Perempuan Baik (?)

Perempuan Baik (?)

Minggu lalu saya kedatangan seorang teman lama. Teman SMP. Kini ia bekerja di Jakarta, dan minggu lalu ia berkunjung ke Bandung untuk mengikuti sebuah kajian agama di kampusnya dulu. Lalu bergulirlah ceritanya tentang isi kajian itu yang menurutnya–menurutku juga–cukup menarik.

Katanya begini, ‘laki-laki yang baik pasti akan mendapatkan perempuan yang baik. Tapi perempuan baik belum tentu mendapatkan laki-laki yang baik.’

Saya terhenyak.

Teman saya menjelaskan, ada kalanya perempuan maupun laki-laki tidak mendapatkan pasangan sesuai dengan yang mereka harapkan. Bisa saja seorang laki-laki shalih berpasangan dengan perempuan yang, katakanlah, tidak seshalih si laki-laki. Begitu pula sebaliknya.

“Tapi bagaimanapun, perempuan itu harus baik, biar bisa menghasilkan generasi-generasi yang baik,” jelas teman saya.

Untuk poin itu, saya setuju.

Perihal baik dan buruk kualitas diri seseorang adalah sebuah subjektivitas manusia. Kebaikan dan keburukan adalah sebuah keniscayaan yang ada pada diri manusia. Tuhan menciptakan manusia berbeda dengan makhluk lainnya. Ia diberikan nalar dan nurani sekaligus, yang karenanya manusia bisa memiliki berbagai dimensi.

Wajah manusia bisa memiliki banyak sisi. Si A mungkin baik, sebab kau melihat sisi baiknya. Suatu saat orang lain bisa menilainya buruk karena melihat sisi buruknya. Maka kebaikan dan keburukan manusia seutuhnya hanya bisa dilihat oleh Dia yang maha melihat segala sesuatu.

Saya tidak bermaksud bicara agama. Namun dalil yang mengatakan perempuan baik untuk lelaki baik dan sebaliknya, hadir karena adanya konteks tertentu dan tidak berkorelasi dengan rumus perjodohan. Namun dewasa ini, untuk memotivasi para pencari jodoh, dalil tersebut kemudian diterjemahkan sebagai teori atau rumus mendapatkan jodoh idaman. *Tolong koreksi jika saya salah*

Tentu hal ini sah-sah saja, sebab tidak ada yang salah jika kita menganjurkan untuk memperbaiki dan memantaskan diri untuk mendapatkan jodoh yang sepadan.

Hal yang ingin saya tekankan adalah bahwa dengan siapapun jodohnya, menjadi baik adalah sebuah keharusan. Menjadi baik, dan ikhlaslah. Bukan menjadi baik dengan tujuan tertentu, salah satunya untuk mencari jodoh. Menjadi baiklah karena Allah menginginkan kita menjadi hamba yang baik, taat, dan bermanfaat bagi sesama.

Perihal jodoh, kita hanya tinggal percaya bahwa Allah akan memberikan yang terbaik bagi kita. Sebagaimana yang dikatakan dalam kajian teman saya itu, bahwa perempuan yang baik akan mampu menjadikan keturunannya menjadi orang yang baik, pun ia akan membimbing suaminya ke jalan yang lebih baik.

Demikian pula dengan para lelaki. Menjadi pemimpin yang baik bagi keluarga akan menghantarkan keluarga tersebut ke pintu syurga yang dijanjikan Allah. Ia yang akan membimbing anak dan istrinya ke jalan yang baik.

Keduanya tentu tidak semanis teori yang dikatakan. Ada proses yang harus dilalui dengan penuh kesabaran. Maka ketika sang perempuan mampu membawa suaminya, atau sebaliknya, lelaki mampu membawa istrinya, ke arah yang diridhai Allah, Dia akan memberikan apresiasi dalam bentuk apapun, bukan?

Akan selalu ada harga untuk setiap perjuangan mendapatkan ridha Allah. Tinggal sejauh mana kesanggupan kita menjalani itu semua. Wallahualam bishawab.

