Ber-qurban, Berkorban, dan Makna Kehidupan

Ber-qurban, Berkorban, dan Makna Kehidupan

Hari ini Idul Adha, hari raya, hari qurban.

Sebagaimana agama yang saya anut, hari ini semua umat Muslim yang mampu wajib melaksanakan qurban, yakni menyembelih hewan tertentu dalam rangka melaksanakan salah satu ibadah.

Ini bukan pertama kalinya saya melihat secara langsung proses penyembelihan hewan qurban. Tetapi di umur saya saat ini, baru pertama kalinya saya merasa menemukan makna ber-qurban. Melihat proses penyembelihan hewan qurban tadi siang, pada hakikatnya kita sedang berhadapan dengan tujuan untuk apa kita dilahirkan.

Makna ini tentu subjektif. Sebagaimana proses signifikansi dalam menemukan makna menurut Charles Sanders Peirce, seorang ahli semiotika, makna akan terikat pada kognisi dan latar belakang budaya. Orang ilmu komunikasi tentu mengenal istilah frame of refference dan field of experience. Ahli ilmu budaya atau antropologi tentu mengaitkan pemaknaan saya ini dengan berbagai teori cultural studies, sementara para rohaniawan akan mengaitkan ini dengan konsep-konsep religius yang membawa makhluk Tuhan pada penemuannya akan hidayah atau jalan terang.

Sedari kecil kognisi yang saya terima tentang hari raya qurban adalah sejarah yang melatarbelakangi kenapa umat Muslim harus melaksanakan qurban. Menurut Al-Quran, peristiwa hari qurban adalah refleksi dari peristiwa pengujian Tuhan pada Nabi Ibrahim. Betapa Nabi Ibrahim begitu taat pada tuhannya sehingga saat ia diperintahkan untuk menyerahkan putra yang sangat dikasihinya, dengan ikhlas ia melaksanakannya. Sebagai hadiah atas ketaatannya, maka Allah menukar Ismail, sang putra, dengan seekor kambing, menyelamatkannya dari kematian.

Konsep keikhlasan bagi saya bukan hal yang baru, sebab konsep-konsep itu telah diajarkan sejak kecil, berkali-kali dalam setiap kesempatan, di sekolah, di pengajian, di rumah, bahkan di lingkungan permainan. Konsep keikhlasan yang diajarkan selama ini berasumsi bahwa selalu ada saat di mana manusia harus merelakan apa yang diinginkan dan disukainya untuk dilepaskan tanpa mengharapkan balasan. Faktanya, bersikap ikhlas tidak semudah mengucapkannya.

Konsep keikhlasan nyatanya tidak berdiri sendirian pada konteks ber-qurban ini. Makna ikhlas, merujuk pada model signifikansi Peirce, berada pada tataran keketigaan di tahap interpretasi. Menurut kognisi yang diajarkan selama ini, ikhlas adalah makna akhir yang harus dicapai oleh umat manusia pada saat melaksanakan qurban. Tetapi sebelum menemukan makna ikhlas, ada serangkaian proses yang secara otomatis akan dijalani, tidak hanya untuk manusia tetapi juga untuk makhluk Tuhan lainnya. Toh Tuhan tidak menciptakan hari qurban untuk manusia saja, tetapi juga untuk seluruh makhluk hidup, sebagaimana kitab suci dan para rasul diturunkan untuk menerangi semesta alam.

Pada saat qurban, hewan qurban pun turut ber-qurban. Hewan qurban menerima dengan ikhlas apa yang telah ditakdirkan padanya. Karena tidak semua hewan ‘ikhlas’ dijadikan hewan qurban (sepertinya). Tulisan ini pun lahir berkat keikhlasan hewan qurban yang tadi siang disembelih. Saya menyaksikan sendiri, bagaimana hewan itu meregang nyawa, menunaikan titah tuhannya untuk menebar manfaat bagi manusia, manfaat dunia dan manfaat akhirat. Mengingatnya, membuatku bercucuran air mata. Betapa hewan yang yang derajatnya lebih rendah dari manusia itu telah lebih dulu dan lebih sempurna dalam menjalani keikhlasan dibanding saya, manusia.

Saya belajar dari hewan qurban tadi tentang keikhlasan dalam menunaikan titah Tuhan. Bahwa setiap makhluk hidup diciptakan dengan sebuah tujuan. Hewan qurban, seperti sapi, kambing, atau unta, (mungkin) diciptakan dengan tujuan untuk disembelih, dengan begitu ia dapat menebar manfaat bagi makhluk Tuhan lainnya. Tentu tak semua hewan itu hadir di dunia dititahi Tuhan untuk menjadi hewan sembelihan, sebagaimana sapi tak semuanya diciptakan untuk diperah susunya (pun tak semuanya mati dengan cara disembelih). Semut diciptakan tidak hanya untuk memberi pelajaran pada manusia (sebaagaimana yang dikatakan Al-Quran), tetapi juga (mungkin) untuk menyembuhkan manusia dari berbagai penyakit. Debu tidak hanya diciptakan agar manusia mengenal mana bersih dan mana kotor, tetapi beberapa juga diciptakan untuk menyempurnakan ibadah manusia ketika tidak menemukan air untuk bersuci.

Lalu apa tujuan hidupmu? Tujuan hidupku? Apa manfaatku bagi semesta? Dan bisakah aku seikhlas hewan qurban–yang baru saja kumakan dagingnya–dalam menjalani titah Tuhan itu? Aku ada untuk satu tujuan tertentu. Aku percaya, bahwa aku tidak lahir dengan sia-sia. Lebih jauh, aku tidak ingin lahir dengan kesia-siaan, dan mati dengan penyesalan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s