Toleransi Beragama ? : Refleksi Ramadhan di Negeri Orang

Toleransi Beragama ? : Refleksi Ramadhan di Negeri Orang

Refleksi Ramadhan setahun yang lalu, saat Ramadhan tak selamanya sama.

Ramadhan tahun lalu saya jalani tidak di Indonesia, melainkan di Amerika Serikat saat sedang menjalani program Study of U.S. Institute (SUSI) for Student Leader on New Media and Journalism. Selama lima minggu saya, dan 8 orang lainnya dari Indonesia dan 6 dari Malaysia, belajar tentang New Media dan Jurnalistik di Ball State University. Dari lima minggu tersebut, 3 minggu kami lalui dengan berpuasa karena bertepatan dengan bulan Ramadhan.

 

Berpuasa di tengah dahaga

Menjalankan ibadah puasa selama tiga minggu di AS telah menuai banyak cerita. 10 dari 15 peserta program SUSI New Media and Journalism adalah muslim. Hal tersebut sedikit banyak telah memberi banyak kekuatan untuk dapat bersama-sama menjalankan ibadah puasa yang dipandang cukup berat. Kami saling menguatkan, saling mengingatkan, dan saling menjaga agar dapat menjalankan puasa dengan lancar.

Kami menjalankan puasa selama tiga minggu di AS. Selama dua minggu pertama, menjalankan ibadah puasa di asrama tidak terlalu sulit. Kami tetap dapat beraktivitas seperti biasa, hanya mengganti pola makan. Beberapa dari kami merasa beruntung, karena bisa menggunakan jatah makannya untuk membeli coklat-coklat dan snack untuk oleh-oleh. Kami punya jatah sarapan dan jatah makan siang yang tidak terpakai. Sementara jatah makan malam kami gunakan untuk membeli makan untuk sahur dan berbuka. Kami harus pintar-pintar memilih makanan mana yang bisa tahan hingga sahur, atau makanan mana yang bisa ‘ditimbun’ untuk keperluan mendesak sewaktu-waktu.

Lain halnya dengan seminggu terakhir di AS karena kami harus melakukan tour ke beberapa kota, seperti Philadelphia, New York, dan Washington D.C. Selain karena kami akan selalu menjalankan aktivitas di luar ruangan; berjalan-jalan, dan sebagainya, kami juga harus berada di tengah-tengah cuaca yang panas. Kami baru dapat merasakan musim panas yang sesungguhnya pada satu minggu terakhir ini. Suhu udara bisa mencapai 38 derajat celcius. Beberapa teman memutuskan untuk tidak berpuasa, beberapa lainnya masih bertahan dengan berbagai  godaan tersebut.

Ada beberapa hal yang sangat saya syukuri, terutama ketika berpuasa, yakni bertemu dengan beberapa muslim AS yang juga tengah berpuasa. Salah satunya adalah ketika sedang membeli makanan untuk berbuka di street vendor di New York. Saat itu saya membeli hot dog. Tidak ada tulisan halal food di situ. Akan tetapi ketika si penjual menyapa dan bertanya “Are you fasting?” saya terkejut dan melalui percakapan kami, saya mengetahui bahwa penjual street vendor itu seorang muslim yang juga tengah berpuasa. Serasa bertemu saudara.🙂

Demikian pula saat saya tengah mengantri untuk masuk ke Mets Museum di New York. Tiba-tiba seorang pria lewat di depan saya. Seketika ia melihat saya berjilbab, tanpa pikir panjang ia langsung menyapa, “Assalamualaikum.” Subhanallah, padahal nggak kenal.

