Realitas atau Media yang Mengonstruksi? (Another Irony)

Realitas atau Media yang Mengonstruksi? (Another Irony)

Pertanyaan ini harusnya sudah bisa saya jawab di kelas, di berbagai perkuliahan atau sebatas ruang diskusi bersama kawan sejawat. Mana yang benar, media yang mengonstruksi realitas atau realitas yang membangun media? Ini seperti menjawab mana yang duluan diciptakan Tuhan, ayam atau telur?

Di perkuliahan yang saya terima di kelas, dijelaskan bahwa media berperan dalam membangun realitas, dengan agenda setting theory atau cultivation theory, atau apalah itu namanya. Terkadang saya berpikir dari mana media dapat mengonstruksi realitas jika tidak ada realitas? (Ah, maafkan jika pikiran ini masih muncul gara-gara mungkin di kelas kurang memperhatikan. Comments are appreciated).

Tapi lihatlah ini:

image

image

image

image

image

image

Gambar-gambar di atas adalah sedikit dari banyak meme yang tersebar di new media tentang fenomena mencontek di kalangan siswa pada saat ujian. Gambar-gambar tersebut diambil dari akun media sosial Instagram yang memiliki lebih dari 200.000-500.000 pengikut yang sebagian besar berusia muda (16-25 tahun). Gambar tersebut pun disukai oleh sedikitnya 3000 akun, bahkan ada yang disukai oleh hingga 75.000 akun.

Jika dilihat sekilas saja, gambar tersebut mungkin hanya dijadikan sebatas hiburan di media sosial yang mengundang tawa dan perhatian pengikutnya. Tetapi munculnya gambar tersebut secara tidak langsung telah menunjukkan fenomena yang sungguh terjadi di masyarakat. Dan dilihat dari jumlah penyuka gambar, hal tersebut menunjukkan jumlah orang yang setuju dengan apa yang disampaikan oleh pemilik akun melalui gambar tersebut.

Kita semua mengetahui bahwa mencontek ketika ujian adalah sesuatu hal yang melanggar etika. Di kampus saya diajarkan bahwa mencontek merupakan kegiatan plagiarisme. Dan plagiarisme ditentang keras, tidak hanya oleh kampus, tetapi juga oleh Undang Undang di negara ini. Sejak kecil pun saya diajarkan, baik di sekolah maupun di keluarga, bahwa mencontek adalah perilaku yang sangat tercela dan tidak boleh dilakukan. Mencontek sama saja dengan mencuri, begitu prinsipnya.

Dengan adanya gambar-gambar tersebut di media sosial, dengan gaya lelucon dan seolah-olah itu adalah fenomena yang lumrah dan “ya-udah-lah-ya”, apakah itu realitas yang dikonstruksi media? Bahwa mencontek adalah perilaku yang lumrah? Dan apakah kelumrahan itu dimaafkan? Diabaikkan?

Bukankah seharusnya media pun memiliki tanggung jawab sosial untuk memberikan pendidikan yang baik bagi masyarakat, khalayaknya?

Saat ini kita melumrahkan perilaku mencontek. Tunggulah beberapa tahun lagi, apakah kita akan melumrahkan perilaku korupsi?

Hemm. Jadi bagaimana? Siapa mengonstruksi dan siapa yang dikonstruksi?

*Yes, I know, this article is very rude and rough. Critics and comments are appreciated.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s