Upacara Adat Nyangku

Upacara Adat Nyangku

Pengertian, Sejarah, dan Proses Upacara

Nyangku, sebagaimana dikutip dari rosmellix.wordpress.com, adalah suatu rangkaian prosesi adat penyucian benda-benda pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora dan para Raja serta Bupati Panjalu yang tersimpan di Pasucian Bumi Alit. Nyangku sendiri berarti ‘Nyaangan Laku’ dalam Bahasa Sunda yang artinya menerangi perilaku. Konon istilah ‘nyangku’ juga berasal dari Bahasa Arab yaitu ‘yanko’ yang artinya membersihkan. Akan tetapi karena kesalahan pengucapan oleh lidah orang Sunda, maka yanko pun berubah menjadi nyangku.

Upacara adat nyangku biasa dilaksanakan oleh masyarakat Panjalu setiap hari Senin atau Kamis terakhir di Bulan Maulud (Rabiul Awwal). Hal ini dimaksudkan untuk memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW, yakni pada tanggal 12 Rabiul Awwal. Selain itu, upacara nyangku juga dimaksudkan untuk mengenang jasa-jasa Prabu Sanghyang Borosngora yang telah menyebarkan Islam di wilayah Kerajaan Panjalu. Upacara nyangku ini telah ada sejak zaman pemerintahan Prabu Sanghyang Borosngora. Tradisi ini dijadikan alat oleh Sang Prabu untuk menyiarkan Islam kepada rakyat Panjalu.

Upacara ini dimulai dengan mengeluarkan barang-barang pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora, seperti keris, kujang, maupun pedang dari Bumi Alit. Bumi Alit sendiri, sebagaimana dikutip dari rosmellix.wordpress.com, adalah bangunan kecil berbentuk panggung yang terletak di Alun-alun Panjalu. Barang-barang pusaka itu kemudian dibawa ke Situ Lengkong, sebuah danau di daerah Panjalu. Setibanya di Situ Lengkong, dengan menggunakan perahu, rombongan pembawa pusaka-pusaka itu menyebrang menuju Nusa Larang dengan dikawal oleh duapuluh perahu lainnya. Arak-arakan kemudian menuju makam Prabu Hariang Kencana, putra Hariang Borosngora, untuk melakukan ziarah. Selama arak-arakan, warga selalu mengumandangkan shalawat diiringi tetabuhan gembyung.

Setelah ziarah, pusaka kemudian diarak lagi menuju alun-alun Panjalu untuk ritual pembersihan. Di tempat tersebut benda-benda pusaka mulai dibuka kain pembungkusnya untuk kemudian dicuci dengan menggunakan air yang diperoleh dari tujuh sumber mata air dicampur dengan air perasan jeruk nipis.

Setelah dibersihkan, pusaka-pusaka tersebut kemudian diolesi dengan minyak kelapa yang dibuat khusus untuk keperluan upacara ini. Setelah itu, setiap pusaka dililiti dengan janur, lalu dibungkus lagi dengan tujuh lapis kain putih dan diikat dengan tali dari kain kafan. Selanjutnya, benda-benda tersebut dikeringkan dengan menggunakan asap kemenyan dan diarak kembali untuk disimpan di Pasucian Bumi Alit.

Selama proses upacara, dari mulai diambil dari Bumi Alit hingga disimpan kembali, pusaka-pusaka tersebut senantiasa digendong secara apik layaknya menggendong bayi. Hal ini dimaksudkan untuk menghormati pemilik pusaka dan pusaka itu sendiri. Konon, pedang milik Prabu Sanghyang Borosngora adalah pedang pemberian Sayyidina Ali bin Abi Thalib, sahabat Rasulullah SAW. Pedang tersebut ia dapatkan ketika Borosngora berkunjung ke Mekkah. Di pedang itu juga diukir kalimat dengan tulisan arab yang berbunyi “Inilah pedang milik Sayyidina Ali Karamallahu Wajhahu”.

Opini Penulis

Menurut hemat penulis, inti dari upacara nyangku ini sesungguhnya tidak banyak bertentangan dengan syariat Islam. Seperti yang telah disebutkan di atas, nyangku bertujuan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Adapun ritual pembersihan benda-benda pusaka tersebut hanyalah sebagai bentuk penghormatan masyarakat kepada Sanghyang Borosngora sebagai penyebar agama Islam di tatar Panjalu. Selain itu, pembersihan ‘pakarang’ tersebut bertujuan untuk merawat peninggalan sejarah agar tidak hilang atau bahkan terlupakan dimakan zaman.

