suka itu tak pernah luntur hanya karena jarak. Tapi tetap saja, logika pun harus bekerja. Kupikir, tak ada gunanya menyukai orang yang tak bisa kuajak bersama. Maka kuputuskan untuk berpikir realistis untuk tidak lagi menyukainya. Kuyakinkan diri sendiri (atau membohongi…?) bahwa perasaan itu hanya sesaat saja, tidak nyata, dan tak perlu diteruskan.

Tapi ya begitulah. Bagaimanapun kuatnya usahaku untuk membuat keadaannya menjadi biasa saja, akan runtuh seketika hanya karena sebuah kata “heii” melalui SMS atau chatting darinya. (Dan ya, dia tidak tahu mengenai perkara tembok pertahanan yang jebol tambal ini). Meskipun sudah sempat menjalin hubungan dengan pria lain, tetap saja, laki-laki yang satu ini tak pernah bisa tergantikan. (Ya, ini memang membahayakan).

Maka ketika pada akhirnya setelah sekian tahun tak bertemu, pertemuan beberapa waktu lalu menjadi sangat berarti. Tak bisa kubohongi, bahwa sang perasaan yang mahakuat itu masih ada. Tapi realita tidak menunjukkan adanya tanda-tanda yang bisa dimaknai sebagai lampu hijau, konfirmasi. Tetapi perasaan selalu memberikan penyangkalan dan asumsi-asumsi lain yang seolah bisa dibenarkan.

Biasnya logika dan naluri dalam kondisi ini memang menyulitkan. Pada akhirnya kita membuat kesulitan kita sendiri dengan menjawab ya dan tidak secara bersamaan. Tak jarang terjadi inkonsistensi pada perilaku. Di suatu saat bisa jadi logika yang mengontrol perilaku, dan naluri bisa mengambil alih di saat yg lain pada kondisi yang sama. Alih-alih mendapat penjelasan, siapapun akan bingung menghadapi perilaku kita (atau saya) yang tak konsisten ini. Ya, begitulah.

Hal inipun berlaku pada proses pemaknaan. Suatu saat logika kita bisa memberikan makna tertentu pada tanda-tanda yg diberikan. Tapi dalam kondisi ini, seringkali naluri mengarahkan kita perspektif lain yang membuat makna menjadi bias, tak jelas, membingungkan, tapi bisa jadi benar.

Ini saya doang yang begini apa yang lain juga ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s