Zaman “Edan”: Oh, ya?

Zaman “Edan”: Oh, ya?

Zaman ‘edan’. Itulah paradigma yang melekat di masyarakat tentang zaman yang kita alami saat ini. Maksudnya, zaman sudah tak ‘baik’ lagi seperti dulu: akan ada banyak kejahatan ditemukan di mana-mana; akan sulit menemukan orang baik di dunia ini; dan segala prasangka negatif lainnya. Zaman seolah tak lagi bersahabat. Zaman seolah telah menjadi musuh yang patut untuk diwasapadai.

Hal ini–menurut pendapat saya–terjadi karena banyaknya pemberitaan tentang kriminalitas yang dimuat di media massa. Lihat saja, hampir di setiap media cetak, terutama surat kabar lokal, menampilkan berita kriminal sebagai headline dengan judul tulisan yang dibuat besar. Belum lagi di media elektronik, terutama televisi, yang sampai menayangkan satu program khusus untuk berita kriminal saking banyaknya tindak kriminal yang diberitakan. Alhasil, hal tersebut membentuk persepsi negatif di tengah masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya.

Hal ini tentu berdampak besar bagi masyarakat. Orang jadi mudah paranoid ketika bepergian jauh, terutama jika menggunakan kendaraan umum. Seolah-olah dunia luar adalah liar dan sangat berbahaya. Mereka akan mendekap tas-tas dan barang bawaan mereka dengan erat, tak sedetikpun pandangan mereka beralih dari harta benda mereka. Mereka juga akan memperhatikan dengan seksama orang asing yang duduk di samping mereka, seakan waspada dan berhati-hati,  in case mereka adalah orang jahat.

Ya, orang juga jadi lebih mudah berprasangka negatif. Orang asing atau orang yang tidak dikenal kini dianggap sebagai orang yang patut untuk dicurigai. Lihat saja, kini banyak orang tua yang mendoktrin anaknya untuk tidak berbicara dengan orang asing dan tidak menerima apapun dari orang yang tidak dikenal. Semua demi satu tujuan: kewaspadaan.

Tak ada lagi senyum ramah. Tak ada lagi belas kasih. Tak ada lagi uluran tangan. Tak ada lagi empati. Yang ada hanyalah kecurigaan.

Nyatanya, di dunia ini masih banyak orang baik yang siap menolong dan mengulurkan tangan jika ada yang membutuhkan. Namun hal tersebut hanya bisa didapat setelah kita melakukan satu hal yang sederhana, tapi kompleks: percaya. Ketika kita percaya kepada seseorang, maka secara tidak langsung membuka diri kita untuk membiarkan orang lain juga turut mempercayai kita. Sebetulnya agak mirip dengan ‘the looking glass-self’-nya Charles H. Cooley, bahwa orang menginterpretasikan balik apa yang kita interpretasikan terhadap mereka.

Kepercayaan akan mencairkan kecurigaan. Alangkah indahnya jika kita saling percaya dengan sesama. Tak ada lagi kecurigaan terhadap orang yang tidak dikenal. Jika kita mau memulai, pasti bisa.

Langkah awalnya simple saja. Jangan sulit untuk menyunggingkan senyum ketika mata kita beradu dengan orang yang sama sekali tidak kita kenal. Kalau orang itu malah memalingkan pandangan, ya, abaikkan saja. Tak perlu gondok ataupun malu. Toh kita tak merasa rugi telah memberikan senyuman terbaik kita kepada orang lain.

percayalah. dari seulas senyuman, dapat menciptakan kebahagiaan, perdamaian, dan kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s