Pelaksanaan upacara itu juga sesungguhnya memiliki substansi yang sama dengan upacara bendera setiap hari Senin atau setiap tanggal 17 Agustus; sama-sama menjalankan peringatan dan penghormatan terhadap sejarah. Pengagungan terhadap benda-benda pusaka sama halnya dengan pengagungan terhadap bendera dan lambang negara. Perbedaan dari keduanya adalah nilai-nilai yang terkandung dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Ada nilai-nilai nasionalisme dalam upacara kenegaraan dan ada nilai-nilai spiritual dalam upacara ritual adat. Jika melihat dari perspektif demikian, maka kita tidak perlu terlalu sarkastik untuk menilai upacara ritual nyangku—atau yang sejenisnya—sebagai tindakan kemusyrikan.

Berbicara mengenai kemusyrikan, hal tersebut bukan terletak pada pelaksanaan upacaranya, melainkan pada penafsiran individu. Alasan yang pertama didasarkan pada informasi bahwa upacara adat nyangku telah ada sejak masa pemerintahan Sanghyang Borosngora yang notabene telah memahami agama Islam—sampai telah mampu pergi ke kota Mekkah. Sehingga tentu tidak ada maksud dari Sanghyang Borosngora untuk ‘menyisipkan’ kemusyrikan ke dalam upacara tersebut. Dikutip dari rosmellix.wordpress.com, menurut sesepuh Panjalu yang juga masih keturunan Prabu Borosngora, R. H. Atong Cakradinata, didampingi putranya R. H. Edi Hernawan Cakradinata, tujuan dari kegiatan adat nyangku pada zaman dahulu adalah untuk membersihkan benda pusaka kerajaan Panjalu sebagai salah satu visi penyebaran agama Islam. Sama halnya dengan apa yang dilakukan oleh walisongo.

Kedua, Sanghyang Borosngora menyebarkan agama Islam kepada rakyat Panjalu yang ketika itu masih beragama Hindu dan berbudaya Hindu yang masih cukup kental. Maka perubahan dengan menghilangkan budaya Hindu tersebut secara sepenuhnya tidak dapat dilakukan sekaligus melainkan secara bertahap, mengingat rakyat Panjalu adalah rakyat jelata yang memiliki taraf pemikiran yang masih awam saat itu. Dalam budaya Hindu, selalu ada kepercayaan bahwa ada ‘berkah’ di dalam setiap ritual yang dilakukan. Maka dari itu, dalam upacara nyangku pun banyak terjadi salah tafsir—menganggap air cucian keris dapat mendatangkan berkah—dan kesalahan tersebut berlanjut secara turun temurun hingga kini. Padahal kepercayaan tersebut hanyalah sisa-sisa peninggalan budaya Hindu yang masih melekat pada masyarakat Panjalu kala itu.

Akan tetapi, masyarakat dewasa ini telah lebih paham dan lebih kritis dalam menanggapi persoalan agama. Mereka telah paham apa itu syirik. Oleh karena itu, semakin lama orang sudah tidak lagi menyakralkan air cucian keris, termasuk oleh keturunan kerajaan Panjalu itu sendiri. Upacara nyangku sekarang lebih bertujuan untuk melestarikan tradisi dan sejarah, terutama berkaitan dengan sejarah penyebaran agama Islam di tatar Panjalu. Bahkan, sebagaiman ditulis di rosmellix.wordpress.com, ketika warga tengah memperebutkan air cucian keris, salah seorang panitia penyelenggara langsung menyerobot ke tengah dan membuang air cucian keris tersebut agar tidak menyebabkan syirik. Kejadian tersebut menyiratkan bahwa penyelenggara acara sudah semaksimal mungkin berusaha agar hal-hal syirik tidak lagi terjadi dalam upacara nyangku.

Dengan semakin lunturnya hal-hal berbau syirik dalam upacara nyangku, maka keberlangsungan upacara ini setiap tahunnya tidak perlu dikhawatirkan lagi. Bahkan pemerintah setiap tahunnya selalu memfasilitasi kegiatan tersebut, selain untuk melestarikan kebudayaan daerah juga sebagai asset untuk perkembangan pariwisata lokal dan Pendapatan Belanja Anggaran Daerah, khususnya untuk Kabupaten Ciamis. Jadi, mengapa tidak kita melestarikan budaya daerah selama nilai-nilai agama masih dapat kita pegang teguh. Karena kebudayaan daerah hanya dapat dilindungi, dipelihara, dan dicintai oleh masyarakat daerah itu sendiri.*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s