Demikian hasil diskusi panjang saya dengan si Teman. Kalau ada yang mau nimbrung, dipersilakan🙂

 

Penilaian

Penilaian

Aku ingin bertanya padamu, berhakkah kita menilai seseorang baik atau buruk? Siapa yang berhak menilai itu?

Aku baik? Siapa bilang? Kau tak tahu saja seberapa baikkah aku, atau apa ada keburukkan padaku.

Begitupun kau. Burukkah kau? Siapa bilang? Kupikir tak semua orang tahu bahwa kau juga baik.

Lalu menurutku, tak baik pula menilai kebaikan dan keburukan seseorang, karena yang baik belum tentu baik kelihatannya, belum tentu pula seburuk kelihatannya.

Hanya Tuhan yang tahu, dan hanya Dia yang berhak menilai. Kita? Tak usah repot-repot.

22.55
14.08.2016

Yuyun dan Perihal Keluarga

Yuyun dan Perihal Keluarga

Saat ini Indonesia tengah digegerkan oleh pemberitaan mengenai anak berumur 14 tahun bernama Yuyun yang diperkosa oleh 14 pemuda dan kemudian dibunuh. Mendengar hal ini saja sudah membuat bulu kuduk merinding. Apalagi, 7 dari 14 orang tersangka berusia di bawah 17 tahun, 5 lainnya berusia di atas 18 tahun, dan 2 lainnya–hingga tulisan ini dibuat–dikabarkan belum ditangkap (Baca selengkapnya di sini). Mengejutkan.

Sebagai rasa bela sungkawa dan bentuk keprihatinan masyarakat Indonesia, para netizen beramai-ramai menggunakan tagar #NyalaUntukYuyun dan #YYadalahKita di media sosial, terutama Twitter. Gerakan ini lantas mengundang perhatian terhadap kasus kekerasan seksual yang kerap menimpa perempuan. Hal ini tidak hanya karena kejadian ini tidak hanya bisa terjadi pada siapa saja, tetapi juga karena perempuan selalu menjadi korban namun tetap disalahkan dilihat dari berbagai sudut pandang. Saya, sebagai perempuan, jelas mengutuk tindakan tidak beradab yang dilakukan oleh pelaku.

Namun sebagai manusia, saya tidak hanya melihat kasus ini sebagai bentuk dari tindakan asusila, tidak manusiawi, dan kejam tetapi juga dampak dari berbagai aspek multidimensional. Sebagian besar pihak menyalahkan tayangan-tayangan pornografi yang tersebar melalui berbagai saluran komunikasi, terutama internet, yang saat ini sangat mudah diakses, termasuk oleh anak-anak. Saluran komunikasi tersebut dinilai menjadi biang keladi permasalahan ini terjadi.

Dewasa ini, teknologi informasi dan komunikasi telah merambah ke dalam berbagai aspek kehidupan. Seiring dengan perkembangan dunia, hal ini tentu tidak bisa dihindarkan. Teknologi informasi dan komunikasi sudah menjadi kebutuhan. Saya pikir, permasalahan tidak selesai di sini. Bukan teknologi yang salah, melainkan user atau pengguna teknologi tersebut. Ya, kita.

 

Perihal Keluarga

Saya tidak ingin membahas lagi perihal Yuyun dan keluarganya. Jelas, mereka adalah korban yang persoalannya tidak selesai sampai pelaku dihukum. Ada beban traumatik yang mungkin saja akan dialami seumur hidup oleh keluarga kecil itu. Yang ingin saya ulas adalah pelaku, dan keluarganya.

Media memang tidak mempublikasikan latar belakang keluarga pelaku. Ini tentu baik, secara moral dan etika. Namun demikian, bukan berarti kita tidak bisa belajar dari mereka, bukan?

Usia di bawah 17 tahun menurut negara disebut dengan anak-anak. Ya, para pelaku ini setengahnya belum dewasa, masih anak-anak. Namun bagaimana mereka bisa melakukan sesuatu yang sedemikian tercela padahal umur mereka, seharusnya, belum bersentuhan dengan hal-hal semacam itu: mabuk dan perilaku seksual yang diluar batas.

