Perjuangan Hidup

Perjuangan Hidup


Jika bagi sebagian orang perjuangan hidup berarti usaha untuk bertahan dalam menghadapi pahit manis dan kerasnya kehidupan, berusaha mencukupi kebutuhan hidup, atau berjuang untuk dapat tetap bisa menatap matahari di keesokan harinya, maka berbeda dengan apa yang saya alami dua hari yang lalu. Ini mungkin sepele. Jika dilihat dari kacamata orang banyak, ini tak bisa dikatagorikan sebagai perjuangan hidup yang sebenarnya, tapi bagi saya ini adalah pengalaman yang tak bisa dilupakan begitu saja.

Saya ini cuma mahasiswa dari kampung yang terdampar di Jakarta demi sebuah tugas kuliah. Ini memang bukan pertama kalinya saya pergi ke ibu kota. Tapi pengalaman ini membuat saya sadar bahwa apapun bisa terjadi di belantara Jakarta.

Tugas kuliah ini dijuduli “One Day with Journalist” oleh dosenku yang terhormat. Tugas ini mengharuskan saya bersama teman-teman satu kelompok untuk mencari seorang jurnalis yang mau kehidupannya terganggu dalam sehari karena kami harus mengikutinya kemanapun ia pergi. Tujuannya adalah agar kami mengetahui bagaimana kehidupan seorang jurnalis yang sebenarnya.

Setelah sekian lama mencari, akhirnya kami mendapatkan “mangsa”. Ia adalah seorang news anchor di salah satu stasiun berita televisi swasta ternama. Awalnya, karena teman sayalah yang bertugas mencari jurnalis yang bersedia kami kepo-i seharian itu, saya tidak tahu bahwa ternyata mangsa kami adalah seorang news anchor. Nilai plusnya adalah: dia KECE! 3:-D. Kekeceannya baru  saya ketahui sehari sebelum getting. Itupun karena saya cari tahu tentang dia untuk bahan wawancara. Saat itulah aku benar-benar merasa berterima kasih pada temanku yang cantik itu. Thank you, Dhita! :*

Acara berburu jurnalis kece itu dimulai saat kami mendadak harus ke Jakarta, Rabu, 14 November 2012 lalu karena kami terlanjut membuat janji dengan beliau hari Kamis keesokan harinya. Selama di Jakarta, kami menginap di rumah salah satu anggota kelompok kami, Bela.

Setelah semalaman suntuk kami mengonsep format wawancara, kami pun beristirahat sekita pukul 24.00 waktu setempat. Pukul 02.00 WIB kami harus mulai bersiap untuk menemui target kami karena beliau harus melakukan siaran pukul 04.30 sehingga pukul 04.00 kami harus sudah tiba di tempat. Setelah bersiap, pukul 03.00 kami berangkat dari rumah Bela di kawasan  Bekasi menuju studio di mana target kami akan melakukan siaran.

Pukul 03.45 kami tiba di stasiun televisi tempat target kami bekerja. Setelah bertanya pada satpam, akhirnya kami yang berseragam almamater Unpad diperbolehkan untuk masuk. Awalnya mereka heran kenapa pagi-pagi buta begini ada mahasiswa datang, dikiranya kami ini anak magang salah jadwal -___-“.

Kami naik ke lantai 3, di mana studio siaran berada. saat itu, target kami belum tiba di TKP. Di sana kami juga mendapat tatapan heran oleh orang-orang yang bertugas di sana, karena sekali lagi, ini jam 4 pagi, dan ada orang-orang beralmamater datang ke kandang wartawan. Tapi kami diterima dengan baik dan dipersilakan menunggu di salah satu spot yang lumayan ‘terlindungi’ dari mata-mata penasaran.

Pukul 04.00, akhirnya wartawan kami tiba, dan oooohhhh… dia ramah sekali. dan sekali lagi: KECE!

Setelah diminta untuk menunggu sekitar 10 menit karena beliau harus bersiap-siap, kami ditawari untuk masuk ke studio siaran dan melihat bagaimana proses penayangan berita pagi dari studio tersebut. Tanpa pikir panjang, kami langsung menerima tawaran tersebut. Kami pun masuk ke studio tersebut dan duduk lesehan di salah satu spot yang ‘aman’, artinya tidak akan mengganggu jalannya siaran. Setelah diwanti-wanti untuk tidak berisik, menyalakan ponsel, mengambil foto dengan menggunakan flash, dan ya… ‘bertindak konyol’, kami pun menikmati proses siaran tersebut. kami juga berkenalan dengan partner target kami dalam membacakan berita.

