Tentang Teman yang “Dateng Pas Butuhnya Doang”

Tentang Teman yang “Dateng Pas Butuhnya Doang”

Akhir-akhir ini di linimasa Twitter dan Instagram story saya lagi rame soal “kawan yang datang hanya saat butuh”. Sedih saya bacanya. Apalagi hal itu kerap ditulis oleh influencer dengan follower ribuan, bahkan oleh akun “official”. Saya sedih bukan karena mengalami hal yang sama, atau beranggapan hal yang sama, tapi sedih melihat bagaimana mereka memaknai pertemanan. …dan khawatir, apakah mereka juga menganggapku demikian?

Isu tersebut muncul dari keresahan netizen yang merasa kawan-kawannya hanya mengontak dia saat ada butuhnya saja, saat ada maunya saja, sementara di luar itu tak pernah ada kontak. Bahkan yang tidak dekat pun menjadi ‘sok’ dekat karena ada perlunya. Ada yang salah?

Teman-temanku yang budiman, sejak kita mengenal dunia sosial, kita sudah dipertemukan dengan dunia pertemanan. Ada teman sepermainan, seperbrojolan, teman TK, teman SD, teman ngaji, teman SMP, teman SMA, teman les, teman ekskul, teman lomba, teman kuliah, teman organisasi, temannya teman yang dipertemankan oleh teman, ya teman. Di tiap kelompok itu, sebutkan ada berapa banyak temanmu.

Pun ada lagi orang yang mengkategorikan teman menjadi ‘teman’, ‘kolega’, atau ‘sahabat’. Bergantung pada seberapa dekat hubungan mereka. Soal kedekekatan ini pun relatif, tak ada ukurannya. Hanya dirasa-rasa saja. 

Dari semua daftar itu, berapa banyak yang masih stay in touch? Yang masih bertegur sapa, yang selalu menelepon setiap hari, yang masih ada kontaknya, yang masih bisa dihubungi…? 

Dan lagi apakah mereka yang tidak bisa dihubungi, tidak pernah bertegur sapa, tidak pernah nge-like postingan Instagram, tidak follow-follow-an di Twitter, tidak masuk grup chatting, atau tidak diketahui keberadaannya, lantas menjadi tidak berteman lagi?

Hari ini kita hidup di tengah tatanan dunia baru di mana konektivitas menjadi sangat berarti. Kehidupan sosial menjadi berubah di mana ruang privat dan ruang publik menjadi samar batasnya. Media sosial dan teknologi informasi dan komunikasi telah merubah semuanya. 

Jika melihat pada kasus tadi, saya belum paham, apakah mereka yang merasa terganggu dengan “teman yang datang saat butuh” ini menganggap bahwa teman haruslah yang setiap hari hadir di kehidupannya karena mengerti bahwa dewasa ini tidak ada alasan untuk tidak terkoneksi? Atau dia tidak mengerti bahwa mengoneksikan banyak teman itu butuh usaha yang sangat ekstra dan memakan waktu banyak sekali. Atau, mereka punya pengalaman buruk dalam pertemanan sehingga merubah persepsinya soal hubungan antar manusia? Entahlah, bukan kapasitas saya untuk menilai.

Sejatinya berteman adalah hubungan yang dijalin untuk saling memberi kebaikan. Kalau kata Wikipedia, pertemanan adalah istilah untuk menggambarkan perilaku kerja sama dan saling mendukung antara dua atau lebih entitas sosial. Sumber lain menyebutkan bahwa pertemanan melibatkan afeksi, keterbukaan, dan kepercayaan.

Jadi, pertemanan akan lebih baik jika bisa saling memberi manfaat kebaikan. Riwayat menyebutkan, kalau mau wangi, bertemanlah dengan tukang parfum. Kalau mau pinter, bertemanlah dengan orang pintar. Jangan lupa, jadilah sebuah kebaikan sehingga teman-temanmu juga bisa mengambil manfaat darimu. Hal ini agar konstruksi soal teman menjadi seimbang, bahwa berteman bukan hanya mengambil keuntungan, tetapi juga memberi manfaat. 