Sebagai makhluk behavioral, manusia akan sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan yang pertama kali dikenal oleh manusia adalah lingkungan keluarga, seperti apapun bentuknya. Lingkungan atau keluarga yang sangat menentukan karakteristik dan kepribadian manusia dinamakan significant other. Dari significant other inilah manusia akan melihat, meniru, dan belajar apapun yang ia butuhkan untuk memahami dunia dan hidupnya. Maka significant other ini penting. Penting, Saudara-saudara.

Saya percaya, tidak ada keluarga yang dengan sengaja memberikan pengaruh buruk terhadap anak-anaknya. Mereka umumnya tidak akan mengajarkan hal-hal tercela. Para orang tua ingin memiliki anak yang baik dan patuh. Lalu jika ternyata sang anak memiliki perilaku yang sedemikian tercela, mereka belajar dari mana?

Ya, lingkungan. Selain lingkungan keluarga, ada pula lingkungan pergaulan atau pertemanan. Dalam psikologi, jika lingkungan pergaulan ini lebih dominan, maka bisa jadi teman-teman yang berada di lingkungan inilah yang menjadi significant other. Merekalah yang akan lebih banyak mempengaruhi karakteristik maupun perilaku si anak. Pada tataran ini, keluarga menjadi berada di posisi nomor dua. Maka jika si anak memilih teman yang salah, kemungkinan ia akan terlibat di lingkungan yang ‘salah’.

‘Teman-teman’ yang salah ini juga merupakan mata rantai dari peristiwa yang kompleks. Sekali lagi, hubungan antara keluarga dan interaksi dengan lingkungan akan saling mempengaruhi.

Saya pernah dalam satu waktu mengikuti ceramah yang disampaikan oleh Ketua P2TP2A Provinsi Jawa Barat Netty Prasetyani Heryawan. Beliau mencontohkan kasus Emon (sekilas bisa dibaca di sini) yang dikatakan predator seksual terhadap anak-anak. Menurut Netty, bagi anak-anak yang menjadi korban Emon, Emon adalah sosok “pengganti orang tua mereka” sebab Emon memperlakukan anak-anak itu seperti teman, anak, keluarga, dan sebagainya. Artinya, anak-anak tersebut ternyata mengalami ‘kurang kasih sayang’ atau ‘kurang perhatian’ dari orang tua mereka sehingga mereka mendapatkan kasih sayang dari orang lain: Emon.

Emon sendiri menurut keterangan adalah anak dari keluarga yang miskin. Dan semasa kecil ia juga adalah korban pelecehan seksual. Siapa sangka, setelah dewasa ia melakukannya kepada puluhan anak (baca di sini). Sekali lagi, ini merupakan mata rantai dari berbagai situasi yang saling bertautan. Namun bukan berarti ini tidak bisa dicegah.

Hal yang saya ingin sampaikan adalah betapa situasi keluarga berdampak sangat penting, tidak hanya sebatas untuk tumbuh kembang anak tetapi juga stabilitas sosial di masyarakat. Keluarga harus cerdas dalam membimbing anak agar senantiasa mendapatkan pengetahuan yang cukup untuk menghadapi tantangan dunia masa kini.

Sebagai Ketua P2TP2A, Netty menggagas program 20 Menit Orang Tua Dampingi Anak. Program ini menganjurkan kepada keluarga untuk meluangkan waktu minimal 20 menit untuk mendampingi anak. Selama 20 menit tersebut orang tua disarankan untuk mengobrol dengan anak, baik untuk sekadar menanyakan kabar di sekolah maupun untuk memberikan edukasi kepada anak. Program ini tentu baik untuk dijalankan sehingga diharapkan orang tua akan terdorong untuk lebih memperhatikan dan meluangkan waktu bersama anak. Dengan demikian, anak akan lebih dekat dengan orang tua, mendapatkan perhatian dengan cukup, dan dapat terhindar dari berbagai pengaruh negatif di luar sana, sebab sedari rumah mental positif anak sudah dibangun dengan kokoh oleh keluarga.

