Negeri Ironi

Negeri Ironi

Saya terhenyak saat membaca artikel yang dibuat oleh warga negara asing yang beberapa bulan tinggal di Indonesia. Artikel tersebut booming di media sosial, disalin-tempel di berbagai grup obrolan. Efeknya, ada yang mendukung dan ada yang menyalahkan.

Artikel itu berisi tentang pandangan dan pengalaman WNA tersebut selama berada di Indonesia. Ia mengkritisi pola pemikiran masyarakat yang melulu menghujat pemerintahan. Akhir-akhir ini, situasi di Indonesia memang sedang kacau balau. Harga bahan pokok melonjak, rupiah melemah sampai angka Rp13.000 per USD, harga BBM naik turun karena menggunakan sistem kebijakan pasar, ada kisruh politisasi APBD di DPRD DKI Jakarta, para koruptor malah diberi remisi hukuman, dan adanya putusan praperadilan MA untuk kasus korupsi malah berbuntut panjang karena Mahkamah Agung, lembaga peradilan yang (seharusnya) paling adil, tak kunjung tegas hitam dan putihnya.

Menyikapi hal tersebut, berbagai pihak banyak yang melayangkan protes terhadap pemerintahan presiden saat ini, Jokowi. Bahkan para mahasiswa pada akhirnya turun ke ‘jalan’ untuk menyerukan ‘Rapor Merah Jokowi’. Situasi semakin memanas.

Membaca artikel dari WNA tadi semakin menguatkan opini saya, karena pada dasarnya saya telah menyuarakan hal yang sama sedari bertahun-tahun lalu, tentang bagaimanapun orang-orang berteriak menyerapahi pemerintah. Nyatanya masyarakat kita memang belum siap menerima globalisasi. Kalau boleh saya berkata sedikit sarkastik, saya ingin bilang bahwa masyarakat kita masih ‘primitif’.

Sedikit ingin saya kutip tulisan dari WNA tersebut:

I feel so saddened. I feel frustrated. Our society, our people, my people, your people, we don’t understand even the very basic rules: You put the trash in a trashcan. If you can’t find a trashcan, it’s not going to hurt you to carry your trash until you find one. You follow the way the traffic goes, you don’t drive your motorbike in the opposite direction when everyone goes one way. You don’t drive your motorbike at the sidewalk – that’s not for motorbikes, but I’m sure it’s very hard to understand. It’s rocket science. And if you got killed in an accident as a result of your moronic act, at least we finally come to understand that stupidity literally kills. Although in some place there is no written rule, you don’t smoke in a public restaurant or in a public space: there are babies, kids, and pregnant women there. Walking a little bit further from a public space to smoke is better than having everyone inhales your selfishness. You form a line by going to the back of a person in front of you or if you happen to be the first person there, stand in the line behind the counter. No, you don’t form a line by standing on the left or right of the first person, that will only create anger since it’s never clear who gets there earlier than who. And no, being an hour late is not funny anymore. It’s pathetic.

 see too many Indonesians don’t understand (or understand but refuse to do) those basic rules, and yet we dream of a new Indonesia: a free-corruption country. Tell me how do we stop corruption at a national level when we can’t even stop ourselves from smoking in front of kids? How do we stop corruption when we can’t even stop throwing trash out the street from the windows of our expensive cars? How do we stop corruption when we can’t even stop people who drive the opposite way? There is a reason why Indonesia is called a developing country: because our character is still being developed. We can put someone as honest as Mahatma Gandhi to be the president of Indonesia, but if we keep our character the way it is right now, not even Gandhi can make a change. Indonesia, I say this out of love. Let’s not fool ourselves. We’re a broken car.