Maka ketika seseorang menghubungimu untuk meminta bantuan, maka selamat, kau dianggapnya seorang teman. Teman yang ia percaya bahwa kau ada untuknya, yang bisa diandalkan pada situasi sulit yang dialaminya, yang bisa ia temui saat sekadar butuh teman ngobrol. Bukankah orang yang meminta tolong adalah orang yang sedang mengalami kesusahan?

Kawanku, di sanalah peranmu sebagai teman, yaitu untuk menyalakan pelita dalam gelapnya, membuka jalan bagi kesulitannya, memberi harapan di tengah keputusasaannya, atau sekadar memberi bahu untuk bersandar. Kamu dianggapnya sebagai penolong yang ia percayai. Bukankah itu sangat menyenangkan ketika kehadiran kita berarti untuk teman-teman kita? Mending dianggap apa tak dianggap, hayo?

Hadirnya teman-teman yang datang pada kita bisa diartikan bahwa Tuhan memberi kita kepercayaan untuk bisa menjadi orang yang bermanfaat, orang yang dipercaya, dan bisa diandalkan dalam situasi sulit. Maka bersyukurlah akan hal itu.

Bukankah Tuhan telah berjanji jika kita menolong dalam kebaikan, maka Tuhan pun akan menolong kita?

Jika selama ini dia tidak menghubungi kita, bukan berarti ia tidak ada untuk kita. Saya sendiri percaya bahwa berteman bukan berarti harus Whatsapp-an setiap hari. Tetapi saya yakin teman selalu ada untuk kita. Manakala dia tak bisa membantu, bukan berarti ia tidak mau. Tak perlulah berburuk sangka dahulu. Tentu ada hal-hal yang kita tidak tahu.

Soal bisa menolong atau tidak, itu soal lain. Jika memang sedang dalam kapasitas tidak bisa membantu, katakan saja. Upayakan seperlu dan sebisanya. Tak akan ada yang menyalahkan itu. Tapi dengan mem-block orang yang membutuhkan bantuan melalui cuitan di media sosial, kuharap kita semua bisa mempertimbangkan lagi.

Hal yang kutakutkan adalah, apa yang dikatakan di media sosial tentang sikap kepada teman itu, meski terlihat sepele, tapi bisa merubah paradigma tentang pertemanan yang seharusnya mulia. Bagaimana jika orang yang sangat membutuhkan itu tak bisa mencari bantuan karena takut dicampakkan oleh teman sendiri? 😭😭😭

Jadi, tak perlu risau dengan teman-teman yang ‘cuma dateng pas butuhnya doang, ingetnya kalo lagi susah, pas seneng sendirian aja’. Kamu pun sepertinya patut berhati-hati ketika nge-tweet kalimat itu dan dibaca oleh teman-temanmu. Bayangkan apa yang akan mereka pikir tentangmu. Aku khawatir, mereka akan ragu datang kepadamu. Aku pun khawatir, ketika kamu yang mendapat kesulitan, kamupun ragu menghubungi teman-temanmu yang mungkin sebetulnya sangat bisa menolongmu. Aku khawatir, kamu kehilangan teman-temanmu. Semoga saja tidak 🙂

Satu hal yang kupahami adalah bahwa teman tetaplah teman, meski sudah lama tak bertemu, meski tak mengucapkan selamat ulang tahun, meski tak tiap hari kirim whatsapp, meski tak datang saat wisuda, meski tak menyimpan nomor kontak, meski tak pernah foto bersama, meski tak tahu di mana rumahnya atau siapa bapaknya, atau bahkan lupa namanya, tapi siapapun yang pernah mengenalku, kita tetap teman. Dan kamu bisa datang padaku kapan saja jika diperlukan. Tak perlu sungkan karena merasa tak dekat atau jarang merapat.

Kita berteman!

Renungan Tengah Malam

Ciamis, 1-4-2018 | 01.12

Iklan
Derita Membawa Pelita

Derita Membawa Pelita

Manusia telah diberi kodrat untuk hidup dalam dua sisi berpasangan, siang dan malam, gelap dan terang, senang dan sedih. Akan ada satu masa kita tak hanya mengalami hal-hal baik, tetapi juga yang buruk. Dan itu sah-sah saja. Pun soal rasa sedih.

