Sampingan

Menjaga Komitmen adalah Cara Tersederhana

Hidup dan berpuasa di antara orang-orang non muslim di Amerika Serikat ternyata tidak sesulit seperti yang dibayangkan, meskipun juga tidak bisa dibilang mudah. Menjalankan ibadah dengan berbagai kesibukan, rutinitas, dan keseharian menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk menyatakan sejauh mana tingkat komitmen kita terhadap Sang Maha Pencipta.

Amerika Serikat adalah negara bebas, termasuk bebas dalam hal beragama. Negara tidak menyuruh warga negaranya untuk menganut agama tertentu, atau melarang praktik agama tertentu. Negara juga tidak mengatur tentang bagaimana sebuah agama dapat berada di AS, atau bagaimana warga negara memperoleh agamanya, tidak pula mengatur sebuah agama harus seperti apa, dan sebagainya. Jadi, para penganut sebuah agama, baik mayoritas maupun minoritas, hanya tinggal menjalankan aktivitas agamanya sendiri dengan tanggung jawabnya sendiri.

 

Pesan dari kakek

Berkesempatan untuk pergi ke negeri adidaya, Amerika Serikat, adalah hal yang sangat luar biasa: tak pernah terbayangkan sebelumnya manusia kampung ini bisa menjejakkan kaki di tanah di mana liberalisme lahir. Pergi jauh ke negeri orang, ibarat mengelana ke negeri antah berantah, penuh hal-hal yang tak terduga, tak bisa disangka-sangka. Kebanyakan orang berpesan untuk menjaga kesehatan, menjaga komunikasi, dan tak lupa akan negeri sendiri. Berceloteh pula teman-teman sepermainan tentang apa-apa saja yang mungkin terjadi selama saya di sana: berubah idealisme lah, berubah gaya hidup lah, dan sebagainya. Banyak pula yang mewanti-wanti dalam menjalankan ibadah puasa di sana, membayangkan betapa berat menjalankan puasa 17 jam dengan kondisi berada di lingkungan non muslim dan dalam cuaca di musim panas. Tapi satu hal yang selalu terngiang di telinga, sebuah pesan dari kakek nun jauh di desa via percakapan telepon, sebuah kalimat sederhana: “Kade solatna, Nden!” (Jaga solatmu, Nden–Bahasa Sunda). Seketia, otak ini selalu memikirkan, sesulit apakah shalat di sana?

Perbedaan waktu, ditambah lagi dengan perbedaan musim, tentu sangat merubah waktu shalat secara signifikan. Pada minggu-minggu pertama, menyesuaikan dan menghafal waktu shalat adalah hal yang cukup sulit untuk dilakukan. Misalnya, waktu dhuhur di Indonesia adalah sekitar pukul 12.00-14.00 sementara di sana, 13.42 baru masuk waktu dhuhur dan baru akan bertemu waktu ashar pada pukul 18.00. Maka saya harus membiasakan diri bahwa pukul 18.00 adalah waktunya shalat Ashar, bukan shalat maghrib seperti yang biasa dilakukan di Indonesia, dan harus berbesar hati menerima bahwa waktu shalat maghrib baru akan tiba sekitar pukul 9 malam. Dalam benak ini langsung terbayang bagaimana jika Ramadhan tiba dan baru bisa berbuka puasa pukul 9 malam. Waktu-waktu tersebut memang cukup mampu membuat kita disorientasi terhadap waktu. Hal yang paling mudah adalah dengan cara mengatur aplikasi waktu shalat di gadget masing-masing.

Hal sulit selanjutnya adalah mencari arah kiblat. Saya yang memang mempunyai kesulitan dalam menentukan arah mata angin harus menggantungkan diri pada gadget dan koneksi internet untuk menemukan arah kiblat yang tepat. Beruntung, ada banyak situs di internet yang menyediakan informasi mengenai waktu shalat dan arah kiblat di beberapa daerah. Banyak pula aplikasi smartphone yang dapat membantu menemukan arah kiblat yang tepat hanya dengan berbekal koneksi internet. Beruntung pula saya tinggal di lingkungan kampus yang memiliki koneksi internet super cepat. Berbekal itu semua, segalanya menjadi sangat mudah. Alhamdulillah.😀

Tantangan selanjutnya datang dari tempat shalat. Ketika waktu shalat subuh, maghrib, dan isya, kendala tempat menjadi tidak terlalu berarti sebab bisa dilakukan di dalam kamar. Tapi saat masuk waktu dhuhur, kami yang muslim terpaksa harus meminta izin saat kelas tengah berlangsung, atau mencuri-curi kesempatan saat break kelas. Beruntung, supervisor kami dalam program exchange ini telah menyediakan sebuah ruangan khusus yang dapat kami pergunakan untuk shalat. Lain halnya ketika kami sudah tidak lagi berada di kampus, alias satu minggu terakhir, di mana kami harus berada di Philadelphia, New York, dan Washington D.C. yang tidak memiliki ‘ruangan khusus’ untuk shalat. Akhirnya saya memilih untuk melakukan shalat di bis. Anda bisa membayangkan bagaimana rasanya selama satu minggu penuh melakukan shalat Ashar dan Dhuhur di dalam bis.

Banyak tantangan yang harus dihadapi, memang. Tetapi pesan kakek selalu terngiang di telinga tatkala berbagai keluhan mulai muncul dari ‘kanan-kiri’. Beberapa teman sudah ada yang mulai menyerah, sebagian masih teguh pada komitmen shalatnya. Kemudian sebuah pemikiran menguatkan segalanya, menepis segala bentuk keluhan-keluhan itu, bahwasanya kesempatan tidak sekadar hadir, melainkan ada yang mengirim. Siapa lagi yang mengirim kesempatan untuk belajar di negeri yang diidam-idamkan pelajar Indonesia ini kalau bukan Tuhan Yang Maha Satu? Maka dengan cara apa lagi kita berterima kasih selain dengan tidak melupakan-Nya?  Menjaga komitmen shalat adalah cara tersederhana yang dapat dilakukan sebagai tanda terima kasih pada Yang Kuasa atas nikmat yang tak akan terlupakan.

Bukan berarti sok alim atau sok suci. Hanya tahu diri bahwa kesempatan itu tidak datang sendiri.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s