Bertemu

Bertemu

Setiap hari, kita berpapasan dengan banyak orang. Sejak keluar rumah, berjalan menuju tempat kerja, sekolah, rumah sakit, taman bermain, ke manapun. Ada banyak orang yang melintas, bertemu muka, berkontak mata, saling melempar senyum. Namun kemudian berlalu.

Ada juga yang sempat bertegur sama. Bertanya kabar, atau berbasa basi sekadar bertanya “mau ke mana?”. Lantas, kembali berlalu.

Kita banyak berhadapan dengan orang lain. Tapi seberapa banyak kita benar-benar bertemu?

Bagiku, bertemu tidak sekadar bertatap muka dan beradu sapa. Bertemu itu beda. Ada kesan yang tersimpan. Ada jejak yang ditinggalkan.

Bagiku, bertemu tidak berhenti di situ saja. Ada bahagia yang terbawa, ada harapan yang tersimpan, ada janji yang harus ditepati, ada pesan yang harus disampaikan, atau ada luka yang harus dilupakan. Itu karena bertemu.

Lalu bagaimana jika bertemu, tapi tidak merasakan itu? Itu, dalam kamusku, belum bertemu.

Sabtu siang ini aku bertemu teman-temanku. Kau tahu, setelah itu, ada kehangatan yang sudah lama tak ada… Haru, aku. Malamnya, aku juga bertemu dengan si Anu. Tapi ya gitu, seperti nggak ketemu.

Buatku, jika sudah bertemu, enggan rasanya waktu berlalu. Lalu rindu setelah satu dua waktu.

Kalau sudah bisa melakukan apapun dengan orang yang membawa kehangatan padamu, kamu bisa jadi dirimu, berpikir sebagaimana layaknya kamu, bertingkah sebagaimana kamu berlaku, berimajinasi, bertukar isi hati, hepi-hepi, ngopi-ngopi.

Bertemu…

… apapun itu pastilah ada sesuatu. Bertemu itu, mengubah hidupmu.

Iklan
Plan doesn’t work well for me

Plan doesn’t work well for me

I’ve never planned to leave Bandung today. I planned to go tomorrow. But in fact, I am leaving now.

Tapi sepertinya, aku memang tidak seperti perempuan kebanyakan, yang hidup dengan rencana dan persiapan. Me? Definitely not.

Sekarang aja pulang ke Ciamis beneran nggak bawa banyak barang. Isi tas cuma dompet, hape, charger, sama power bank. My life kit. Kebutuhan primer di saat apapun. Haha. (yaaa… ditambah sebongkah bedak dan sebatang lipstik sih). Ditambah baju ibu yang bulan lalu ketinggalan di kosan. Eh, banyak.

Kesimpulan ini kubuat setelah pengalaman bertahun-tahun (sepertinya). I could easily cancel my one-decade-planned agenda just because one sudden reason that change everything. It might happen to everyone sih, but not as often as to me, kayaknya.

Seperti hari ini…

Aku memang berencana akan menghadiri resepsi pernikahan sahabatku di Ciamis besok (this one works quite well). Tapi soal kapan dan bagaimana, belum kupastikan. Sebagaimana sebuah penelitian, selalu ada hipotesis awal: aku akan ke Ciamis besok subuh.

Tapi hari ini, takdir berkata lain. Aku pulang siang dari kantor (it rarely happens). Lalu iseng ngecek jadwal kereta, dan pemberangkatan terdekat satu jam lagi.

Then my heart and mind said: “kenapa nggak pulang sekarang? Ada waktu. Nyampe rumah malem. Besok sore bisa ke Bandung lagi. Ada waktu untuk istirahat. Apalagi lagi sakit begini.”

Jadi, yaudah. Kutelepon ibu, direstui. Kutelepon ade, yang katanya sedang ke Bandung, tapi belom nyampe. Ternyata dia baru berangkat. Kuyakin dia bete juga kalau tahu aku malah minggat. Tapi sudah kuatur agar dia tetap bisa melakukan rencananya. Kuwhatsapp Groot, dia kaget, lalu bete. Sorry 😩

But I believe this is the best I can do for any situation. Ibu senang aku pulang, Ade tetep bisa melakukan rencananya meski ada yang sedikit berubah, ke kondangan jadi, langsung bisa berangkat ke Bandung, dan besoknya tetep bisa nemenin Groot ke kondangan (itupun if only he doesn’t mad anymore :p).

That’s why my plan sometime couldn’t work into reality. Then my life become unplanned. Sedih nggak?

Dulu banget sebelum lulus rencananya cuma setahun kerja dan lalu kembali menjadi Nden The Explorer. Taunya sekarang masih berada di titik yang sama yang itu-itu juga.

But sudden-magical things always happen. And it works really well for me.