Banyak orang mengutuk kesedihan. Mereka menjadikannya noda yang harus segera dihilangkan. Namun bagi sebagian orang, kesedihan bukan hanya sekadar untuk dialami, tapi juga dijadikan hikmah, pelajaran, bahkan untuk kebaikan. Kepada orang-orang ini, ingin kusampaikan seribu penghormatan, sebab merekalah orang-orang kuat yang mampu bangkit dari jatuhnya, merekalah orang-orang cerdas yang selalu belajar dari salahnya, serta orang-orang dewasa yang baik hati yang menjaga agar orang lain tak mengalami kepiluan yang menimpanya.

Suatu hari kutemukan orang semacam ini datang padaku dengan segala kejutan yang dibawanya. Seorang teman–dulu tidak bisa dibilang dekat karena aku hanya berinteraksi beberapa kali saja–tetiba menghubungiku untuk sekadar bersilaturahmi. Kala itu, tepat di saat aku sedang sangat-sangat butuh bertemu dengan banyak orang, siapapun, untuk tujuan tertentu: menghilangkan kegelisahan. (Ah, ya, bagiku, bertemu dengan orang-orang yang menyenangkan cukup bisa menghilangkan kepenatan, bahkan kesedihan. Sesederhana itu.)

Maka kukatakan “ya” pada ajakannya. Siapa yang bisa menolak diajak ke warung kopi, eh?

Di sana, mengalirlah cerita-cerita kehidupan. Tentang bagaimana aku bersikap pada pilihan-pilihan, tentang dia yang juga dikejar banyak tuntutan, bahkan curhat tentang rasa kehilangan. Ehm, begitulah cerita dimulai.

Rasa kehilangan telah mengubah dirinya. Begitu intinya. Ia sempat merasa terpuruk saat ditinggalkan orang yang sangat ia pedulikan. Rasanya begitu sakit hingga sulit disembuhkan. Trauma yang dirasakannya bahkan belum hilang sepenuhnya. Ia berada pada titik nadir detak kehidupannya.

Kini, ia telah kembali menjadi sosok yang baru. Pil pahit yang ditelannya mengubahnya menuju arah yang baru. Kejadian yang lalu memang belum bisa ia lupakan. Ia simpan rapat-rapat dalam kenangan. Tapi bukan berarti ia tidak punya kekuatan.

Lalu ketika ia mendengar aku mengalami hal yang sama dengannya, ia langsung menghubungiku. Ternyata, untuk itulah ia mengajakku bertemu waktu itu. Katanya, siapa tahu dia butuh teman untuk meluapkan segalanya. Katanya, ia pernah mengalami itu, dan tahu bagaimana rasanya. Makanya, ia merasa harus berbuat sesuatu. Ia tak ingin aku berakhir seperti dirinya.

Mendengarnya, jujur saja aku terharu. Tak pernah kukira ia akan berbuat seperti itu. Semula bahkan kupikir akan kusimpan sendiri saja masalah ini. Toh orang lain belum tentu peduli.

Ternyata, datanglah ia dengan segudang motivasi untuk bangkit. Berangkat dari pengalamannya yang terbilang pahit, ia mencoba menahanku agar tidak jatuh sakit.

Ada satu hikmah yang kupetik. Bahwasanya kesedihan tidak melulu berakhir merana. Dari kepiluan, bisa tumbuh pula kebaikan, tak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk orang lain.

Mampu bangkit dari kesedihan adalah kekuatan. Tapi yang lebih kuat adalah menjadikan kesedihan itu jadi kebaikan untuk membangkitkan orang lain dari kenestapaan.

Asal Muasal Panggilan “Nden”

Asal Muasal Panggilan “Nden”

Nama saya Nurul Asri Mulyani. Tapi suka dipanggil Nden. Kunaon cenah tah?

