Perempuan Tidak Sendirian (3) – Habis –

Perempuan Tidak Sendirian (3) – Habis –

Laki-laki Feminis

Feminisme tidak hanya digaungkan oleh para perempuan yang memperjuangkan hak dan derajat mereka. Akan tetapi para pria, sebagai lawan dari gender perempuan, juga turut serta dalam aktivitas penyetaraan gender yang menjadi sorot utama feminisme. Para pria yang aktif dalam aktivitas kesetaraan gender ini populer dengan sebutan laki-laki feminis.

Masih dalam skripsi yang berjudul “Pemaknaan Konsep Laki-Laki Feminis pada Aktivis Kesetaraan Gender” Purwaningtyas Permata Sari menulis:

Nur Imam Subono, pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu politik Universitas Indonesia (FISIP UI) pun merumuskan definisi laki-laki feminis sebagai berikut: “Secara sederhana, kita bisa merumuskan bahwa mereka adalah laki-laki yang secara aktif terlihat dalam mendukung ide-ide feminisme dan upaya-upaya untuk menciptakan kesetaraan dan keadilan gender. Feiminis laki-laki pro-feminist bisa dibilang merupakan solusi yang terbaik jika taruhannya adalah penghapusan kekerasan laki-laki terhadap perempuan (Feminis Laki-Laki: Solusi atau Persoalan 2001:71)

Paradigma yang selama ini tertanam di benak masyarakat adalah citra maskulinitas dalam diri laki-laki. Adanya dominasi aktivitas publik yang dilakukan oleh laki-laki menjadi salah satu penyebab terbatasnya ruang gerak perempuan di ruang-ruang publik. Citra laki-laki yang kuat, rasional, berjiwa pemimpin, dan lebih mampu mengerjakan hal-hal besar telah mengesampingkan kekuatan perempuan sehingga lagi-lagi terjadi diskriminasi yang selama ini ditentang oleh kaum perempuan.

Purwaningtyas Permata Sari juga menulis dalam judul skripsi yang sama tentang pandangan laki-laki atas konsep maskulinitas yang selama ini tertanam dalam pola pikir masyarakat. Ia menulis:

… menurut Donny, tidak semua laki-laki merasa nyaman dengan statusnya sebagai penindas kemanusiaan. Ada juga laki-laki yang muak dengan status tersebut dan menginginkan sebuah relasi sosial yang lebih setara dan manusiawi, seperti yang diungkapkannya berikut ini: ‘Sekilas sepertinya perempuanlah yang menjadi konsep-konsep metafisika patriarki tersebut. Namun, kalau kita simak secara lebih jernih maka laki-laki pun menjadi korban. Bayangkan, betapa menderitanya laki-laki yang dibebani oleh struktur-imperatif patriarki, seperti: wajib mencari naskah, wajib tampil rasional, wajib menekan sisi feminimnya, dan lain sebagainya (Feminis Laki-Laki: Solusi atau Persoalan, 2001:26)

Sama halnya seperti perempuan dengan segenap embel-embel kewanitaannya, para pria pun dilihat dari perspektif sama memiliki ketidakpuasan atas label yang ditempelkan masyarakat pada mereka. Pria-pria juga merasakan bahwa kesetaraan gender menjadi hal yang harus terwujud di dalam tatanan masyarakat, terutama di Indonesia.

Perjuangan untuk kesetaraan perempuan tidak bisa berhenti pada pemenuhan hak-hak perempuan, perlakuan yang adil, tetapi harus sampai pada pembongkaran sistem penindasan itu sendiri yaitu dominasi wacana oleh laki-laki yang disebut kekerasan simbolik. Maka peran laki-laki pun diperlukan untuk membantu perempuan dalam mewujudkan kesetaraan gender.

Adalah Aliansi Laki-Laki Baru, sebuah komunitas yang berisikan para pria yang memiliki keinginan untuk bergerak dalam aktivitas kesetaraan gender.  Gerakan yang dilakukan oleh Aliansi Laki-Laki Baru juga didasari atas keprihatinan mereka atas kondisi sosial patriarki yang bercokol kuat di masyarakat. Aliansi Laki-Laki Baru juga melihat hal yang sama dengan apa yang dikemukakan oleh Donny. Hal tersebut tertera dalam website mereka http://lakilakibaru.or.id/tentang-kami/. Mereka menulis:

