Pelajaran dari Sebatang Pohon Pisang

Pelajaran dari Sebatang Pohon Pisang

Ini adalah kisah yang diceritakan guruku di SMA. Sampai sekarang tak pernah kulupa. Maka hari ini, kutulis agar kita sama-sama menyelami tujuan hidup kita, belajar dari sebatang pohon pisang.

Tentu kau tahu bagaimana bentuk pohon pisang, berserat dan rapuh. Roboh dengan sekali tebas. Demikian pula daunnya, mudah sobek seketika tertiup angin kencang. Seolah tak ada yang istimewa.

Kau pun pasti tahu bagaimana tumbuh. Bertunas, lalu berbunga, berbuah, dan lalu mati.

Mari kuceritakan tentang pelajaran hidup dari sebatang pohon pisang nan sederhana ini.

Bermula ketika ia bertunas, pohon pisang mulai tumbuh dari kuncup-kuncup kecil mengitari induknya. Lama-kelamaan, ia tumbuh, kira-kira setinggi pinggang manusia dewasa. Pada masa inilah ia harus dipindahkan. Ia harus bertahan hidup sendiri, terpisah dari induknya agar tak membebani sang induk dalam memperoleh makanan. Dari sinilah perjuangan hidupnya akan dimulai.

Sejak itu, ia harus mempertahankan hidupnya sendiri. Apakah kita menyiraminya setiap hari? Tidak, bukan? Ia mencari makanannya sendiri.

Seiring waktu berjalan, ia tumbuh semakin besar, semakin tinggi. Angin yang berhembus semakin kencang nyaris merobohkan tubuhnya. Bahkan sang angin merobekkan dedaunannya. Apakah ia lantas mati? Tidak. Bahkan saat kita dengan sengaja memangkas daunnya untuk keperluan memasak, atau sekadar membuat kerajinan tangan, sang pohon pisang membiarkannya. Apakah ia lantas mati karena kehilangan daun? Tidak. Ia bertahan.

Lama kelamaan, ia berbunga, pertanda buah yang ranum akan segera tiba. Tapi banyak ulat yang datang menghampiri. Ulat-ulat yang butuh makan, mencari perlindungan. Maka si pohon pisang dengan sabar mempersilakan sang ulat memakan sebagian daunnya, dan memberinya di gulungan daunnya. Apakah si pohon pisang mati? Tidak. Ia bertahan.

Lalu tiba saatnya ia bertunas, melahirkan generasi-generasi baru yang akan meneruskan hidupnya. Dinaunginya tunas-tunas itu hingga siap menopang hidup sendiri. Hingga siap pula ia berpisah dengan sang anak. Ketika si tunas pergi, apakah ia lantas lemah dan mati? Tidak. Ia terus hidup dan tumbuh.

Sampai tiba saatnya ia berbuah, memberikan manfaat tertinggi bagi semesta. Bagi manusia pemakan segala, atau kera dan kelelawar pecinta kelezatan buah-buahan manis. Ketika saat ini tiba, maka tunai sudah kewajibannya menjalankan titah Tuhannya. Pada saat inilah, ia sudah siap mati dan ditebang.

Ia telah menemukan tujuan hidupnya: menjalankan titah Tuhan, memberi manfaat bagi semesta.

Apa tujuan hidupmu? Sudah setegar apa kau dalam mencapainya? Jika kau rapuh di tengah jalan, tak kuat menghadapi terpaan cobaan, maka ingatlah sebatang pohon pisang.

*perkara hanya mengingat pohonnya atau sekaligus memakan buahnya, itu terserah kau saja :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s