Sudah ribuan kali saya menerima lontaran pertanyaan, “Nden dari mananya?” “Kok Jauh banget dari Nurul jadi Nden?” dan pertanyaan-pertanyaan sejenis. Jadi, untuk menjawab kepenasaranan netizen, akan saya ceritakan asal muasal nama “Nden”. Silakan disimak. *tring

Dalam nama Sunda, ada nama “Nenden” yang banyak digunakan untuk menamai nama perempuan. Artinya kurang lebih adalah “Bangsawan”. Ciyeee eykeu bangsawan gituh? Heuu.

Mirip-mirip lah yaa, dari Nden ke Nenden. Orang kira, panggilan Nden itu dari nama Nenden. Kalau pemirsa mau nyari rumah saya di Ciamis, lalu tanya ke tetangga, jangan cari nama Nurul. Nggak akan ketemu. Kecuali kalau nanya ke Pak RT, atau guru ngaji saya. Tetangga saya tahunya adanya nama Nenden. Neng Nenden, putrana Pa Guru Nanang. Wkwkwk.

Tapi sesungguhnya, panggilan Nden juga bukan berasal dari nama Nenden. Perlu diperhatikan, Nurul Asri Mulyani tidak mengandung kata “Nenden” sama sekali.

Berdasarkan penjelasan ibu saya, yang adalah pencetus nama panggilan ini, Nden memang bukan diambil dari nama Nenden.

“Lantas kenapa orang-orang tahunya nama Nenden kalau ternyata bukan itu,” tanyaku pada ibu suatu hari.

“Itu gara-gara Nden sendiri. Dulu waktu masih belum lancar bicara, kalo orang nanya nama, Nden jawabnya ‘den-den’ karena belum bisa nyebut ‘Nden’ dengan baik dan benar,” jawab ibu. Jadilah orang-orang memanggil dengan nama Nenden. Pun mungkin lebih lumrah nama Nenden ketimbang sebutan Nden saja.

 “Nden” memang agak lebih sulit dilafalkan, sih. Dulu aja saya ngasih tahu ke orang tua angkat saat homestay di Amerika soal panggilan “Nden” mereka sama sekali nggak bisa mengucapkan itu. Jadi, tetap saja manggilnya “New-Rule” hehe.

Saking melekatnya nama Nenden, saya pernah punya sertifikat Pesantren Kilat dengan tulisan Nenden, yang mana langsung saya “tipe X” sendiri dan saya ganti dengan nama yang seharusnya. Hahaha. Namanya juga bocah.
“Tapi da ibu mah nggak pernah bilang Nenden. Nden,” tegas Ibu. Oke.

Terus apa itu Nden?

Jadi, lanjut ibu, Nden itu panggilan kepada anak perempuan Sunda, seperti halnya Neng, atau Non untuk bangsawan Belanda. Nden itu dari kata “Aden” atau “Raden”. Diambil belakangnya doang, “den”. Dikasih imbuhan N khas Sunda. Jadi weh Nden. 

Iya, sesimple itu sesungguhnya.

Tapi buat ibu, ada tujuan tersendiri kenapa panggilan Nden itu dilekatkan ke saya. Katanya, meskipun saya ada keturunan Raden, tapi bukan itu alasannya. Toh kalau gelar raden itu nggak diturunkan ke anak perempuan. Pun hari gini nggak ngaruh sama sekali gelar raden itu. Kerajaannya udah nggak ada. Kalau kata ibu, punya gelar raden itu “Teu payu kana tahu tahu acan.” haha.

Jadi, panggilan Nden disematkan adalah sebagai do’a, agar perilaku Nden seperti halnya seorang raden, yang anggun, berwawasan, berwibawa, bijaksana, disiplin, dan segala sifat yang baik-baik yang biasanya dimiliki oleh orang-orang teladan.

Mungkin bagi ibu, it’s not about nobility. Instead of being a noble man, having a noble heart is the more important.

Apakah doa ibu sudah terkabul? Heuuu. Maapin yah da aku mah sebegini adanya.

Anyway, di keluarga dari pihak ibu, punya nama panggilan yang berlainan dari nama asli adalah lumrah. Mamang saya, namanya Mamat Komarudin, panggilannya Ujang. Sepupu saya, namanya Saepul Alam, panggilannya Ageng. Adiknya Ageng, panggilannya Ajeng, padahal namanya Kartika Sari. Jarauh pan? Yah, begitulah.