Ketidakadilan terhadap perempuan ini melahirkan kesadaran di kalangan perempuan untuk melakukan gerakan pembebasan perempuan dari segala bentuk ketidakadilan. Belakangan kesadaran akan adanya ketidakadilan terhadap perempuan ini menular kepada kelompok yang selama ini dianggap paling diuntungkan oleh budaya patriarkhi yakni laki-laki. Penularan kesadaran ini terjadi melalui berbagai cara, karena menyaksikan penderitaan perempuan yang mereka cintai, karena bekerja dengan organisasi perempuan, atau karena memiliki minat pada kajian perempuan. Kesadaran laki-laki ini juga muncul dari refleksi bahwa budaya patriakhi membwa dampak negatif bagi laki-laki sendiri, Konstruksi kelelakian (maskulinitas) yang diandaikan oleh budaya patriarkhi juga melahirkan hirarki di kalangan laki-laki. Laki-laki menyadari bahwa hirarki itu menimbulkan ketidakadilan dan penindasan laki-laki atas laki-laki lainnya.

Adanya Aliansi Laki-Laki Baru sebagai satu dari sekian banyak komunitas yang peduli terhadap kesetaraan gender telah memberi kekuatan yang besar kepada para perempuan yang tengah berjuang untuk meningkatkan derajat mereka agar dapat setara dengan laki-laki. Aliansi ini memberi harapan bagi para perempuan bahwasanya mereka tidak berjuang sendirian. Ada kekuatan baru yang mendukung gerakan mereka. Ada pihak dari laki-laki sebagai pihak yang selalu diuntungkan dalam sistem patriarki ini, yang memahami betapa para perempuan ingin mendobrak tembok besar patriarki yang selama ini membelenggu mereka. Bahwasanya feminisme tidak hanya milik perempuan tetapi juga perjuangan laki-laki untuk melepaskan diri dari tuntutan patriarki yang membebani mereka. Bukan untuk melepaskan tanggung jawab, akan tetapi untuk kesetaraan yang mengarah pada keseimbangan tatanan kehidupan.

Selayaknya kita percaya bahwa untuk meruntuhkan tembok raksasa patriarki butuh kekuatan yang luar biasa, baik dari perempuan sebagai pelaku feminisme yang bosan dengan belenggu patriarki maupun dari laki-laki yang jenuh dengan kursi dominasi kekuasaan yang tak jua berakhir.

Daftar Pustaka

(Further Reading)

http://amienstein.tripod.com/id83.html, diakses 5 Januari 2013 pukul 22:29

http://catatandhila.wordpress.com/2010/12/19/teorifeminisme/, diakses 5 Januari 2013 pukul 22:29

http://dindanuurannisaayura.wordpress.com/2012/04/21/bertemu-pria-feminis/,  diakses 5 Januari 2013 pukul 22:29

http://id.wikipedia.org/wiki/Feminisme, diakses 5 Januari 2013 pukul 22:29

http://id.wikipedia.org/wiki/Maria_Walanda_Maramis, diakses 5 Januari 2013 pukul 22.35

http://kesehatan.kompas.com/read/2010/03/22/07393776/Gerakan.Laki.laki.Baru , diakses 5 Januari 2013 pukul 22:29

http://komahi.umy.ac.id/2011/05/perkembangan-feminisme-di-dunia.html, diakses 5 Januari 2013 pukul 22:29

http://lakilakibaru.or.id/tentang-kami/, diakses 5 Januari 2013 pukul 22:29

http://lakilakibaru.or.id/2011/05/feminisme-kartini-dan-maskulinitas-baru/, diakses 5 Januari 2013 pukul 22:29

http://lakilakibaru.or.id/2012/01/472/, diakses 5 Januari 2013 pukul 22:29

http://lakilakibaru.wordpress.com/2011/12/23/perempuan-politik-dan-sejarah/, diakses 5 Januari 2013 pukul 22:29

http://lakilakibaru.wordpress.com/2011/11/24/dinamika-maskulitas-laki-laki-bagian-i/, diakses 5 Januari 2013 pukul 22:29

http://sejarah.kompasiana.com/2012/04/21/malahayati-mahakarya-emansipasi-indonesia/, diakses 5 Januari 2013 pukul 22.35

http://www.kursikayu.com/2012/03/feminisme-teori-kesetaraan-gender.html, diakses 5 Januari 2013 pukul 22:29

http://www.scribd.com/doc/76761004/Teori-teori-Feminisme, diakses 5 Januari 2013 pukul 22:29

http://www.scribd.com/doc/57412344/teori-feminis, diakses 5 Januari 2013 pukul 22:29

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s