Tentang Anjuran Pensiun Dini

Tentang Anjuran Pensiun Dini

Ada yang baru lagi tentang fenomena magang di instansi pemerintahan. Penulis belum melakukan riset mendalam dalam tulisan ini sehingga hanya sebatas opini mentah saja.

Ini tentang kebijakan anjuran pensiun dini bagi PNS yang tidak produktif di lingkungan pemerintahan. Isu kebijakan ini dikeluarkan oleh presiden terpilih kita, Pak Jokowi. Dalam beberapa lansiran di media massa, dikatakan bahwa PNS yang tidak produktif disarankan mengajukan pensiun dini, jika tidak, ya dipensiunkan. Begitu singkatnya. Alasannya untuk mengurangi beban negara.

Alasannya memang rasional sebab pengeluaran untuk gaji PNS memang cukup besar, tak hanya gaji tetapi juga tunjangan fungsional lainnya. Terlepas dari apakah Pak Jokowi sudah mempertimbangkan kebutuhan sumber daya manusia di pemerintahan atau belum, pengurangan jumlah PNS ini dinilai baik juga untuk menghemat anggaran belanja negara.

Tapi coba bayangkan apa pendapat PNS tentang aturan itu? Apakah mereka protes? Kecewa? Atau bagaimana?

Lucunya, ketika para PNS di kantor tempat saya magang membaca berita tentang kebijakan itu di koran pagi ini, alih-alih kecewa dan protes, mereka malah bersyukur dan gembira. Seolah ada harapan yang akan terwujud, cita-cita yang sebentar lagi akan tercapai. Mereka berharap merekalah yang mendapatkan pensiun dini itu. Lho?

Awalnya saya kira beliau-beliau ini akan berkomentar negatif tentang kebijakan itu. Terang saja, sebab itu berarti akan ada jabatan yang lepas, ada pekerjaan yang hilang. Idealnya, mereka yang menjadi objek kebijakan ini merasa kecewa karena pekerjaan yang menjadi sumber penghasilan mereka bisa dicabut. Tapi ini kok malah senang dan berharap merekalah yang terkena pensiun dini?

Apakah mereka merasa dirinya tidak produktif? Apakah mereka tidak puas atau bosan dengan pekerjaan mereka? Atau hanya sarkasme semata?

Asumsi saya lebih berat pada opsi kedua, bahwa ada ketidakpuasan atas pekerjaan dalam diri mereka. Pertanyaan selanjutnya adalah: mengapa? Terlalu membosankankah? Melelahkan? Faktor lingkungan kerja? Atau tidak sebanding antara pekerjaan yang dilakukan dengan penghasilan yang diterima?

Sesaat setelah membaca berita di koran itu, mereka lantas berangan-angan tentang apa yang akan dilakukan jika mereka pensiun dini. Ada yang berencana membuka usaha, membuat kontrakan, sampai….. menikah lagi.

“Mending pensiun dini, umur masih muda, nggak kerja, tapi dapet tunjangan. Tinggal bikin kontrakan 30 kamar, cukup lah,” begitu kurang lebih celotehan mereka sambil tertawa.

Itu hanya sekadar obrolan ringan di sela-sela pekerjaan. Saya pikir, tentu mereka tidak bersungguh-sungguh menginginkan pensiun dini. Menjadi PNS sekarang ini sulit, seleksinya diperketat untuk menyaring sumber daya yang berpotensi. Sungguh terlalu jika pensiun dini justru menjadi harpan mereka di saat mereka seharusnya tengah menjalankan kewajiban mereka sebagai abdi negara.

Sebelum mendaftar jadi PNS tentu mereka sudah tahu resiko pekerjaan mereka. Kalau untuk pensiun dini lantas untuk apa daftar jadi PNS? Jika sebatas untuk mendapat tunjangan hidup di hari tua, terlalu menyedihkan bukan?

Bercanda boleh saja. Toh hidup ini sudah penuh dengan sarkasme. Ini hanya celotehan para pegawai sesama PNS di sela-sela pekerjaan. Toh saya juga tidak nelihat bagaimana tanggapan PNS-PNS lain di luar sana. Orang tua saya pun PNS, masa iya ingin pensiun dini di saat saya dan adik masih mengenyam pendidikan?

Masih banyak PNS produktif di luar sana yang berjibaku mengabdi pada negara.

Lalalalala… ~ Indonesiaaaa… ~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s