Legenda Angling Darma dan Film Laga Indonesia

Legenda Angling Darma dan Film Laga Indonesia

Beberapa tahun terakhir ini, saya sudah sangat jarang menonton TV. Selain karena sudah tidak tinggal di rumah dan di kosan tidak ada TV, saya pikir saya sudah mulai kurang suka dengan konten tayangannya.

Tapi akhir-akhir ini, saya cukup sering nonton TV karena baru beli TV baru. Hehe. Yang saya tonton juga cuma tiga jenis tayangan, kalau bukan berita, ya acara kartun, atau sesekali film box office di malam hari.

Hari ini, saya tune channel ke RTV, ada tayangan Legenda Angling Dharma. Bukan film baru tentunya, tapi film laga jaman dulu yang ditayangkan ulang.

Saya bukan pakar film, tapi sebagai penonton awam, saya senang dengan tayangan ini. Baru sekarang ini sih saya tonton, karena dulu nontonnya cuma sampai Wiro Sableng. Film laga lainnya saya nggak sempat tonton ‘intensif’ se-intensif Wiro Sableng karena keburu masuk SMP yang pulangnya selalu sore hari.

Kembali ke Angling Dharma di RTV, saya suka sekali karena film laga zaman dulu dibuat dengan sangat total. Film-nya termasuk kolosal, karena pemainnya sangat banyak, meskipun cuma jadi cameo sebagai prajurit.

Yang paling saya suka adalah kostum dan propertinya. Sangat “niat”, sangat detil. Suasana klasik kerajaan zaman dulu sangat kentara, dari mulai desain ruangan, artefak dan dekorasi, sampai detil pernik ukiran, singgasana, dan lain-lain terlihat “meyakinkan”. Kelihatannya betulan, bukan editan di green screen.

Kostumnya juga bagus pisan. Jadi kebayang kalau Lises yang pake. Sewanya berapaeun ya? Haha. Salut banget sama tim artistiknya.

Di beberapa adegan terlihat ada gerbang kota. Dibuatnya seperti terbuat dari batu, bukan dari kardus atau kertas semen yang dicat. Hehehe. 

Bagi saya, yang bikin bingung adalah alur ceritanya. Itu jelas, karena saya nggak nonton dari episode awal, mulainya dari tengah-tengah (mungkin), atau mungkin karena cerita yang menclok-menclok? Selain itu, nama tokohnya juga sangat banyak. Agak lumayan ribet ngafalinnya, karena namanya jadul banget: Singamandala, Bahadur, Sikhasmala, Suliwa, dll.

Well, hari gini, film–yang menurut saya–berkualitas ini sudah jarang diproduksi. Yang ada adalah film laga yang dipadukan dengan suasana modern, yang menekan biaya dengan memperbanyak editing green screen ketimbang menciptakan suasana aslinya.

Padahal, kalau film laga klasik itu bisa diproduksi lebih serius, bisa jadi akan lebih disukai, bahkan dapat dijadikan media promosi dan diplomasi ke luar negeri, sebagaimana drama korea yang menginvasi Indonesia.

Kita memang belum punya produk yang memiliki diferensiasi sendiri. Kalau drama romantis sudah ada dari korea, bukan tidak mungkin laga klasik bisa datang dari Indonesia.

Hanya pikiran saya saja. 🙂

Abai

Abai

Minggu lalu saya mendapat undangan dari Kedutaan Besar Amerika–lagi, setelah sekian lama. Undangan terbatas itu ditujukan kepada alumni program Amerika Serikat yang saat ini berdomisili di Bandung. Saya bahkan ditelepon oleh koordinator alumni saya, Mbak Stella, untuk memastikan kehadiran saya di acara itu.

Setelah saya mengonfirmasi untuk bisa hadir, hingga hari H, saya merasa tidak mendapatkan e-mail lanjutan, tentang apa yang harus saya persiapkan, atau pukul berapa saya harus datang. Setelah mengirimkan email memang penerima tidak langsung mengonfirmasi apakah e-mail saya sudah diterima atau belum.