Maka mari membangun keluarga cerdas dan bahagia. Hemmm… sama siapa yah? :p

Setengah Biru Setengah Merah (Part 2 – habis)

Setengah Biru Setengah Merah (Part 2 – habis)

Sepertinya sejak awal orang tuaku masih ragu mengijinkan anaknya jadi jurnalis. Di kampusku, pemilihan jurusan dilakukan di tahun kedua. Maka di tahun pertama ini, bapak ibuku mengerahkan segala daya dan upaya agar aku tidak masuk jurusan jurnalistik. “Masuk Humas saja,” kata mereka.

Alasannya? Karena image jurnalis di benak mereka adalah orang yang pakaiannya tidak rapi dan harus ‘kasak kusuk’ cari berita. Mereka tak ingin anak kesayangannya bersusah-susah karena itu.

Sebagian wartawan mungkin ya begitu. Tapi senior-seniorku di Jurnalistik banyak yang cantik dan ganteng. Dan yang lebih menarik, mereka cerdas dan kharismatik, menurutku. Ah, aku sudah terlanjur berhasrat ingin berjaket biru, jurnalistik. [!]

Jaket merah bagiku, waktu itu, kurang sangar. Hehe :p
Ya, begitulah. Ternyata pribadiku seliar itu. Mungkin aku keturunan Prabu Siliwangi. #lho

Sampai seminggu sebelum penentuan jurusan, aku masih memilih biru. Tak sekalipun goyah. Hingga suatu saat aku mengingat sebuah pepatah Baginda Kesayanganku, katanya: “Ridhallahu waridha walidain”. Artinya, ridha Allah adalah ridhanya orang tua. Maka luluh lantak semua pertahanan. Baginda menyuruhku demikian. Yasudah, aku ikut saja.

Akhirnya aku berjaket merah. Siap ospek bernyanyi lagu Thunderation.
“Thunder.. thunder..
Thunderation
We are PR Generation
When we fight with determination
We created sensation”
Mantap.

Dua minggu setelah penyerahan berkas penjurusan, tiba-tiba dapet SMS dari Bapak.
“Nden, masuk jurnalistik aja.”
Deg!

Awalnya kuabaikan sms bapak. Tapi sejam kemudian ibu menelepon.
“Nden, terima SMS dari bapak?”
“Iya ada.”
“Terus gimana?”
“Ya nggak gimana-gimana. Gimana atuh da udah telat. Udah masuk humas.”
“Ya kan mungkin masih bisa diganti.”
“Nggak ah. Nggak usah. Males ngurusnya. Nggak bisa.”
“Perlu nggak ibu yang dateng ke kampus buat minta ganti jurusan?”

Deg! Ini maksudnya apaaaaa??? Segininya nyuruh pindah jurusan. Padahal berbulan-bulan lalu sampai harus berdebat di warung pulsa sambil nunggu hujan buat ngebahas penjurusan, maksa harus Humas. Di situlah saya merasa sedih.
Bang Ogi saksinya, aku ramisak di teras sekre Lises.

Akhirnya percakapan berakhir dengan pernyataan bahwa aku tetap di Humas. Meskipun bingung, “Ridhallahi wa ridha walidain”-nya gimana? Orang tua ridhanya ke mana? Akunya durhaka apa nggak? Jadi merah apa biru? Saat itu aku sempat berpikir untuk pindah jadi ungu. Haha.

Akhirnya, karena sejak awal masuk Fikom adalah pilihanku, maka aku akan terus dengan pilihanku. Pada akhirnya masuk Humas bukan lagi jadi keputusan siapa-siapa. Itu keputusanku. Selalu jadi keputusanku.

***

Kini ada dua warna di hidupku. Cangkangnya merah, tapi isinya tetap biru-mungkin dengan bauran sedikit merah. Dan ya, aku bisa jadi keduanya. Dan satu catatan, aku juga bisa jadi yang terbaik di keduanya.

Saat Ospek di tahun 2012, aku menjadi yang terbaik dalam penulisan artikel. Dan, aku peserta terbaik saat ospek jurusan. Well, red is in my blood now.

