Question of Life.

Question of Life.

Gambar

Photo was taken from www.photographyblogger.net

 

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyombongkan diri. Bagi Anda yang berpikiran sempit, tolong segera tinggalkan halaman ini. Terima kasih.

 

Beberapa waktu lalu, dalam sebuah perjalanan bersama seorang kawan, naik motor di jalanan Bandung yang ramai lancar. Bermula dari percakapan ringan, tiba-tiba tercetus pertanyaan yang tak pernah disangka. Pertanyaan sederhana, tapi perlu bukan sekadar jawaban.

Pertanyaan 1# : Nden, Ciamis itu gimana, sih kehidupannya?

Entah apa yang harus saya jawab. Apa adanya, atau harus sedikit ‘dirangkai’? Well, as my lecturer said, “Public Relations is not about spin doctor-ing, it’s about telling the truth. Well maybe with a little bit of embellishment.” Jadi, I tried to tell her the truth.

Ciamis itu kota sepi. Mereka menyebutnya sebagai ‘kota pensiun’. Ya, karena memang suasananya yang tenang, cocok untuk mereka yang ingin beristirahat dari keramaian kota. Hampir tidak pernah ada kemacetan, terutama di kota. Beberapa titik kemacetan adalah: 1) Pasar subuh di pagi hari, jam berangkat kantor. Itupun tidak akan membuatmu berhenti berjam-jam. 2) Depan SMAN 2 Ciamis setiap masa pembagian rapor hasil belajar. 3) Alun-alun Ciamis? (Oke, poin 3 hapus aja). Jangan bandingkan titik-titik kemacetan tersebut dengan di Bandung. Sangat jauh berbeda.

Pertanyaan 2#: Pendidikannya gimana? Banyak yang kuliah, nggak? Gimana cara berpikir mereka soal itu?

Dzigg! Pertanyaan macam apa ini? Lebih tepatnya, jawaban macam apa yang ia inginkan?

Maka saya jawab sesuai dengan apa yang saya tahu.

Dari segi pendidikan, Ciamis bukan daerah yang terlalu tertinggal tingkat pendidikannya. Banyak orang sudah sadar akan pentingnya pendidikan, meskipun belum merata. Ketika saya masih duduk di bangku SMP, saya melihat bahwa orang Ciamis tak bisa dibilang remeh. Banyak teman-teman saya yang mampu bersaing di kancah nasional, mendapatkan beasiswa bergengsi, dan kini mereka telah berkuliah di universitas ternama di Bandung. Demikian pula di SMA. Saya banyak dikelilingi oleh orang-orang berpikiran maju. Setidaknya, mereka memiliki mimpi masing-masing dan memiliki tekad untuk meraihnya. Hanya saja, sekali lagi, keadaan tersebut tidak terjadi merata. Tak bisa dipungkiri, masih banyak orang-orang yang berpikiran pendek, asal bisa senang hari ini, dan semacam hidup ‘ya udah lah’.

Di sekolah saya ketika SMA, banyak dari mereka yang datang jauh dari pusat kota. Umumnya, mereka rela pergi jauh dari rumahnya hanya untuk menerima pendidikan yang lebih baik. Apa artinya? Mereka belum sepenuhnya percaya terhadap SMA yang ada di kecamatannya masing-masing. Padahal setahu saya, hampir setiap kecamatan ada sekolah setingkat SMA. Mereka masih menganggap bahwa sekolah di pusat kota Ciamis lebih memberikan banyak peluang, dalam hal apapun.

Ada banyak hal yang bisa dipetik. Salah satunya adalah: mereka yang pergi jauh dari rumah, yang jaraknya berjam-jam dari pusat kota, adalah mereka yang punya keinginan kuat untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Tidak semua dari mereka adalah orang-orang yang mampu secara ekonomi. Ada yang ‘nekat’, rela ngirit, meurih, yang penting bisa sekolah. Umumnya mereka, teman-teman saya yang luar biasa ini, memang memiliki kemampuan lebih dibandingkan dengan yang lain, baik dari segi akademik maupun ko-kurikuler.

Dari mereka, saya banyak mendapat cerita, tentang mengapa mereka memilih untuk sekolah di kota. Padahal sekolah yang dekat pun banyak. Apa yang terjadi di daerah mereka?

Dari sekian banyak jawaban, kesimpulannya adalah adanya perbedaan paradigma, cara pandang. Teman-teman saya banyak bercerita bahwasanya di daerah mereka, teman-teman mereka banyak yang tidak melanjutkan sekolah, terutama teman-teman perempuan mereka. Mereka yang perempuan lebih memilih menikah di usia belia, sementara yang laki-laki banyak yang bersekolah tapi ada pula yang berhenti untuk bekerja.