Karena saya diberitahu bahwa yang hadir itu harus mendapat konfirmasi dari penyelenggara, maka saya menunggu konfirmasi tersebut sampai H-1. Kedutaan Amerika terkenal sangat ketat soal keamanan, coba saja datang ke kantor kedutaannya, kamu akan melalui beberapa kali pengecekan keamanan. Tamu yang datang pun harus terdata di sistem mereka sebelum bisa masuk.

Karena pengetahuan itu, saya tidak datang pada saat hari-H. Dan hari ini, saya membaca berita tentang kunjungan Duta Besar AS untuk Indonesia di media online hari Sabtu lalu. Wah, sepertinya menarik dan akan luar biasa jika saya berada di sana, pikirku.

Lantas saya iseng mengecek e-mail yang terdaftar pada akun alumni program AS, yang memang berbeda dengan email yang saya gunakan sehari-hari. Ternyata… e-mail balasan itu ada!

Seketika menyesal tidak mencermati e-mail yang kuterima satu-persatu. Sebagian besar isi e-mail yang kudapat memang hanya notifikasi-notifikasi langganan e-newsletter dari beberapa media dan kursus online. Jadi, seringkali saya abaikkan e-mail itu sampai kutemukan waktu untuk membacanya satu-persatu. Nyatanya, satu e-mail mahapenting itu tanpa sengaja terabaikan juga.

Sedih, ih.

Soal pengabaikan ini, rupanya, pernah terulang sekali waku dulu, ketika aku hampir saja gagal berangkat pada program yang membawaku keliling Amerika itu. Aku abai memperhatikan persyaratan pembuatan foto visa.

Foto visa Amerika memang punya kriteria khusus, mulai dari ukuran hasil cetak, proporsi gambar terhadap bidang foto, sampai posisi fotonya. Khusus untuk yang berkerudung seperti saya, ada juga persyaratan khusus, di mana telinga saya harus tetap terlihat, meskipun sekarang aturan itu sudah berubah. Alhamdulillah.

Nah, dulu itu saya datang ke tempat foto tanpa membawa catatan persyaratan itu. Alasannya, lupa. Iya lupa. Maka kupercayakan lah pada Mamang Tukang Foto yang katanya sudah biasa mencetak foto untuk visa. Kukirimkan foto itu ke kedutaan, dan ketika diterima oleh Mas Heru, administrator saya kala itu, ia marah-marah karena fotonya tidak sesuai dan mengancam batal memberangkatkan saya karena kelalaian itu. Alasannya: menghambat proses administrasi dan akomodasi dan transportasi dan logistik dan segalanya.

Besoknya saya bolos kuliah demi pagi-pagi nyari tukang foto di Jatinangor agar bisa mengirimkan fotonya hari itu juga.

Perihal abai-mengabaikan ini sepertinya kebiasaan yang, tentu saja, harus kuhilangkan. Kusadari banyak hal yang kuabaikan di tengah berbagai hal yang harus lebih fokus kuperhatikan: mengabaikan kesehatan, mengabaikan kerapian kamar, mengabaikan pesan di grup obrolan media sosial, mengabaikan baju kotor di bak cucian, mengabaikan ajakan teman, dan lain-lain.

Mungkin aku juga pernah mengabaikan kamu. Maaf yaa 😦

Jika itu terjadi lagi, tolong ingatkan saya, ya!

Bertemu

Bertemu

Setiap hari, kita berpapasan dengan banyak orang. Sejak keluar rumah, berjalan menuju tempat kerja, sekolah, rumah sakit, taman bermain, ke manapun. Ada banyak orang yang melintas, bertemu muka, berkontak mata, saling melempar senyum. Namun kemudian berlalu.

Ada juga yang sempat bertegur sama. Bertanya kabar, atau berbasa basi sekadar bertanya “mau ke mana?”. Lantas, kembali berlalu.

Kita banyak berhadapan dengan orang lain. Tapi seberapa banyak kita benar-benar bertemu?

Bagiku, bertemu tidak sekadar bertatap muka dan beradu sapa. Bertemu itu beda. Semacam ada jejak yang ditinggalkan. Ada bahagia yang terbawa, ada harapan yang tersimpan, ada janji yang harus ditepati, ada pesan yang harus disampaikan, atau ada luka yang harus dilupakan. Itu karena bertemu.