Tahun 2013, aku terpilih menjadi peserta pertukaran pelajar ke Amerika Serikat untuk program New Media and Journalism. Journalism, sodara-sodara. Dan aku jadi siswa terbaik juga pada program itu. And yes, blue is still in my blood as well.

Dan tebak, sekarang aku bekerja menjadi keduanya. Menjadi jurnalis dan humas di saat yang bersamaan. Kurasa ini yang Tuhan bisikkan kepadaku, bahwa aku harus menjadi merah dan biru sekaligus. Bukan ungu. Tapi merah dan biru. Mungkin setengah-setengah. Tapi keduanya ada padaku.

Ya. Aku suka itu.🙂

Setengah Biru Setengah Merah (Part 1)

Setengah Biru Setengah Merah (Part 1)

Bagiku, hidup ini lucu juga. Kadang kita diajak untuk melakukan pencarian, bereksplorasi, membuat pembenaran, dan menentukan pilihan. Tapi ternyata, jawabannya ada di depan mata, di situ-situ juga. Mungkin tak semua orang mengalaminya, tapi itulah yang terjadi padaku.

Pernah kuceritakan padamu tentang hobi menulisku, pemilihan jurusan, dan apa yang kulakukan tentang ini dan itu. Tapi aku geli ingin menceritakannya kembali.

Sejak kecil sepertinya aku senang menulis. Waktu itu mungkin umurku masih 3 tahun. Kulihat bapakku yang seorang guru sedang mencoret-coret sesuatu dengan pulpen. Tahu lah, ya, tulisan bapak guru. Bagiku bentuknya seperti garis bergerigi, turun naik, kadang ada lengkungan yang lebih panjang ke atas dan ke bawah. Dan ada jarak antara gerigi yang satu dengan yang lainnya. Bapak menuliskannya dengan cepat. Aku suka.

Lalu kutiru gaya bapak, menulis bergerigi dengan lengkungan ke atas dan ke bawah, persis seperti yang dilakukan bapak. Entah menulis di buku apa waktu itu.

Kelakuanku ketahuan bapak. Ditanyanya, “Nuju naon?”
“Nuju nyerat,” jawabku.

Bapak mungkin iba melihat tulisanku yang aduhai itu. Caraku menulis ‘sok’ cepat sepertinya lucu waktu itu. Bapak lalu menawariku untuk belajar menulis. Aku setuju.

Entah bagaimana aku belajar, memoriku melompat ketika aku sudah bisa menulis. Aku lupa usia berapa. Yang kuingat, waktu itu sedang musim acara Tralala-Trilili di RCTI bersama Agnes Monica dan Indra Bekti. Masih ingat?

Aku masih ingat jelas. Sebab ketika aku sudah diajari menulis, aku menulis banyak hal. Aku menulis di mana-mana: di kertas, di buku, di lemari, di kaca, dan tentu saja di tembok. Dan nama Agnes Monica dan Indra Bekti-lah yang kutulis di tembok itu. Kira-kira tulisannya begini: “Tralala-trilili bersama Agnes Monica dan Indra Bekti.” Lalu kuhiasi awan-awan, bunga, bintang, dan burung-burung seperti angka 3 tidur.

Aku menulis apapun. Kutulis nama lengkap sepupu-sepupu dan om-tanteku di setiap buku yang kupunya, atau kertas kosong yang kujumpai. Aku punya buku khusus yang bersampul hard cover berukuran folio yang kuisi dengan nama-nama angkutan umum. Semuanya, mulai dari bis, mini bus, dan angkot. Kususun berdasarkan abjad.

Setiap kali berjalan-jalan dan menemukan nama angkutan baru, maka akan kuhapal lekat-lekat, kusebut namanya terus menerus, kuingat sampai pulang ke rumah, lalu menuliskannya di buku itu. Satu hal yang membuatku kecewa, kereta tak punya nama, tulisannya tidak ada.

Buku itu sekarang hilang entah ke mana.

Lalu ibu menggantinya dengan buku harian. Kata ibu, aku bisa menuliskan apapun di situ, dari mulai pengalaman, perasaan, atau apapun itu. Persis seperti yang kulakukan saat ini. Sayangnya aku terlalu sayang pada buku harian itu, sedikit saja kutulisi. Warnanya terlalu cantik dan lucu-lucu. Jadi, kusimpan saja jadi koleksi.