Selesai siaran kami pun merasakan momen yang kami nantikan sejak tadi: BERFOTO! [Bukan anak Fikom kalo nggak narsis :D]

Siaran selesai pukul 05.30 WIB. Setelah itu, tanpa diminta, kami diajak berkeliling ruang redaksi. Kami juga dikenalkan dengan beberapa ‘orang penting’ di sana. Terakhir, kami juga diajak untuk ikut bersama beliau mencari berita. Siapa yang akan menolak, karena untuk itulah kami ada di sana. Satu hal lagi yang membuat kami excited adalah karena apa yang akan diliput oleh jurnalis kami adalah kegiatan gubernur baru Jakarta, Joko Widodo. It means, kami akan ke Balai Kota untuk ikut meliput kegiatan Jokowi. Wuh, pengalaman lagi, nih!

Jam 07.00 kami berangkat dari studio. Kami menuju rumah dinas gubernur. Ternyata, di sana sudah ada banyak wartawan dari berbagai media, baik cetak, elektronik, maupun on line. Ketika Pak Jokowi keluar dari rumah dinasnya, para wartawan langsung naik ke kendaraan mereka masing-masing dan mengikuti mobil Pak Jokowi dari belakang. Well, kami tak sesigap itu. Akhirnya kami kehilangan jejak. T_T

Karena kami berbeda kendaraan dengan Jurnalis yang kami ikuti, kami langsung menghubungi beliau. Dari beliaulah kami tahu bahwa Pak Jokowi sudah sampai di Balai Kota. Di sana, ada lebih banyak wartawan. Jeng jeng..!

Para wartawan di sana ingin meliput Jokowi, dan kami di sana untuk meliput wartawan. Oke, fine!

Sambil menunggu liputan, kami akhirnya mendapat kesempatan untuk mewawancarai wartawan kami. Dan well, tindakan kami dicurigai oleh wartawan lainnya. Wartawan target kami juga jadi kikuk. Akhirnya, demi keselamatan hidup wartawan kece kami, proses wawancara pun dihentikan sementara.

Singkat cerita, proses pengintaian wartawan yang kami lakukan di Balai Kota kami anggap cukup. Karena rasa lapar yang tak tertahankan, kami memutuskan untuk kembali ke gedung stasiun televisi dan mencari sarapan. FYI, itu jam 10.00. Wartawan kami bilang sebelumnya bahwa ia pun sekitar pukul 13.00 akan sudah berada di kantornya. Maka kami memutuskan, tak apalah menunggu 3 jam saja di sini sambil beristirahat karena kami kurang tidur tadi malam.

Ternyata, tanpa diduga, target kami masih harus mengikuti aktivitas Jokowi di kantor Mabes Polri hari itu sehingga kami harus memperpanjang masa penantian kami -______-.  Kami akhirnya baru bisa kembali menemui target pukul 17.30 setelah ia selesai siaran sore. -______-”

Proses wawancara yang tadi tertunda, kami lanjutkan hingga selesai pukul 19.00. Dan di sinilah perjuangan hidup kami di Jakarta yang sesungguhnya dimulai.

Setelah proses kepo kami selesai, kami langsung memutuskan untuk pulang ke Bandung karena keesokan harinya adalah Hari Raya Idul Adha dan kami tidak ingin melewatkan proses sate-menyate bersama keluarga. Waktu itu memang sedang apes. Kami lupa  bahwa proses pulang tidak akan semulus yang kami bayangkan. Waktu itu adalah saat jam pulang kerja, dan tidak mudah untuk mendapatkan TransJakarta yang welcome buat kami. Kami akhirnya menaiki angkutan Trans Jakarta yang menuh sesak. Bau ketek dan bau keringat sudah bercampur begitu rupa. Ditambah lagi kami harus berdiri selama kurang lebih satu setengah jam dengan keadaan seperti itu.

Kami pun sampai di sebuah agen bis yang akan membawa kami pulang. Tapi ternyata, ooohhh…. banyak sekali umat manusia di sana. Semacam melihat lautan manusia yang sama-sama ingin nyate di kampung halaman. Sudah ada banyak orang yang membuka lapak tempat duduk di mana-mana, bahkan ada yang sudah menggelar tikar. Hellooo, itu jam 23.00, dan masih ada yang sudah mengantri sejak pukul 18.00 dan belum bisa berangkat. Lha kami???

Bis yang ditumpangi pun penuh sesak. Banyak yang tidak mendapatkan tempat duduk. Kami sudah tidak sanggup lagi kalau harus berdiri setelah satu setengah jam bberdiri di angkutan Trans Jakarta. Sekalinya kami berdiri, kami pasti harus terus dengan posisi itu sampai ke Bandung. Noooo!!!