Fakta tersebut diperkuat ketika saya melakukan kunjungan ke beberapa sekolah di daerah (jauh dari pusat kota) untuk melakukan sosialisasi perguruan tinggi di sana. Setiap sosialisasi, ruangan penuh sesak. Tapi entah kenapa saya merasa mereka tidak menanggapinya terlalu serius. Bahkan ada beberapa pertanyaan yang hanya dijadikan olok-olokan. Namun bukan berarti tak ada yang menyimak secara serius.

Pada kesempatan diskusi, salah seorang dari tim sosialisasi bertanya kepada mereka, “Gimana, minat nggak kuliah ke Bandung?” Dan rata-rata mereka mengatakan “ingin, tapi tak ada biaya”. Lalu kami jawab bahwa ada banyak beasiswa yang bisa mereka dapatkan selama kuliah. Kami persuasi mereka agar timbul keinginan untuk memperjuangkan pendidikan mereka, tapi hasilnya mereka hanya menjawab, “Ah, susah, Teh. Tes-nya juga pasti susah. Belum biaya hidup dan lain-lain. Dan belum tentu diijinin sama orang tua.” Baiklah. Titik.

Maka saya simpulkan ini memang bukan hanya persoalan teknis dan biaya, tapi juga persoalan cara berpikir, yang tidak mungkin diselesaikan dalam waktu dua jam saja.

Sekarang saya mengerti bahwa mereka yang memilih untuk ber-SMA ke kota memang punya alasan yang cukup logis untuk memilih jalan itu.

Tapi saya percaya, mereka yang punya keinginan kuat untuk mengenyam pendidikan akan selalu mendapatkan jalan. Di Ciamis pun ada beberapa perguruan tinggi dengan biaya yang relatif murah tapi memiliki kualitas yang tak bisa dianggap remeh. Ada Institut Agama Islam Darussalam yang telah bertahun-tahun menghasilkan lulusan ahli agama yang kompeten. Banyak lulusannya yang melanjutkan studi ke luar negeri dan kembali pulang untuk mengabdi. Ada Sekolah Tinggi Kesehatan Muhammadiyah yang menghasilkan tenaga-tenaga kesehatan yang akan bermanfaat di masyarakat. Ada pula Universitas Galuh atas prakarsa Yayasan Galuh. Beberapa dari teman-teman saya ada pula yang tetap berkuliah ke luar kota, meskipun tidak terlalu jauh dari Ciamis, yakni Universitas Siliwangi di Tasikmalaya. Ya, mereka yang punya keinginan untuk mengenyam pendidikan tinggi memiliki banyak kesempatan. Mereka akan menemukan jalannya masing-masing di sana.

Pertanyaan 3#: “Terus kok Lo bisa sampai sejauh ini sih, Nden?”

Maksudnya?

Pertanyaan 4#: “Dari apa yang Gue tangkep, –sori, ya sebelumnya– Gue masih berpikir bahwa Ciamis tuh kota kecil yang–kasarnya–nggak ada apa-apa. Dengan lingkungan Lo yang kayak gitu, banyak temen-temen yang nggak kuliah, situasi pendidikan di sana yang kayak gitu, dan lingkungan yang jauh dari keramaian. Tapi kenapa Lo bisa sampai sejauh ini? Kuliah ke Unpad, bisa dapet beasiswa pula. Menurut Gue cara berpikir Lo itu beda. Lo dapet semua itu dari mana?”

Well, saya bingung menerjemahkan ini sebagai pujian atau celaan. Tapi mudah-mudahan semua ini tidak menimbulkan kesombongan. Amin.

Perlu beberapa waktu untuk bisa menjawab pertanyaan ini, sementara ia masih mengemudikan motornya sambil menunggu jawaban. Sejujurnya, pertanyaan ini sama sekali tidak pernah terlintas di benak saya sebelumnya. Pertanyaan ini telah menyadarkan saya. Dan thanks to my beloved friend atas pertanyaan yang membuat saya semakin mencintai orang luar biasa yang selama ini mendampingi saya seumur hidup.

Dalam kalimat pertama, saya menjawab, “Lagi-lagi ini masalah cara berpikir.” Cara berpikir itu bukan sesuatu yang bisa diajarkan dengan 3 SKS mata kuliah. Tapi perlu penanaman dan pendidikan seumur hidup. Maka jika ditanya siapa yang sudah bertanggung jawab mengajarkan saya cara berpikir semacam itu, maka saya merujuk orang yang selama ini, seumur hidup saya, berada di samping saya: Ibu.