Di SMP, aku memulai debutku menjadi penulis betulan. Jadi jurnalis. Begitu syahdunya kata itu waktu itu. Jurnalis. Bukan mau sombong, tapi tulisanku dipuji Kang Buce, fotografer jurnalistik (lupa koran apa) yang cerdas luar biasa. Aku jadi semakin percaya diri dalam menulis. Tulisanku masuk juga ke koran lokal Ciamis, tak cuma di majalah sekolah. Banyak memori yang kusimpan selama meliput kesana kemari. Sangat berharga dan berpengaruh membentuk pemikiranku hingga saat ini. Maka saat itu kuputuskan, mungkin kelak aku akan jadi penulis.

Di SMA, meskipun sudah sangat jarang menulis, tapi cita-cita jadi penulis tak pernah padam. Aku ‘menghasut’ teman-teman agar mau mendorong sekolah untuk membuka jurusan bahasa, bukan hanya IPA dan IPS. Tapi sayang, kurang berhasil. Minimal pembukaan jurusan bahasa harus ada 20 orang yang mendaftar. Saat itu kurang 2 orang. Akhirnya aku masuk IPA.

Di kelas 3, aku bingung menentukan jurusan. IPA aku tak gairah. Sastra orang tua tak setuju. Maka kuserahkan perkara pemilihan jurusan pada ibuku saja. Terserah beliau anaknya mau jadi apa. Toh aku akan baik-baik saja dimanapun aku akan berada. Di jalur pertama, SNMPTN Undangan, ibuku memilihkan jurusan-jurusan yang fantastis: Ekonomi, Hubungan Internasional, Teknologi Pangan, Kedokteran Hewan, dan entah apalah aku sudah lupa. Dan semuanya gagal.

Aku tak kaget. Ibuku ketar ketir takut anaknya tak bisa kuliah. Nama baiknya dipertaruhkan.

Di jalur kedua, SNMPTN Tertulis, aku mendaftar dengan syarat: pilihan pertama aku yang tentukan, selanjutnya terserah ibu saja. Tanpa bilang-bilang, sudah ku’klik’ pilihan pertama. Pilihan selanjutnya pilihan ibu dan bapak.

Aku lebih berjuang keras untuk ujianku yang satu ini. Aku tak ingin tak masuk perguruan tinggi negeri, karena swasta mahal biayanya. Aku berterima kasih pada kakak kelasku Fauzan Ahdan yang bersedia jadi mentor belajar untuk ujian SNMPTN.

Kau tahu apa pilihan pertamaku? Ya, aku masih ingin jadi penulis. Aku ingin jadi jurnalis. Kupilih Ilmu Komunikasi. Dan… ya! Aku lolos dan diterima di Unpad. Aku sudah setengah siap jadi jurnalis.

Kehidupan yang Telah Lama Berlalu

Kehidupan yang Telah Lama Berlalu

Hai!

Sudah lama sekali tak pernah bersua. Perlu kubersihkan sarang laba-laba bertambal-tambal di blogku ini. Sudah apak pula baunya, dan berantakan isinya. Beginilah jadinya jika ditengok sesekali saja dan ditaruh sembarangan benda-benda entah apa ke dalamnya.

Aku berkali-kali bertanya pada diriku sendiri, mau kuapakan hobi menulis yang dulu pernah melambungkan namaku ini? Kini, mengakuinya saja aku malu, sebab tak pantas rasanya kukatakan senang menulis tapi faktanya jarang sekali kulakukan. Beberapa hari yang lalu, aku berada di kampung halamanku untuk waktu yang lama. Mungkin yang terlama sejak empat tahun terakhir. Tetiba kuingat guru SMP-ku yang mengajariku menulis. Apa kabar beliau? Ingin rasanya kutemui, tapi masih belum enak hati. Aku belum jadi apa-apa.

