Perang Bubat

Perang Bubat

Di Kerajaan Sunda pada abad ke-14, hiduplah seorang putri nan cantik jelita bernama Citraresmi. Kecantikannya terkenal seantero Nusantara. Siapapun yang melihatnya tentu akan jatuh hati padanya. Tak hanya cantik rupanya, ia pun memiliki perilaku yang terpuji. Sebagai seorang putri raja, ia menjunjung tinggi nilai-niai kesundaan dalam dirinya.

Kabar kecantikan Citraresmi dari Kerajaan Sunda sampailah di telinga Hayam Wuruk, Raja Kerajaan Majapahit. Kala itu, Hayam Wuruk tengah mencari permaisuri. Maka, ia berniat untuk meminang Putri Citraresmi.

Namun, keinginan itu kurang disetujui oleh Mahapatih Kerajaan Majapahit, Gajah Mada. Raja Hayam Wuruk pun begitu terkejut karena tidak biasanya Gajah Mada menentang keputusannya. Ia pun bertanya pada Gajah Mada, “Paman Patih, mengapa Paman tidak menyetujui pernikahanku dengan Putri Citraresmi? Apakah Paman tidak ingin melihatku bahagia, bersanding dengan putri tercantik se-Nusantara?”

“Ampun, Rajaku. Bukannya aku ingin menentang keinginanmu. Tapi aku teringat sumpahku, bahwasanya aku tidak akan memakan buah maja sampai kupersatukan Nusantara di bawah panji Majapahit. Kerajaan Sunda ini adalah target penaklukkanku yang terakhir karena, sungguh, kerajaan ini adalah kerajaan terkuat, Rajaku. Namun jika Engkau hendak menikahi Putri Citraresmi, maka sumpahku tidak dapat terlaksanakan, Yang Mulia.”

“Tapi, Paman, aku sangat mencintai Putri Citraresmi dengan sepenuh hatiku. Lagipula, Paman, bukankah masih ada tali kekeluargaan antara Sunda dan Majapahit? Tidak sepantasnya kita memerangi saudara kita sendiri.” “Maaf, Yang Mulia Prabu, tapi sumpah harus tetap dilaksanakan,” tegas sang Mahapatih. “Tidak, Paman. Untuk Kerajaan Sunda, aku tidak ingin ada pertumpahan darah. Pernikahan akan tetap dilaksanakan. Persiapkan segalanya untukku, Paman. Lagipula, pernikahan ini juga akan mempersatukan kedua kerajaan ini, Paman. Tak perlu dengan penaklukkan,” ujar Sang Prabu.

“Baiklah, Yang Mulia. Akan segera kulaksanakan.” Gajah Mada pun keluar dari keraton untuk mempersiapkan pernikahan Raja Hayam Wuruk dengan setengah hati.

Di kerajaan Sunda pun terjadi diskusi yang sangat alot. Prabu Maharaja Linggabuana baru saja kedatangan tamu dari Majapahit yang hendak meminang putrinya untuk Raja Majapahit. Namun, utusan Majapahit itu mengatakan bahwa upacara pernikahan harus dilaksanakan di Kerajaan Majapahit, dengan kata lain, di pihak mempelai pria, dengan waktu yang telah ditentukan sepihak oleh Majapahit. Hal inilah yang memicu perdebatan antara Prabu Maharaja Linggabuana dengan adik kandungnya Bunisora Suradipati yang menjabat sebagai Mangkubumi, atau penasehat negara.

“Perasaanku tidak enak, Kanda Prabu. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Kerajaan Sunda, terutama pada keponakanku, Putri Citraresmi. Pertama, Majapahit telah menentukan sendiri tanggal pernikahan keponakanku dengan Raja Hayam Wuruk. Mereka tidak meminta pendapat kita terlebih dahulu, padahal kitalah yang menentukan terjadi atau tidaknya pernikahan itu. Kedua, upacara pernikahan akan dilaksanakan di pihak mempelai pria. Bukankah itu melanggar adat leluhur yang telah kita junjung selama ini?” ujar Bunisora.

“Baiknya, kita tanya dulu kepada Citraresmi sebagai calon mempelai. Bagaimana menurutmu, Nak?” tanya Prabu Linggabuana.

