SUSI Program on New Media and Journalism Day#2

SUSI Program on New Media and Journalism Day#2

Tidak semua orang Amerika memiliki bentuk tubuh yang ideal sebagaimana yang sering ditampilkan di film-film Hollywood. Faktanya, di tahun 2011-2012, lebih dari sepertiga orang dewasa di Amerika Serikat mengalami kegemukan karena obesitas (Sumber: Centers for Diseases Control and Prevention). Dan di sini, saya mulai percaya itu.

Pagi-pagi, kurang lebih pukul 09.00 SUSI Student berkumpul di Art and Journalism Building untuk acara penyambutan oleh para dosen yang akan mengajar selama program ini. Kami langsung menuju ruangan kantor yang disulap jadi ruang pertemuan, lengkap dengan hidangan sarapan a la Amerika dan beberapa gimmick yang akan dibagikan. Salah satunya adalah name tag dan meal card yang harus selalu dibawa ke manapun kami pergi. Di sana, sudah tersedia berbagai jenis makanan, mulai dari bagel ukuran besar (kira-kira sebesar piring alas cangkir) lengkap dengan selainya, roti gandum, muffin, dan buah-buahan seperti strawberry dan apel. Anda harus percaya ketika saya bilang ‘ukuran yang besar’. Ukuran strawberry-nya saja bisa hampir tiga kali lipat ukuran strawberry Indonesia. Dan anda bisa langsung kenyang setelah memakan satu buah bagel saja.

Ingat Michelle Colpean, Student Ambassador kami? Dia bilang, “American people love eating. That is why the portion of the meal is big“. Okay, got it, Michelle…

Sepertinya ini cukup menjawab mengapa orang obesitas menjadi isu kesehatan utama di Amerika Serikat.

Ada lagi….

Setelah acara penyambutan, yang diisi dengan perkenalan dosen dan mahasiswa, kami diajak berkeliling Ball State University. Dan untuk pertama kalinya, kami akan makan siang di kantin Tally yang bertempat di Student Center. Kami baru saja sarapan sekitar pukul 9. Masih cukup kenyang ketika harus makan lagi jam 12 siang. Tapi, apa daya. Harus Makan. :9

Untuk setiap kali makan, baik sarapan, makan siang, maupun makan malam, kami akan makan di kantin kampus–kantin mana saja yang berada di lingkungan kampus. Di sini, kami difasilitasi dengan Meal Card, atau kartu makanan. Di dalamnya, sudah tersedia credit dengan nominal tertentu untuk setiap kali transaksi. Bentuknya seperti kartu kredit atau kartu ATM, jadi tinggal gesek untuk membayar. ‘Jatah’ untuk setiap kali makan pun sudah ditentukan. Untuk sarapan, kami punya jatah USD 4.5, sedangkan untuk makan siang dan makan malam, kami punya ‘jatah’ masing-masing USD7.8. Jika makanan kita senilai lebih dari itu, maka kita harus membayar kelebihannya. Jika kurang? Ya hangus. Makanya kami memanfaatkan jatah tersebut sebaik mungkin. Kalau sekiranya masih punya jatah tapi makanan kita sudah dirasa cukup, maka kami menggantinya dengan cokelat atau snack sampai jatahnya habis. Snack atau cokelatnya, kalau tidak dimakan, bisa dibawa pulang untuk dimakan di dorm, atau dibawa pulang ke Indonesia untuk jadi oleh-oleh. Hehehe. That is what we call strategy. 3:-)

Saat makan siang pertama itu, saya bingung mau makanan seperti apa untuk mengisi perut yang masih kenyang ini, selain bingung pula dengan jenis makanan yang tidak familiar. Ada chicken stripes yang adalah fillet ayam dipakein terigu, onion ring  yang adalah bawang bombay sebesar gelang (jadi harusnya onion bracelet kali ya :p) dipakein terigu, salad, puding, kentang goreng, dan macam-macam lainnya. Maklum, saya yang biasa makan nasi gila, soto ayam, atau sayur asem di Kantin Fitroh Jatinangor, memang cukup kaget kalau harus makan ‘lauk pauk’nya aja tanpa makanan pokok. Akhirnya, untuk cari aman, pilihan saya jatuh pada chicken stripes tadi.

Satu slot chicken stripes berisi enam buah potongan fillet ayam. Dari keenam potong ayam itu, saya hanya berhasil menghabiskan tiga potong saja dengan sukses. Potongan keempat masih berhasil dihabiskan dengan sangat susah payah. Itu sudah sangat kenyang. Sisanya, saya bungkus tisu dan bawa pulang ke kamar (mental restoran Indo, bungkus kalo nggak abis :p)

Nih penampakan chicken stripes mengenyangkan itu:

 

Setelah selesai kelas pukul 17.00, kami, dalam keadaan masih kenyang, kembali harus mengambil jatah makan malam. Pukul 18.00 kami mengambil makan malam di kantin Atrium, tempatnya di dalam Art and Journalim Building. Masih satu gedung dengan tempat kuliah kami. Karena masih kenyang, akhirnya kami memutuskan untuk membawa pulang makanan kami. Kuputuskan untuk membeli sepotong pizza ukuran kecil. Dan, pizza ukuran kecil itu beginilah penampakannya:

Well, that’s all about the meal. Di hari kedua ini, kami juga diajak jalan-jalan keliling Ball State University. Untuk mengelilingi kampus ini memang tidak cukup sehariAnd you have to know that it seems like I don’t wanna go home. Betah kayaknya kuliah di sini dengan fasilitas dan suasana yang luar biasa. You may check it in google about the buildings, rooms, parks, and everything about BSU. It is pretty much awesome.

I can’t say much. Just take a look by yourself here. I wish you who read this have the same experience and opportunity to get here. Amin😀

See you for the next story🙂

Gambar

 

Foto bareng di depan patung The Beneficent, lambang Ball State University.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s