Tak perlu munafik, setelah membaca penggalan artikel itu, dalam hati serta merta kita pasti membenarkan tulisan tersebut. Bahkan bukan tidak mungkin kitalah yang menjadi salah satunya. Silakan ingat-ingat, seringkah Anda membuang bungkus permen sembarangan? Meskipun kecil, tetap saja itu adalah sampah. Anda yang perokok, seberapa sering Anda membuang puntung rokok pada tempat sampah? Saya tak begitu yakin, sebab kebanyakan orang berpikir itu bukan sampah, bukan begitu? Hey, bahkan merokok pun bagi saya sudah sangat ‘sampah’.

Ah, lagi. Anda yang mahasiswa, yang katanya punya ideologi, yang sering turun ke jalan berkoar-koar membela kepentingan rakyat, menuntut agar keadilan ditegakkan dan korupsi diberantas, sudah sejujur apa Anda dalam melakukan ujian? Kalau masih nyontek, sama saja Anda menjilati ludah sendiri. Bahkan mereka yang mencontek, seolah-olah tak berdosa, bangga punya IPK tinggi hasil nyontek. Sampah (lagi).

Dan pada siapapun di luar sana yang mencak-mencak menyumpahi fasilitas umum yang tak layak, sekali lagi, sudahkah kita tertib dan disiplin? Anda menertawakan mereka yang berebutan jabatan, ah sama, Anda pun sering berebutan kalau mau naik kereta atau Transjakarta.

Tak perlu mengeluh jika mengantre saja kita tak tahu aturan, memberhentikan angkot di tempat yang salah, menyeberang sesuka hati, menerobos lampu merah, berkendara melawan arus, parkir seenak udel, tidak memberi tempat pada wanita hamil di bis atau kereta, membiarkan ibu tua tak kebagian tempat duduk, tidak menyimpan troley pada tempatnya setelah belanja, atau… tidak menyiram toilet setelah dipakai. Oh, tolong…

Anda yang mengeluh menderita karena banjir… ya sudah lah. Semua orang sudah tahu penyebab masalahnya tapi masih pura-pura bodoh.

Hmm. Mungkin Anda ingin tahu bagaimana orang-orang beradab di luar sana berperilaku? Jika Anda berkenan, saya ingin bercerita.

Dua tahun lalu saya berkesempatan tinggal di Amerika Serikat selama 5 minggu, tepatnya di Muncie, Indiana. Negeri ini adalah tanah harapan, di mana semua orang berbondong-bondong ingin pergi kesana, sekaligus (oleh orang-orang di negeri kita) dikambinghitamkan karena dinilai terlalu ‘sok berkuasa’ dan menyebabkan kekacauan di berbagai belahan dunia.  Tapi siapapun harus mengakui, bahwa negara yang maju dibentuk oleh masyarakat yang beradab. Di sanalah saya benar-benar melihat bagaimana gaya hidup Amerika yang katanya begini dan begitu dan belajar bagaimana menjadi manusia yang sedikit lebih… beradab.

Di salah satu sudut kota, terdapat sebuah lampu stopan (lampu merah) yang jika kita hendak menyeberang, maka kita harus menekan tombolnya agar kendaraan yang melintas bisa berhenti. Kita baru boleh menyeberang jika tanda menyeberang sudah menyala. Semua orang di sana menepati itu. Meskipun tidak ada kendaraan melintas, mereka yang hendak menyeberang tetap menunggu sampai tandanya menyala. Bandingkan dengan di Indonesia di mana orang seringkali menyeberang sembarangan. Ketika sudah terjadi kecelakaan, malah si pengendara yang disalahkan. :’)

Masih soal menyeberang jalan. Suatu hari saya sendirian hendak menyeberang (saat itu bukan di persimpangan, tidak ada lampu merah). Jalanan relatif sepi tetapi dari jauh terlihat sebuah mobil melaju dengan kencang. Otomatis, saya berdiri dahulu di pinggir jalan, menunggu mobil itu melintas. Itu normal. Tapi yang membuat saya terkesima adalah ketika mobil yang melaju kencang itu malah berhenti dan mempersilakan saya untuk menyeberang. Hey, itu mengesankan. Kalau di Indonesia… ya begitu lah.