“Apapun yang Ayahanda dan Pamanda putuskan, aku akan menerimanya. Jikalau menjadi permaisuri Raja Hayam Wuruk adalah ketentuan dari Sang Hyang Seda Niskala di Mandala Bale Agung, maka aku akan menerimanya,” ujar Citraresmi halus, dengan kepala tertunduk tanda patuh.

Pada akhirnya, pinangan dari Raja Hayam Wuruk diterima. Dengan berat hati, Mangkubumi Bunisora pun menyetujui, meskipun ada sesuatu yang janggal bersarang di benaknya.

Singkat cerita, hari yang dinantikan pun tiba. Setelah menempuh perjalanan yang amat jauh melintasi darat dan lautan, akhirnya rombongan dari Kerajaan Sunda tiba di alun-alun Bubat seperti yang telah direncanakan sebelumnya. Menurut perjanjian, pihak Kerajaan Majapahit akan menjemput rombongan dari Kerajaan Sunda di alun-alun ini. Namun, sampai lewat dari batas waktu yang telah ditentukan, jemputan itu tak kunjung tiba. Maka, Prabu Maharaja Linggabuana mengutus dua orang kepercayaannya untuk pergi ke Keraton dan meminta kepastian.

Di Keraton Majapahit tampak telah banyak orang hadir. Namun kedua utusan dari Kerajaan Sunda merasakan sesuatu yang aneh. Di sana, kedua utusan itu diterima oleh Patih Gajah Mada. Kedua utusan pun lantas bertanya, “Mahapatih, mengapa upacara pernikahan tak juga dilaksanakan. Kami telah menunggu lama di alun-alun Bubat. Putri Citraresmi sudah siap untuk menjadi permaisuri Prabu Hayam Wuruk.”

“Hahaha. Begini, Ki Utusan. Tidakkah Ki Utusan melihat banyak orang telah hadir di Keraton Surawisesa? Mereka adalah raja-raja se-Nusantara. Hari ini adalah hari penyerahan upeti. Dan semua raja yang hari ini datang kemari adalah raja-raja yang takluk kepada kekuasaan Majapahit, dan mereka harus menyerahkan upeti sebagai tanda takluk mereka.”

Mendengar hal tersebut, kedua utusa itu terperanjat. “Apa maksudmu, Mahapatih? Negeri Sunda datang kemari bukan untuk menyerahkan upeti. Kami bukan negara yang takluk pada kerajaanmu. Kami datang kemari karena mengantarkan Putri Citraresmi untuk dipersunting Prabu Hayam Wuruk.”

“Itulah. Pernikahan akan tetap dilaksanakan, namun ada permintaan dari Raja Majapahit bahwasanya Putri Citraresmi harus diserahkan kapada Kerajaan Majapahit sebagai upeti. Baru pernikahan itu dapat dilaksanakan, supaya tidak melanggar adat.”

“Apa maksudmu Ki Patih? Itu di luar perjanjian. Kami sudah menempuh perjalanan yang sangat jauh. Tapi ini perlakuan yang kami terima. Tidak. Sekali-kali kami tidak rela Putri Citraresmi dijadikan upeti.”

“Tapi itu keputusan kenegaraan,” sahut Gajah Mada. “Tidak. Itu hanyalah keputusanmu sendiri saja, dasar Gajah Pengkhianat!” seru salah seorang utusan.

“Daripada kami harus menyerahkan Putri kami sebagai upeti, mati lebih terhormat bagi kami. Kerahkan seluruh pasukanmu. Kami tunggu di Palagan Bubat!” seru sang utusan sambil pergi dengan hati penuh amarah.

Di alun-alun Bubat, Prabu Maharaja Linggabuana dan rombongan Negeri Sunda pun tersentak mendengar penuturan kedua utusannya itu. Prabu Linggabuana lalu berkata, “Wahai, rakyat Negeri Sunda. Betapapun kita telah ditipu oleh Gajah Mada. Walaupun darah akan membanjiri Palagan Bubat, namun kehormatanku dengan semua Ksatria Sunda tidak akan membiarkan pengkhianatan terhadap negara dan rakyatku. Karena itu, janganlah kalian bimbang, belalah kehormatan diri kalian. Lawan!”

