Perempuan Tidak Sendirian (2)

Perempuan Tidak Sendirian (2)

Feminisme

Upaya-upaya untuk memperjuangkan kesetaraan gender tidak hanya dilakukan di Indonesia akan tetapi telah menjadi sebuah gerakan dunia. Di level internasional, orang-orang menggaungkan gerakan feminisme. Istilah ini dicetuskan pada tahun 1837 oleh Charles Fourier, seorang sosiolog asal Perancis. Istilah tersebut kemudian merebak di Amerika berkat publikasi John Stuart Mill dalam karyanya “The Subjection of Women” (Perempuan sebagai Subjek) pada tahun 1869. Feminisme sendiri dicetuskan oleh Lady Mary Wollstonecraft dan Marque de Condorcef. Feminisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah gerakan wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan pria. Gerakan ini memusatkan perhatian pada perjuangan kesetaraan gender, seperti tuntutan atas hak perlindungan perempuan terhadap kekerasan dalam rumah tangga, persamaan hak perempuan dalam pekerjaan, persamaan hak perempuan dalam bidang politik, dan sebagainya. Pencetus ide-ide tentang feminisme sebagian besar berasal dari Amerika Serikat, Perancis, dan Inggris.

Dalam skripsi yang ditulis oleh Purwaningtyas Permata Sari yang berjudul “Pemaknaan Konsep Laki-Laki Feminis pada Aktivis Kesetaraan Gender” juga mengemukakan beberapa definisi feminisme menurut beberapa ahli. Menurut Nunuk P. Murniati, dalam bukunya yang berjudul Getar Gender, perempuan dalam perspektif sosial, politik, ekonomi, hukum, dan HAM, feminisme adalah paham yang mennggerakan pemahaman dan penyadaran tentang kehidupan perempuan, khususnya pengalaman hidup terluka perempuan (2004:237).

Yanti Muchtar dalam tulisannya yang berjudul “Dapatkah Laki-Laki Menjadi feminis?” mendefinisikan feminisme sebagai sebuah gerakan yang didasarkan pada adanya kesadaran tentang penindasan perempuan yang kemudian ditindaklanjuti oleh adanya aksi untuk mengatasi penindasan tersebut (Jurnal Perempuan, Edisi XII/Nov-Des 1999:5)

Nancy F. Cott, dalam Nunuk P. Murniati (2004: XXVII), menulis dalam buku The Grounding of Modern Feminism bahwa pengertian feminisme memperjuangkan persamaan hak tetapi dalam perbedaan seks. Tujuan ideologi  atau gerakan ini, untuk membebaskan setiap pribadi perempuan melalui mobilisasi solidaritas antarperempuan. Ini berarti mengajak perempuan untuk menyadari bahwa setiap pribadi perempuan itu berbeda-beda. Baik laki maupun perempuan, berbeda untuk setiap pribadi. Pandangan stereotip mengakibatkan hilangnya kesadaran individu dan identitas diri. Baik laki-laki maupun perempuan memunyai persamaan dan perbedaan yang alamiah (nature) dan berdasarkan kebudayaan (nurture).

Kemudian Nancy F. Cott, sebagaimana dikutip dari judul skripsi  Purwaningtyas Permata Sari menyebutkan bahwa feminisme mengandung tiga komponen penting:

Pertama, suatu keyakinan bahwa tidak ada perbedaan hak berdasarkan seks (sex equality), yakni menentang adanya posisi hierarkis di antara jenis kelamin. Persamaan bukan hanya kauntitas, tetapi mencakup kualitas. Posisi relasi hierarkis menghasilkan posisi superior dan inferior. Di sini terjadi kontrol dari kelompok superior terhadap inferior.

Kedua, suatu pengakuan bahwa dalam masyarakat telah terjadi konstruksi sosial yang merugiakn perempuan. Relasi laki-laki dan perempuan yang ada sekarang merupakan hasil konstruksi sosial, bukan ditentukan oleh nurture (kodrat ilahi)

Ketiga, Berkaitan dengan komponen kedua, yakni adanya identitas peran gender. Feminisme menggugat perbedaan yan gmencampuradukkan seks dan gender, sehingga perempuan dijadikan kelompok tersendiri dalam masyarakat. Akibat pengelompokkan ini, Simone de Beauvoir dalam The Second Sex mengatakan bahwa perempuan lalu perempuan menjadi “the other human being”, bukan manusia (human norm). Menurut Simone, akibat pengelompokkan sosial ini, perempuan sukar untuk sadar tentang eksistensi pribadinya (jati dirinya).