I know He planned something for me. Dan Dialah sebaik-baik pembuat rencana. Itu cukup buatku, and I am grateful for that.

So, dear, if you want to ask me hang out, don’t plan. Ask now. I’ll set up everything. If you love me, don’t plan to marry me. Marry me now (or maybe tomorrow). Haha.
Kereta Kahuripan
7.7.2017

18:32

Kurung Buka

Kurung Buka

“Bagaimana kau mengenalku? Seperti apa kau melihatku? Aku ingin tahu saja.”

“Ingin seperti apa aku mengatakannya?”

“Entahlah. Aku mulai menemukan kebuntuan, atas apa yang hendak kulakukan. Aku seperti merasa harus kembali, merenungi diri sendiri siapa aku ini. Ternyata, semakin kau jauh melangkah, semakin banyak yang tak kuketahui, semakin aku bertanya, apakah aku membuang-buang waktu.”

“Apa masalahmu?”

“Waktu. Ia seperti tak berpihak padaku.”

“Waktu tak pernah memihak. Ada atau tak ada kau, dia tetap berdetak.”

“Aku merasa tak pernah berhenti. Sedetikpun.”

“Benarkah?”

“Jelas. Kau tahu betul itu.”

“Apa yang sudah kau perbuat?”

“Banyak.”

“Untuk siapa?”

“Untuk semua orang.”

“Kau yakin?”

“Entahlah.”

“Untuk siapa?”

“Untukku.”

“Apa yang kau dapat?”

“Semuanya.”

“Lalu mau apa lagi?”

“Entahlah.”

“Bodoh.”

“Apa?”

“Kau tersesat, tak tahu ingin ke mana. Ya sudah. Buat apa terus melaju. Tinggallah.”

“Aku tak ingin sendirian. Mereka semua tak ada yang tinggal.”

“Lalu majulah bersama mereka.”

“Aku berbeda.”

“Apanya?”

“Entahlah.”

“Kau serba tidak tahu.”

“Memang.”

“Jika kau tak bisa memahami dirimu sendiri, bagaimana orang bisa memahamimu? Kau butuh bantuan.”

“Hanya kau yang tahu itu.”

“Tentu. Karena aku adalah kau. Kau sedang berkaca, berbicara pada diri sendiri, menyelami palung hatimu sendiri.”

“Kenapa orang lain tak tahu?”

“Karena kau tak membiarkan mereka tahu.”

“Kenapa aku harus membiarkan mereka tahu? Aku tak mau terlihat lemah.”

“Kau memang lemah.”

“Kukira semua orang begitu.”

“Ya sudah, kau kuat.”

“Tapi tak sekuat itu.”

“Tapi itulah yang orang lain tahu. Maka mereka percaya bahwa kau kuat.”

“Baguslah.”

“Kalau begitu jangan lagi meronta-ronta. Sudah lama kau terseok-seok seorang diri. Ingin berlari, tapi kau patahkan kakimu sendiri.”

***

Rapat

Rapat

Hari ini, saya habis ikut rapat, ehm tepatnya liputan, dengan salah satu pimpinan daerah tempat saya bekerja. Rapatnya terkait rencana pemerintah kota untuk menyesuaikan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP). Saya cukup sering meliput kegiatan-kegiatan rapat semacam ini. Namanya juga liputan kegiatan pimpinan, ya salah satunya rapat.

Benefit-nya bagi saya selaku bagian dari tim humas pemerintah, liputan rapat-rapat seperti ini membuat saya jadi lebih awal mengetahui data, menjadi corong pertama informasi pemerintah. Itu bagi saya menguntungkan untuk mengetahui situasi dan kondisi pertama yang dihadapi kota ini.

Keuntungan ini juga berbanding lurus dengan tanggung jawabnya. Namanya rapat-rapat pemerintahan, pasti berkaitan–secara langsung maupun tidak–dengan kebijakan yang menyangkut masyarakat. Dan well, tidak selamanya rapat-rapat itu membicarakan tentang kondisi yang baik.

Menjadi bagian dari “pemerintah” memang tidak mudah. Pemerintah ini harus berhadapan dengan persoalan-persoalan multidimensional. Jangan katakan menjadi pegawai pemerintah itu mudah, sepele, atau gitu-gitu aja. Urusan-urusan kemanusiaan, mulai dari inflasi sampai orang mati, pemerintah yang urusi.

Tapi prinsipnya, tak ada pemerintah yang ingin menyusahkan warga. Itu harus dicamkan. Pemerintah, di manapun, pasti memprioritaskan masyarakat di atas segalanya. Tapi memang, metode atau kebijakan yang diambil bisa ditafsirkan dengan berbagai perspektif.