Hal yang sama terjadi ketika saya keluar dari restoran saat berbuka puasa bersama orang tua asuh saya. Tiba-tiba ada orang yang mengucapkan “assalamualaikum”, saya menoleh, ternyata seorang pria paruh baya. Setelah mendengan jawaban saya, ia lantas bertanya lagi, “Where are you from?” dan lantas menanyakan sedang apa berada di Amerika. Mungkin dia tahu kalau saya bukan berasal dari sana (jelas… :)). Setelah menjawab singkat dan kembali bertukar salam, kami berpisah. Orang tua asuh saya, yang bukan muslim, terheran-heran. Ia bahkan bertanya apakah saya mengenalnya. Kujawab, “No, I don’t know him.” Mereka lantas tak pernah membicarakannya lagi.

Orang tua asuh saya memang bukan muslim. Tetapi saat kegiatan homestay selama dua hari satu malam bersama mereka, Linda dan James Needham, orang tua asuh saya, sangat menghormati saya dan Hafiza (salah seorang peserta program asal Malaysia) dalam melakukan ibadah puasa. Seharian, kami berjalan-jalan ke Indianapolis Museum dan mereka tidak makan hanya karena menghormati kami yang berpuasa. Padahal usia mereka sudah lebih dari 60 tahun. Mereka hanya minum, dan baru makan bersama saat kami berbuka. Inikah toleransi?

Kebebasan beragama juga saya lihat ketika sedang beristirahat di bawah pohon seusai berfoto di halaman White House. Saya lihat beberapa orang seperti sedang mendengarkan ceramah. Selang beberapa lama, saya tahu bahwa mereka adalah muslim karena ketika masuk waktu shalat dhuhur, mereka lantas berjamaah melakukan shalat di tempat terbuka di area halaman White House.

Berbicara mengenai toleransi beragama, ada lagi yang lebih membuat saya terkejut. Salah satu tour kami di New York adalah mengunjungi Gereja Katedral. Saat itu, sebagian gereja sedang direnovasi. Kami masuk saja untuk melihat-lihat sekeliling gereja. Saya yang muslim awalnya merasa ragu, namun berdiri sendirian di luar juga bukan pilihan. Terlalu sempit rasanya pikiran dan hati ini jika berlaku demikian. Maka dengan menguatkan hati, saya masuk seperti turis pada umumnya. Saya melihat arsitektur gereja yang didesain secara apik. Jika dihitung-hitung, selama di AS, saya sudah 3 kali masuk gereja. Padahal di Indonesia, saya belum pernah memasuki rumah ibadah umat kristiani itu sekalipun.

Saat sedang melihat-lihat bersama seorang teman saya, Zacky, yang juga muslim, tiba-tiba seorang penjaga keamanan gereja, yang kami ketahui dari pakaian yang ia kenakan, datang menghampiri. Tubuhnya tinggi tegap dan berkulit gelap, seorang Afro-American. Iya menyapa Zacky dan bertanya, “Are you fasting?”. Saya dan Zacky sempat terdiam beberapa saat, bingung karena tiba-tiba dihampiri penjaga gereja dan bertanya apakah kami berpuasa tanpa bertanya sebelumnya apakah kami muslim atau bukan. nampaknya dia tahu dari jilbab yang saya kenakan. Akhirnya, Zacky menjawab, “Yes, we are fasting.”

Yang paling mengagetkan adalah jawaban yang penjaga gereja itu berikan setelah itu. Ia membalas sambil tersenyum, “Oh, me too.”

Zacky refleks bertanya, “Are you Moslem?”

“Yes, I am Moslem,” jawabnya lagi sambil tersenyum dan melambaikan tangan. “Assalamualaikum,” ujarnya.

Aku dan Zacky hanya bisa melongo. Subhanallah.

 

Ah, pantaslah orang betah berlama-lama di Amerika Serikat. Toleransi agama begitu terasa. Kita bebas melakukan aktivitas beragama tanpa saling mengganggu. Kita hanya harus saling memahami satu dengan yang lain. Perbedaan pasti ada, tapi bukan berarti perbedaan tersebut menjadi penyebab perpecahan.

 

Hm. Indonesia?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s