Meninggalkan hobi yang satu ini seperti mengkhianati kerja keras yang telah mengantarkanku pada titik ini. Aku tak pernah mengingkari, menulis mengajarkan banyak hal. Entah apa yang akan terjadi bila dulu tak pernah kumulai menuliskan kata-kata di majalah sekolah. Liputan pertamaku, jelas kuingat, adalah ketika grup band Gigi tampil di kotaku. Meriah dan hingar-bingar sekali. Diantar oleh Bapak ke Alun-alun Ciamis, aku membawa buku catatan kecil dan sebatang pulpen. Gerimis turun sore itu, tapi ini adalah pertaruhan pertamaku mendapatkan berita.

Aku lupa bagaimana mulanya. Yang kuingat adalah, aku yang paling junior di sana. Rupanya belum ada rekan lain seangkatanku yang diajak meliput. Dasar junior, aku ditinggal sendirian oleh para seniorku yang sudah lebih berpengalaman. Aku masih malu-malu mewawancarai bapak polisi, sendirian dan kebasahan, sementara para senior mungkin sudah masuk ke back stage dan berfoto dengan Armand Maulana. Tapi hari itu aku senang, aku liputan. Li-pu-tan. Besoknya, kuantarkan dua lembar berita tentang konser Gigi ke tangan guruku untuk dimuat di majalah sekolah edisi bulan itu. Yeay, beritaku dimuat!

Kemudian mengalirlah tugas liputan demi liputan, tulisan demi tulisan, dan… voila! aku jadi ketua ekskul ini.

Sayangnya, ternyata aku tak mampu melanjutkan “karir” jurnalisku ini di SMA. SMA bagiku adalah masa senang-senang. Entahlah, tak banyak pelajaran yang kuingat selain lagu cacing di mata pelajaran Biologi. Lagu cacing yang kumaksud adalah lagu-lagu yang liriknya diganti dengan materi siklus hidup berbagai jenis cacing. Ajaibnya, aku ingat liriknya hingga sekarang. Karena apa? Karena itu bagian dari “senang-senang”. Sementara pelajaran lainnya hanya sebatas menghiasi buku catatan saja, nggak sampai ke otak😀 Demikian pula dengan kehidupan tulis-menulis… hilang saja seperti bunga dandelion tertiup angin.

Padahal, ketika tiba saatnya aku masuk kuliah, lagi-lagi aku diselamatkan oleh ingatanku bahwa aku pernah senang menulis. Setelah mendaftar ke kampus ini itu, mengambil jurusan sana-sini yang hebat-hebat, aku tak lolos di lapisan pertama: SNMPTN Undangan. Hey, aku tak terpukul, tapi mungkin ibuku yang ketar-ketir, was-was kalau anaknya tak bisa mencicipi bangku kuliah. Ya, efek terlalu bersenang-senang di SMA. Lalu di tahap selanjutnya, kudaftarkan diri di jurusan Ilmu Komunikasi Unpad, dan ya, diterima. Mungkin memang sudah seharusnya aku kembali rajin menulis.

Tapi ternyata tak semudah itu. Sejak masuk kuliah, aku bercita-cita akan mengambil peminatan jurnalistik. Jelas, karena aku pernah jadi jurnalis, lebih awal daripada teman-temanku yang lain. Maka dengan mantap memutuskan akan masuk geng jurnalistik di tahun kedua nanti. Salah satu dosenku berhasil merasuki pikiranku, bahwa jurusan jurnalistik itu seperti Gryffindor, sang pemberani. Hey, Harry Potter adalah favoritku, dan jelas aku akan menjadi Gryffindor. Dan Humas adalah Slytherin yang jelas aku tak suka sebab aku tak suka Malfoy dan Snape (Saat itu, edisi ketujuh belum keluar).

Semua berubah ketika orang tua saya berkali-kali menyuruh saya masuk Humas. Katanya, nggak tega liat nden kasak-kusuk cari berita. Lalu selama ini apa?

Karena sudah bosan berdebat dengan orang tua masalah pemilihan jurusan ini, maka akhirnya aku mengalah dan memutuskan untuk menjadi Slytherin (in the end, aku bangga menjadi slytherin karena Snape ternyata seorang  pahlawan. Yeah! :D). Kukumpulkan formulir penjurusan ke bagian akademik. Guess what? Dua minggu setelah itu, orang tuaku menelpon, membujukku agar memilih Jurnalistik. Hey, apa-apaan ini?