Entah pola pendidikan macam apa yang diterapkan oleh Ibu. Entah teori siapa yang dijadikan referensi. Mungkin hanya Ibu, Bapak, dan Tuhan yang tahu. Hasilnya? Ya orang macam saya ini.

Dari kecil saya jarang dilarang melakukan hal yang saya sukai: mencoret-coret dinding rumah dengan krayon, pulpen, pensil, bahkan cat; menggunting-gunting baju-baju boneka, bahkan menggunting bonekanya; menjahit berbagai jenis kain, termasuk gorden, sprei, dan bantal; mencoret-coret kertas, buku, majalah, bahkan buku catatan penting atau buku yang baru dibeli; mencoret-coret muka dengan make-up, lipstik, eye shadow, dan bedak; sampai memakai pakaian-pakaian aneh dan lalu pergi ke warung untuk jajan. (Ya, Anda boleh tertawa.)

Saya juga tidak dilarang ketika ingin ikut kelas tari di sekolah, ekstrakulikuler pramuka di SD, ikut kemah sampai demam, ikut ekstrakulikuler Jurnalistik, ikut lomba-lomba ke luar daerah, sampai ikut organisasi yang pulang sampai larut malam.

Saya selalu ingat ketika (lagi-lagi) Ibu bercerita soal masa kecilnya yang tak seberapa, memaksa saya untuk bersyukur dengan apa yang bisa dinikmati saat ini. Ibu selalu berkata bahwa saya bebas melakukan apa yang saya mau asalkan selalu menjaga titipannya, yaitu mata dan telinga. “Yang penting Ibu tidak mau melihat Nden melakukan hal yang tidak-tidak atau mendengar Nden melakukan hal yang tidak-tidak.” Atau yang ini, “Nden bebas melakukan apa saja, asal inget kana tatapakan.” Nah!

Sebagaimana yang guru saya yang paling inspiratif pernah berkata di saat kelulusan SMP: “Tetaplah berpijak pada bumi, jangan terbang kalau merasa tak punya sayap.” Nah! Sampai sekarang, untuk quote yang satu ini, saya belum menemukan makna definitif yang bisa menjelaskan pesan tersebut.

Teman saya mendengarkan dengan bersungguh-sungguh sambil menjaga laju motor agar tak kena serempet mobil-mobil yang berlari bak hari esok tak ada lagi. Saya lanjut berkisah.

Lalu suatu hari saya dikenalkan dengan ISYF. Ya atau tidak, organisasi ini telah banyak memberi inspirasi. Tentang betapa Indonesia adalah negeri yang amat kaya, tentang betapa banyak anak muda yang menginginkan perubahan, tentang betapa banyak orang memiliki berbagai prestasi, tentang betapa ada banyak hal yang selama ini belum saya ketahui, tentang segala hal yang membuat saya malu karena masih jadi mahasiswa yang ‘gini-gini aja’. Saya ceritakan bagaimana para pemuda yang tergabung di ISYF memiliki cara pandang yang amat berbeda. Aneh, di luar nalar, kadang menyebalkan, tak dapat diprediksi, tapi luar biasa. Saya ingin seperti mereka.

Belum lagi ketika saya mendapatkan beasiswa untuk mencicipi tanah para Indian, saya bertemu dengan kehidupan yang sama sekali berbeda. Orang-orang yang selama ini hanya bisa dilihat di layar kaca, bangunan-bangunan yang selama ini hanya bisa dilihat dalam buku dan majalah, serta pengalaman yang selama ini hanya bisa didapat lewat mimpi, kini benar-benar berada di depan mata. Semuanya sangat berpengaruh besar terhadap, lagi-lagi, cara berpikir kita.

Lelah bercerita, giliran saya balik bertanya:

Pertanyaan #4: “Kenapa kamu tiba-tiba nanya gitu?”

Tanpa bermaksud menambahkan atau mengurangi makna dari apa yang  ia katakan, kira-kira, beginilah jawabannya:

Ini pikiran gue pribadi aja ya, Nden. Gue penasaran sama Ciamis karena gue sama sekali nggak bisa ngebayangin gimana hidup di Ciamis. Di pikiran gue, Ciamis itu–sori ya Nden–nggak banget. Gue aja nggak yakin Ciamis ada di peta apa nggak. Tapi pas gue ngeliat elo, Teh Corin, A Dudin, sama Deri yang asik banget kalo diajak ngobrol, asik diajak kerja, punya banyak pengalaman dan wawasan, dan perilaku yang nggak biasa, bikin gue jadi penasaran, ada apa sih di sana.”

Saya hanya bisa terdiam. Kami sudah sampai di tujuan.

2 thoughts on “Question of Life.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s