Banyak perempuan-perempuan di dunia yang menggaungkan feminisme, diantaranya adalah Sojouner Truth, seorang bekas budak kulit hitam berkewarganegaraan Amerika yang pertama kali membeberkan masalah perbudakan di negaranya. Pada tahun 1851, Truth berpidato di depan khalayak ramai di Akron, Ohio dan pidatonya ini terkenal dengan sebutan “Ain’t I a Woman?”. Tulisan Mary Wollstonecraft, seorang penulis kelahiran Inggris juga menginspirasi banyak wanita. Tulisannya yang paling berpengaruh terhadap perkembangan feminisme adalah yang berjudul “Vindication of the Right of Woman”.

Banyak hal yang memicu munculnya paham feminisme di dunia. Di antaranya adalah kondisi lingkungan saat itu. Setelah dua revolusi besar, yakni Perancis dan Amerika, status sosial perempuan kurang diperhatikan. Fundamentalisme agama juga turut mendorong kemunculan feminisme di Eropa. Saat itu, banyak gereja di Eropa menolak adanya pendeta perempuan.

Seiring dengan perkembangan feminisme, terutama di Amerika dan Eropa, terdapat tiga aliran memandang feminisme dari sudut pandang yang berbeda. Aliran yang pertama adalah Feminisme Liberal. Aliran ini menempatkan perempuan sebagai seseorang yang memiliki kebebasan secara penuh dan individual. Aliran ini menyatakan bahwa kebebasan dan kesamaan berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik. Akar teori ini bertumpu pada kebebasan dan kesetaraan rasionalitas. Perempuan dianggap memiliki kemampuan rasionalitas yang sama dengan laki-laki. Dengan demikian, ia pun harus diberi hak yang sama dalam berbagai hal karena memiliki kapasitas yang sama dalam berpikir dan bertindak secara rasional.

Aliran yang kedua adalah feminisme radikal. Aliran ini menawarkan ideologi ‘perjuangan separatisme perempuan’. Menurut aliran ini, penindasan perempuan terjadi akibat dominansi laki-laki. Bagi kaum perempuan yang radikal, revolusi terjadi pada perempuan yang mengambil aksi untuk mengubah gaya hidup, pengalaman, dan hubungan mereka sendiri.

Aliran yang ketiga adalah feminisme marxis. Aliran ini menganggap bahwa kapitalismelah yang harus bertanggung jawab terhadap penindasan terhadap perempuan. Laki-laki mengontrol produksi untuk perdagangan sehingga sebagai konsekuensinya mereka juga mendominasi hubungan sosial. Sementara itu, perempuan hanya dianggap sebagai ‘properti’. Hal ini membuat aliran marxis beranggapan bahwa penyebab penindasan perempuan lebih bersifat struktural.

Aliran yang keempat adalah aliran feminisme sosialis yang merupakan gabungan antara feminisme radikal dan marxis. Feminisme sosialis sepaham dengan marxis bahwa penyebab penindasan terhadap perempuan adalah kapitalisme. Akan tetapi aliran sosialis juga setuju dengan radikal bahwa patriarki adalah sumber penindasan.

Selanjutnya adalah aliran feminisme post-kolonial. Aliran ini melakukan perjuangan dalam menghapuskan penjajahan secara fisik, nilai-nilai, pengetahuan, maupun mental.

Aliran lainnya, yaitu feminisme post-modern menggali persoalan alienasi perempuan  berdasarkan seksual, prikologis, dan sastra dengan bertumpu pada bahasa sebagai sebuah sistem. Ada pula yang disebut dengan aliran feminisme multikultural yang melihat ketertindasan perempuan dalam ‘satu definisi’, tidak melihat ketertindasan terjadi di ranah kelas dan ras, preferensi sosial, umur, agama, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Lain halnya dengan feminisme global yang menekankan ketertindasan  dalam konteks perdebatan antara feminisme di dunia yang sudah maju dengan feminisme yang terjadi di negara-negara berkembang.

Aliran yang terakhir adalah ekofeminisme. Aliran ini berbicara tentang ketidakadilan perempuan dalam lingkungan, berangkat dari adanya ketidakadilan yang dilakukan manusia terhadap non-manusia atau alam sekitar.

Feminisme telah menjadi isu internasional. Kesetaraan gender bukan hanya menjadi gerakan di Indonesia, negara dengan budaya patriarki yang kuat, melainkan juga gerakan dunia. Gerakan kesetaraan gender akan selalu ada selama budaya patriarki masih membelenggu perempuan dari kebebasan berkarya dan bercita-cita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s