And here I am now, lulus dari jurusan Humas, di Fikom Unpad, kampus terbaik se-Indonesia Raya.

Ini sebenernya isi tulisannya agak nggak nyambung dengan judulnya. Tapi tak mengapa, namanya juga latihan lagi kembali menulis. Maaf ya, Yang Baca :))

Constructing Meaning

Constructing Meaning

Sepertinya saya punya masalah dengan perkara memaknai. Atau pada tataran konstruksi makna itu sendiri. Padahal skripsi saya jelas tentang makna. (YA, sekarang Anda bisa meragukan isi skripsi saya).

Perkara makna memang tak mudah meskipun bisa dipelajari. Makna berasal dari konstruksi tanda-tanda yang ditafsirkan. Bagiku, hal yang paling sulit adalah menafsirkan tanda-tanda pada manusia. Sebagai seorang yang memiliki kepribadian ENFP, tak mudah bagiku untuk bisa menilai dan menentukan apa dan bagaimana terhadap sesuatu. Bisa dibilang, saya adalah decision maker yang buruk. Karena logika kalah dengan perasaan. Perasaan (Biar jelas). Terkadang antara realita yang terjadi dengan ekspektasi yang kita bangun sendiri bisa jadi bias, tak jelas mana batasnya.

Suatu hari aku bertemu dengan pria yang kusuka sejak SMA. Pertemuan kami memang timbul tenggelam, baik secara nyata maupun virtual. Secara fisik kami berjauhan. Jauh sekali. Tapi bagiku rasa suka itu tak pernah luntur hanya karena jarak. Tapi tetap saja, logika pun harus bekerja. Kupikir, tak ada gunanya menyukai orang yang tak bisa kuajak bersama. Maka kuputuskan untuk berpikir realistis untuk tidak lagi menyukainya. Kuyakinkan diri sendiri (atau membohongi…?) bahwa perasaan itu hanya sesaat saja, tidak nyata, dan tak perlu diteruskan.

Tapi ya begitulah. Bagaimanapun kuatnya usahaku untuk membuat keadaannya menjadi biasa saja, akan runtuh seketika hanya karena sebuah kata “heii” melalui SMS atau chatting darinya. (Dan ya, dia tidak tahu mengenai perkara tembok pertahanan yang jebol tambal ini). Meskipun sudah sempat menjalin hubungan dengan pria lain, tetap saja, laki-laki yang satu ini tak pernah bisa tergantikan. (Ya, ini memang membahayakan).

Maka ketika pada akhirnya setelah sekian tahun tak bertemu, pertemuan beberapa waktu lalu menjadi sangat berarti. Tak bisa kubohongi, bahwa sang perasaan yang mahakuat itu masih ada. Tapi realita tidak menunjukkan adanya tanda-tanda yang bisa dimaknai sebagai lampu hijau, konfirmasi. Tetapi perasaan selalu memberikan penyangkalan dan asumsi-asumsi lain yang seolah bisa dibenarkan.

Biasnya logika dan naluri dalam kondisi ini memang menyulitkan. Pada akhirnya kita membuat kesulitan kita sendiri dengan menjawab ya dan tidak secara bersamaan. Tak jarang terjadi inkonsistensi pada perilaku. Di suatu saat bisa jadi logika yang mengontrol perilaku, dan naluri bisa mengambil alih di saat yg lain pada kondisi yang sama. Alih-alih mendapat penjelasan, siapapun akan bingung menghadapi perilaku kita (atau saya) yang tak konsisten ini. Ya, begitulah.

Hal inipun berlaku pada proses pemaknaan. Suatu saat logika kita bisa memberikan makna tertentu pada tanda-tanda yg diberikan. Tapi dalam kondisi ini, seringkali naluri mengarahkan kita perspektif lain yang membuat makna menjadi bias, tak jelas, membingungkan, tapi bisa jadi benar.

Ini saya doang yang begini apa yang lain juga ya?