Untuk bisa mendapatkan angkutan, kami harus mendapatkan nomor antrian. Dan untuk mendapatkan nomor antrian itu bukanlah dengan cara mengantri, melainkan kembali berdesakan, bergerombol, dan well, yang pasti sulit dilakukan oleh wanita mungil seperti gue. Dalam kelompok kami, ada satu orang laki-laki bernama Randi. Kami pun memaksa Randi untuk mau berjibaku mengambil nomor antrian untuk kami. Dan oooohhh… nomor antrian yang kami dapat ternyata sangat tidak cantik. Kami harus menunggu sekitar 4000 orang yang datang sebelum kami untuk bisa berangkat. Pilihannya adalah: cari alternatif angkutan lain, atau menggembel semalaman menunggu angkutan di sana. Ya, kami terancam tidak pulang!

Kami langsung menelepon sana-sini untuk mencari bantuan. Lambang S.O.S sudah terpampang di jidat kami. Saya langsung menghubungi keluarga untuk mengabari bahwa saya akan pulang sangaaaat terlambat. Tapi orang rumah nampaknya membaca kekhawatiran saya. Dan mereka ternyata lebih riweuh dari apa yang saya bayangkan sebelumnya. Saat itu saya ingat bahwa saya punya kerabat di Jakarta dan beniat untuk menumpang tidur semalam saja di rumahnya. Saya pun kembali menelepon orang rumah untuk meminta nomor telepon kerabat saya itu. Tak di sangka, ternyata kerabat saya pun ada di sana, dan rumahnya kosong! -_____-”

Saat itu malam lebaran. Ketika orang-orang sedang takbiran,  kami malah terancam menggembel di Jakarta. Saya melihat raut wajah lelah dan putus asa pada teman-teman saya. Sementara teman saya yang orang Jakarta sudah pulang duluan, dan kami berpikir bahwa kami tidak mungkin merepotkannya lagi. lagi pula, akses ke sana sangat jauh dan sulit. Tiba-tiba saya mendapat telepon dari keluarga. Kerabat saya yang tinggal di Jakarta menawari rumahnya untuk beristirahat semalam itu. Ia pun menunjukkan alamat rumahnya dan cara masuk ke rumahnya tanpa memakai kunci. Tanpa pikir panjang, kami menerima tawaran tersebut. Tentu saja, dari pada harus menggembel di terminal, lebih baik masuk ke rumah orang meskipun tanpa ada tuan rumah.

Kami pun mencari taksi. Satu masalah lagi, supir taksinya tidak tahu daerah yang kami tunjukkan itu. Dan well, gue nggak inget sama sekali di mana rumahnya. Untungnya Pak Supir berbaik hati mau mencarikan untuk kami, bertanya pada orang-orang, dan sebagainya.  Diperjalanan menuju rumah kerabat saya, di depan taksi yang kami tumpangi ada truk yang bertuliskan “PERJUANGAN HIDUP”. Kami langsung merefleksikan kalimat tersebut terhadap apa yang kami alami saat itu. Demi sebuah tugas kuliah, inilah nasib yang kami terima. Terima kasih dosenku yang terhormat!

Sampailah kami ke mulut gang di mana rumah kerabat saya DIPERKIRAKAN akan berada. Lagi-lagi, kami harus berjuang mencari rumah yang tepat. Kami pun menyusuri gang itu dan memastikan kami tidak salah masuk rumah. Dan… Jeng jengggg…. kami BERHASIL.

Malam itu bersepakat bahwa tidak akan mempermasalahkan jam berapa kami akan pulang. Kapan kita bangun, saat itulah kami akan berangkat pulang.

Kami pun tidur dengan damai.

Ehmmm. Ralat: kurang damai karena diganggu nyamuk-nyamuk ganas Jakarta yang kurang ajar!

Besoknya kami bangun pukul 9 pagi. Tak ada Shalat Ied, tak ada ketupat, tak ada gulai, tak ada sate -____-

Setelah sarapan, kami langsung berangkat pulang dan mengembalikan rumah itu seperti sedia kala.

Kami kembali sampai di terminal lagi sekitar pukul 11 siang dan masih terjadi antrian di sana, meskipun tidak separah semalam. Kami HANYA harus menunggu 500 orang lagi untuk naik, dan kami pun bisa duduk manis di dalam bis.

Singkat cerita, tepat pukul 1 siang, kami pun berhasil duduk di dalam bis yang akan membawa kami pulang ke Bandung. Sesaat sebelum keberangkatan, daerah itu diguyur hujan. Entah bersyukur atau apa… tapi kami tak sanggup lagi jika harus membayangkan kamilah yang terguyur hujan di luar sana.

Sementara saat itu, kami telah duduk nyaman di dalam bis dan bersiap untuk pulang.

Home🙂

_Azalea Dete

 

Hasil Perjuangan😀

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s