Kali ini soal antrian. Suatu hari saya hendak makan siang di restoran cepat saji di Kentucky. Saya masih berdiri melihat-lihat menu yang tertera di papan. Tiba-tiba di belakang saya seorang anak kecil bertanya, apakah saya sedang mengantri. Setelah saya jawab tidak, dia meminta ijin untuk mengantri di depan saya. Lihat, what a polite! Hal yang sama terjadi di sebuah taman saat sedang perayaan musim panas. Kala itu saya sedang melihat sebuah permainan untuk anak kecil. Dan lagi-lagi seorang anak kecil bertanya hal yang sama, dan meminta ijin untuk mengantri duluan. Bayangkan, anak kecil saja sudah paham budaya antri. Kalau di Indonesia, orang jelas-jelas sedang mengantri pun bisa diserobot (ibu-ibu mana suaranyaaa..?).

Di sana, saya juga berkesempatan untuk melihat perayaan hari kemerdekaan Amerika Serikat yang jatuh pada tanggal 4 Juli. Pada perayaan tersebut, ratusan orang akan berkumpul di lapangan untuk menyaksikan pesta kembang api. Mereka mengajak keluarga untuk berpiknik bersama dengan membawa bekal makanan. Saya pun pergi bersama teman-teman ke tempat bernama Minetrista Cultural Center. Seusai pesta kembang api, maka semuanya bersiap pulang. Dan, hey, tidak ada seorangpun yang menyisakan sampah. Semua orang sudah menyadari pentingnya kebersihan dan menjaga lingkungan. Kalau di kita, sampah menggunung sudah pasti terjadi.

Demikian pula ketika saya makan di kantin. Di sana, kita melayani diri kita sendiri: mengambil pesanan sendiri, menyeduh kopi sendiri, membayar, dan setelah selesai kita harus membersihkan meja kita sendiri serta membuang sampah sisa makanan kita ke tempat sampah. Dan jangan lupa untuk dipilah antara sampah organik dan anorganik.

Begitu juga dengan mengisi bahan bakar di pom bensin. Kita harus mengisi bahan bakar sendiri, lalu membayar sendiri dengan menggunakan kartu. Di supermarket, setelah berbelanja kita harus menyimpan sendiri troley belanja seusai digunakan.

Satu lagi. Suatu hari saya berbincang-bincang dengan orang tua asuh saya tentang Indonesia. Mereka terkejut ketika saya mengatakan bahwa kebanyakan orang kaya di Indonesia menggunakan supir pribadi untuk mengantar mereka ke mana-mana. Memang, di Amerika sana tidak lazim menggunakan supir pribadi. Kebetulan saya berkesempatan bertemu dengan Walikota Muncie. Dan, ya, dia pun tidak menggunakan supir pribadi. Bahkan ia memarkirkan mobilnya di tempat yang sama dengan masyarakat, bukan di tempat VIP seperti pejabat kita.

Lucunya, di negara kita yang masih merangkak menuju kesejahteraan ini, segala sesuatunya minta dilayani. Setelah selesai makan, akan ada yang membersihkan meja kita. Ada supir yang akan mengantar kita ke mana-mana. Ada petugas yang menyimpankan troley belanja ke tempatnya. Ada petugas yang mengisikan bensin kita sambil tersenyum ramah. Ada pemulung atau petugas kebersihan yang akan memunguti sampah-sampah setelah selesai konser atau bahkan beribadah. Setelah semua itu, tetap saja pengangguran masih meraja lela. Terkadang saya berpikir bahwa kita ini terlalu… manja.

Ah, kita masih harus banyak belajar rupanya. Perubahan memang tidak akan terjadi dalam sekejap. Tapi entah kapan perubahan itu akan terjadi jika itu tak pernah dimulai. Yuk mulai!

Note: tulisan WNA tersebut dapat dibaca di indonesiamengglobal.com

2 thoughts on “Negeri Ironi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s