Lalu bagaimana jika bertemu, tapi tidak merasakan itu?

Sabtu siang ini aku bertemu teman-temanku. Kau tahu, setelah itu, ada kehangatan yang sudah lama tak ada… Haru, aku. Malamnya, aku juga bertemu dengan teman yang lain. Tapi ya gitu, seperti nggak ketemu. Berlalu begitu saja.

Buatku, jika sudah bertemu, enggan rasanya waktu berlalu. Lalu rindu setelah satu dua waktu.

Kalau sudah bisa melakukan apapun dengan orang yang membawa kehangatan padamu, kamu bisa jadi dirimu, berpikir sebagaimana layaknya kamu, bertingkah sebagaimana kamu berlaku, berimajinasi, bertukar isi hati, hepi-hepi, ngopi-ngopi.

Bertemu…

… apapun itu pastilah ada sesuatu. Bertemu itu, mengubah hidupmu.

Plan doesn’t work well for me

Plan doesn’t work well for me

I’ve never planned to leave Bandung today. I planned to go tomorrow. But in fact, I am leaving now.

Tapi sepertinya, aku memang tidak seperti perempuan kebanyakan, yang hidup dengan rencana dan persiapan. Me? Definitely not.

Sekarang aja pulang ke Ciamis beneran nggak bawa banyak barang. Isi tas cuma dompet, hape, charger, sama power bank. My life kit. Kebutuhan primer di saat apapun. Haha. (yaaa… ditambah sebongkah bedak dan sebatang lipstik sih). Ditambah baju ibu yang bulan lalu ketinggalan di kosan. Eh, banyak.

Kesimpulan ini kubuat setelah pengalaman bertahun-tahun (sepertinya). I could easily cancel my one-decade-planned agenda just because one sudden reason that change everything. It might happen to everyone sih, but not as often as to me, kayaknya.

Seperti hari ini…

Aku memang berencana akan menghadiri resepsi pernikahan sahabatku di Ciamis besok (this one works quite well). Tapi soal kapan dan bagaimana, belum kupastikan. Sebagaimana sebuah penelitian, selalu ada hipotesis awal: aku akan ke Ciamis besok subuh.

Tapi hari ini, takdir berkata lain. Aku pulang siang dari kantor (it rarely happens). Lalu iseng ngecek jadwal kereta, dan pemberangkatan terdekat satu jam lagi.

Then my heart and mind said: “kenapa nggak pulang sekarang? Ada waktu. Nyampe rumah malem. Besok sore bisa ke Bandung lagi. Ada waktu untuk istirahat. Apalagi lagi sakit begini.”

Jadi, yaudah. Kutelepon ibu, direstui. Kutelepon ade, yang katanya sedang ke Bandung, tapi belom nyampe. Ternyata dia baru berangkat. Kuyakin dia bete juga kalau tahu aku malah minggat. Tapi sudah kuatur agar dia tetap bisa melakukan rencananya. Kuwhatsapp Groot, dia kaget, lalu bete. Sorry 😦

But I believe this is the best I can do for any situation. Ibu senang aku pulang, Ade tetep bisa melakukan rencananya meski ada yang sedikit berubah, ke kondangan jadi, langsung bisa berangkat ke Bandung, dan besoknya tetep bisa nemenin Groot ke kondangan (itupun if only he doesn’t mad anymore :p).

That’s why my plan sometime couldn’t work into reality. Then my life become unplanned. Sedih nggak?

Dulu banget sebelum lulus rencananya cuma setahun kerja dan lalu kembali menjadi Nden The Explorer. Taunya sekarang masih berada di titik yang sama yang itu-itu juga.

But sudden-magical things always happen. And it works really well for me.

I know He planned something for me. Dan Dialah sebaik-baik pembuat rencana. Itu cukup buatku, and I am grateful for that.

So, dear, if you want to ask me hang out, don’t plan. Ask now. I’ll set up everything. If you love me, don’t plan to marry me. Marry me now (or maybe tomorrow). Haha.
Kereta Kahuripan
7.7.2017

18:32