Tak lama kemudian, pasukan perang Majapahit datang mengepung alun-alun Bubat dari segala penjuru. Majapahit mengerahkan semua pasukannya yang berjumlah ribuan orang yang dipimpin oleh Patih Gajah Mada. Sementara itu pasukan Kerajaan Sunda tak lebih dari seratus orang yang terdiri dari para pangagung dan dayang-dayang istana. Mereka sama sekali tak mempunyai persiapan apapun untuk menghadapi perang ini. Meskipun demikian, pasukan Kerajaan Sunda tak gentar sedikitpun dalam menghadapi perang itu. Mereka telah bertekad untuk membela tanah air mereka sampai titik darah penghabisan.

Perang telah berkecamuk di Palagan Bubat. Pasukan Sunda yang terkenal sangat tangguh merubuhkan lima pasukan Majapahit dengan sekali tebasan pedang mereka. Tak ada yang tinggal diam, para perempuan pun turun ke medan laga, termasuk Putri Citraresmi dan Ratu Dewi Lara Linsing, dengan berbekal konde atau patrem dari sanggul mereka. Tak ada yang ingin membiarkan harga diri kerajaannya terinjak-injak oleh sebuah pengkhianatan seorang Gajah Mada.

Satu per satu pasukan Sunda rubuh, hingga sampai suatu ketika Prabu Linggabuana terkena tebasan pedang Gajah Mada dan akhirnya gugur. Dewi Lara Linsing pun demikian, yang tertusuk tombak pasukan Majapahit. Akhirnya, gugurlah semua pasukan Kerajaan Sunda, kecuali Putri Citraresmi yang dibiarkan tetap hidup.

Melihat ibu dan ayahnya gugur, Putri Citraresmi lantas menghampiri keduanya. Dipeluknya kedua orang yang disayanginya itu. Ia menjerit sekuat tenaga. Jeritannya menembus angkasa hingga menggemparkan dewa-dewi di Kahiyangan. Lantas ia menatap wajah Gajah Mada dengan tatapan penuh amarah. Dihadapannya, ia berkata sambil memegang erat patrem di tangan kanannya, “Darah. Tak rela kuberikan setetespun darah ini untuk Gajah Pengkhianat. Daripada harus menjadi upeti, mati jauh lebih terhormat bagiku. Awignam Astu, demi harga diri Negeri Sunda, jemputlah tetesan darah ini. Dirgahayu Negeri Sunda. Pun sapuun..!” Cleb. Patrem peraknya, menembus dada hingga ke jantungnya, dan ia pun gugur. Seketika, darahnya memancar keluar dan mengeluarkan bau yang wangi semerbak. Hal itu membuat prajurit Majapahit yang tersisa terkesima dan duduk berlutut.

Prabu Hayam Wuruk yang tengah gelisah menunggu kedatangan calon permaisurinya terkejut ketika salah satu raja yang hadir di sana melaporkan bahwa telah terjadi perang di alun-alun Bubat. Tanpa pikir panjang, Hayam Wuruk langsung menuju ke sana. Setibanya di Bubat, Prabu Hayam Wuruk terkejut melihat mayat bergelimpangan. Tatapannya tertuju pada seorang gadis dengan jubah putih yang telah berubah merah oleh darah. Ia lalu menghampirinya dan berlutut. Ia melepaskan kewibawaannya di hadapan Citraresmi. Ia mengambil selendangnya yang berlumuran darah dan menciumnya sambil menangis.

Sejak saat itu, Prabu Hayam Wuruk berjanji tidak akan mengganggu lagi ketenteraman Kerajaan Sunda. Ia menaruh hormat pada Kerajaan Sunda karena integritasnya menjaga kehormatan negaranya. Ia juga berjanji akan melindungi kerajaan Sunda dan memusuhi siapapun yang memusuhi Kerajaan Sunda. Dan Gajah Mada, karena merasa bersalah, sejak itu pula menghilang entah kemana. Dan Sumpah Palapa-nya akan tetap menjadi sumpah yang tak tertunaikan.

(Diadaptasi dari roman sejarah “Perang Bubat” atau “Sang Mokteng Bubat” karya Yoseph Iskandar)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s