Tentang perubahan tarif NJOP itu, misalnya. Well, ketika saya bilang “perubahan tarif”, it means kenaikan. Jarang ada perubahan tarif pajak yang “turun”. Pertanyaannya, siapa yang ingin tarif pajak naik? Nggak ada. Tapi kenyataan di lapangan “memaksa” pemerintah untuk melakukan itu. Dan itu lumrah terjadi di belahan dunia manapun.

Oke, saya berhadapan dengan berita buruk. Ya, buruk dari perspektif masyarakat. Tapi tetap harus disampaikan, toh?

Inilah letak perbedaan peran Humas Pemerintah (Government PR) dengan Humas Perusahaan (Corporate PR). CPR bisa saja tidak memberitakan berita buruk, tapi GPR, seburuk apapun itu jika menyangkut kehidupan manusia, tetap harus disampaikan. Di sanalah beratnya letak tanggung jawab humas. Jreng!

Bayangkan jika kita salah nulis berita, dampak seperti apa yang bisa muncul di masyarakat, eh? Kita akan bertanggung jawab terhadap kondusivitas masyarakat. Wiw.

Humas Pemerintah berada di persimpangan jalan, bagaimana menyampaikan berita buruk tanpa berdampak buruk terhadap kondusivitas di masyarakat. Bagaimana membuat jutaan penduduk kota mau menerima kebijakan baru ini, adalah pekerjaan berat. Bagaimana mempertemukan keinginan yang berseberangan: pemerintah perlu menaikkan tarif pajak; masyarakat tak ingin ada kenaikan tarif pajak–itulah tantangan sebenarnya.

Itu cuma satu dari sekian banyak contoh kehidupan yang dihadapi si Humas Pemerintah macam saya ini. Bagi Anda yang baru tahu, percayalah,–it’s real. Bagi Anda yang masih kuliah, bersiaplah.

Maka penting bagi Humas Pemerintah untuk cerdas memahami kondisi dan situasi lingkungan. Dan cerdas pula menerjemahkan situasi tersebut ke dalam tindakan yang akan dilakukan berkaitan dengan pekerjaan kita. Salah-salah, posisinya tidak akan menguntungkan bagi pimpinan daerah, kota itu sendiri, dan masyarakat penghuni kota. Subhanallah!

Hikayat (?) Nabi Muhammad Saw

Hikayat (?) Nabi Muhammad Saw

Waktu kecil, di sekolah diniyyah saya diajari kidung atau pantun (atau apapun, saya nggak tau sebutannya) tentang sejarah Rasulullah Muhammad Saw. Semoga ini menjadi pengingat kita, barangkali ada yang sejaman sama saya belajar ini. 
Nabi urang  sarĂ©rĂ©a, Kangjeng Nabi anu mulya, Muhammad jenenganana, Arab KurĂ©s nya bangsana. 

Ramana Gusti Abdullah, Ibuna Siti Aminah, dibabarkeunana di Mekah, wengi SenĂ©n taun Gajah. 

Robiul awal bulanna, tanggal ka-dua belasna, April bulan masĂ©hina, tanggal kadua-puluhna. 
Ari bilangan taunna, lima ratus cariosna, tujuh puluh panambihna, sareng sahiji punjulna. 
Siti Aminah misaur, waktos babarna kacatur, ningal cahaya mani ngempur, di bumina hurung mancur. 
Parangina Kangjeng Nabi, jatnika pinuh ku puji pinter tur gedĂ© kawani, sabar nyaah ka sasami. 
Keur opat taun yuswana, diberesihan manahna, nabi dibeulah dadana, malaikat nu meulahna. 
Jibril kadua rĂ©ncangna Mikail jenenganana, ngeusikeun kana manahna, elmu hikmah sapinuhna. 

Tuluy dada Kanjeng Nabi, gancang dirapetkeun deui, sarta teu ngaraos nyeri, dicap ku Hotami Nabi. 

Rama Nabi kacaturkeun pupusna kacarioskeun basa Nabi dibobotkeun dua sasih kaunggelkeun 

Kagenep taun yuswana ditilar pupus ibuna Nabi dirorok eyangna Abdul Mutalib asmana  

Kersana Rabbul’alamin Kangjeng Nabi nu prihatin yuswa dalapan taun yakin Ă©yangna mulih ka batin 

Sabada wapat Ă©yangna Nabi dirawat pamanna Abi Talib kakasihna sadĂ©rĂ©k teges ramana 

KangjĂ©ng Nabi sering pisan dicandak ka Nagara Sam sok nyandak barang dagangan di dinya tĂ©h pajeng pisan 

Kacatur di Ă©ta nagri loba pandita Yahudi sareng pandita Nasrani nu tepang jeung Kangjeng Nabi 

Sadayana sasauran ieu jalmi mo nyalahan pinabieun ahir jaman TorĂ©t, Injil, geus ngiberan 

Sipat Nabi panganggeusan aya di anjeunna pisan harita loba nu iman ka Nabi ngangken panutan 

Karesepna Kangjeng Nabi ka Gusti Allah ngabakti di Gunung Hira maranti, ibadahna saban wengi. 

