Akibat Lupa Bersyukur: Memaknai Kehilangan

Akibat Lupa Bersyukur: Memaknai Kehilangan

Manusia adalah tempatnya salah dan lupa, katanya. Tapi bukan berarti itu menjadi sebuah pemakluman bagi kesalahan yang kita lakukan. Sudah jelas, Tuhan telah memberi kita pedoman yang harus kita jalankan. Perkara lupa, ya itu salah saya. Lupa, dan salah.

Maka ketika itu terjadi, Tuhan akan memberi sedikit sentilan pada hamba-Nya yang pelupa itu, ya aku ini.

A couple weeks ago, I lost my precious iPad mini in the bus. I almost cried. Perkaranya bukan kehilangan iPadnya, bukan pula masalah data-data di dalamnya. Tapi ada kenangan luar biasa tersimpan dalam gadget canggih mirip talenan itu.

Aku mendapatnya gratis. Sekali lagi, gratis. Biar lebih dramatis, sekali lagi, iPad mini gratis. Ya aku tahu, tak semua orang bisa mendapatkan gadget mahal itu secara cuma-cuma. Apalagi orang macam aku ini, tak pernah terpikir sekalipun sebelumnya bisa memiliki produk keluaran perusahaan elektronik kelas dunia itu. iPad mini itu kudapatkan saat menjadi peserta pertukaran pelajar ke Amerika Serikat setahun yang lalu. Itulah yang menjadi kekesalanku saat itu. Manusia macam aku ini belum tentu bisa menginjakkan kaki lagi di negara adidaya itu. Dan iPad itu adalah saksi bisu perjalananku di sana hingga mendapat predikat best student.

Ah. Manis.
Tapi kuhilangkan begitu saja.

Suatu hari saat menaiki bis kota di Bandung, Tuhan mengambil kembali iPad itu dari tanganku. Ya, Tuhan memberikannya begitu saja. Maka ia pun berhak mengambilnya begitu saja. Begitu saja. Sekali lagi (biar lebih dramatis kayak di iklan kulit manggis), begitu saja.

Tentu takkan ada akibat jika tak ada sebab. Perkara aku kurang hati-hati dalam menjaga barang adalah sebab luarnya saja. Kulitnya saja. Tapi setelah kurenungkan mendalam, aku tahu kini sebabnya.

iPad Mini itu diberikan pada kami, para peserta program pertukaran pelajar, untuk digunakan sebagai media belajar. Di sana, kami mempelajari tentang New Media and Journalism. Para dosen kami di sana, jelas sekali, berpesan pada kami, lebih tepatnya mengamanahi, saat menyerahkan benda itu, “use it journalistically.” Untuk itulah kami diberi fasilitas tersebut secara cuma-cuma dan boleh dibawa pulang.

Hey, lihatlah ketika aku sampai di Indonesia. Beberapa minggu pertama, masih kugunakan benda itu dengan benar sesuai tujuan. Lama kelamaan, iPad itu hanya kugunakan untuk main game saja: Hayday is my favorite. Main Hayday itu udah kayak ganja, bikin kecanduan, sampai lupa makan, telat solat, dan mengabaikkan pekerjaan lainnya demi menghidupi domba-domba virtual itu. Ah, bodoh memang. Menyalahi amanah.

Maka setelah itu, nampaknya Tuhan terlalu sayang padaku. Tak Ia biarkan aku terlarut dalam pekerjaan sia-sia itu: menghidupi ternak yang tak bisa mati, memanen tanaman yang tak bisa busuk, dan berbelanja, membangun kandang, memperluas lahan, seolah akan hidup selamanya.

Then my life turns into virtual farmer.

Tuhan ingin aku kembali ke dunia nyata, hidup dan kembali berkarya, bukan malah terkurung dalam imajinasi yang fana. Ia mengingatkanku dengan cara sederhana, tapi berdampak luar biasa: kehilangan kenangan.

Kemarin baru saja aku nyaris kehilangan ponsel berhargaku, lagi-lagi, bukan karena harganya yang tak seberapa, atau kontak di dalamnya yang tak ada siapa-siapa, melainkan kenangan yang menyelimutinya. Karena ponsel itu juga kubawa secara cuma-cuma dari Amerika. Kali ini, ternyata masih rejeki, ponsel itu kembali.

Bersyukur bukan hanya perkara mengucap alhamdulillah dan berterima kasih pada Tuhan. Tapi juga menjaga pemberian, anugerah, dan kebahagiaan itu sebaik-baiknya. Dan yang terpenting adalah menggunakan pemberian itu dengan tidak melupakan pemberinya. Mengingatnya selalu, tidak sedetikpun melupakannya, dan tidak mencintai pemberian itu melebihi pemberinya, adalah cara tersederhana untuk mensyukuri apa yang telah diberikan-Nya. Itu cukup, rasanya.

Kehilangan benda yang dicintai saja bisa begitu memilukan. Apalagi kehilangan manusia……
Ah, tak perlu dibahas.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s