Di dinya jol kasumpingan, Jibril nu nurunkeun Kur’an, kalawan dawuh PangĂ©ran, Nabi didamel utusan. 

Harita yuswana Nabi, patpuluh taun kawarti, diutus ku Allah pasti, ngĂ©mbarkeun agama suci. 

Anu iman pangheulana, Siti Khodijah garwana, Abu Bakar kaduana sohabat nu pangmulyana 

Murangkalih nu nonoman, anu pangheulana iman, Sayidina Ali pisan, ka Nabi sadĂ©rĂ©k misan. 

Jeung ari jalma beulian, anu pangheulana iman, Sayid Bilal kaleresan, anu jadi tukang adan. 

Ari lolobana pisan ka Nabi tĂ©h ngamusuhan, nganiaya ngajailan, teu aya pisan ras-rasan. 

Nuju tanggal tujuh likur, bulan Rajab nu kacatur, runut kaol nu kamashur Kangjeng Nabi tĂ©h disaur. 

Dipapag ku malaikat, nyandak burok nu kasebat, leumpangna tĂ©h cara kilat, tutunggangan Nabi angkat. 

Ti Mekah ka Baitul Maqdis, teu lami-lami antawis, ku jalmi henteu katawis, Kersana Gusti nu Wacis. 

Ti BaĂ©tul Makdis terasna, naĂ©k tangga saterusna, mi’raj tĂ©a kasebatna, ka langit Nabi sumpingna. 

Tujuh langit sadayana, sareng aras pangluhurna, disumpingan sadayana, katut surga-narakana. 

Kangjeng Nabi ditimbalan, ku Gusti Nu Sipat Rahman, anjeunna kudu netepan, solat muji ka PangĂ©ran. 

Sadayana jalmi iman, sami gaduh kawajiban, solat nu lima giliran, henteu meunang dikurangan. 

Solat Ă©ta minangkana, dina agama tihangna, jalmi nu luput solatna, nyata rubuh agamana. 

Kapir Mekah kacaturkeun, barang Nabi nyarioskeun, mi’raj lain dimulyakan, anggur pada nyeungseurikeun. 

Pada hasud ngakalakeun, ti dinya Allah ngersakeun, Kangjeng Nabi dialihkeun, ka Madinah disirnakeun. 

Para sohabat pirang-pirang, nu bumĂ©la milu iang, milu ngalih saabrulan, henteu pisan sumorĂ©ang. 

Tambih kamulyaan nabi, di madinah asal sepi, jadi ramĂ© ku nu ngaji, muji ka Nu Maha Suci. 

Sapuluh taun lamina, di Madinah jumenengna, agama Islam cahyana, gumebyar ka mana-mana. 

Ari mungguh Kangjeng Nabi, nyaahna langkung ti misti, ka umatna jaler istri, leuwih ti sepuh pribadi. 

Welas asih ka nu miskin, sumawon ka budak yatim, pada seubeuh ku paparin, kadaharan jeung pisalin. 

Akurna ka urang kampung, calik satata ngariung, tara angkuh jeung adigung, sanajan ka urang gunung. 

Ka nu nandang kasusahan, gering jeung kapapatĂ©nan, ngalayad sarta ngubaran, ngajajapkeun ka kuburan. 

Manis saur manis budi, Ă©stu mustikaning jalmi, sajagat mo’ mendak deui, saĂ© rupa jeung parangi. 

Raray lir bulan purnama, halisna lir katumbiri, waos lir inten widuri, salira harum wawangi. 

Éstu kersaning PangĂ©ran, lain seungit dimenyanan, karinget pada nandĂ©an, diparakĂ© seuseungitan. 

Pirang-pirang mujijatna, tawis kanabianana, Kur’an nu nomer hijina mujijat nu pangmulyana. 

Tangkal nu pĂ©rang daunna, disiram urut abdasna, ngadadak loba buahna, sarta hirup saterasna. 

Domba nu banget kuruna, sarta lalĂ©pĂ©t susuna, diusap ku pananganna, ngadadak juuh susuna 

Dina hiji waktos deui, sahabat bet kirang cai, teras baĂ© Kangjeng Nabi, mundut cai anu kari 

Cai ngan sakedĂ©t pisan, Ă©stu kabĂ©h pada hĂ©ran, Nabi neuleumkeun panangan, dumadak tuluy manceran. 

Cai mancer loba pisan, ka luar tina panangan, sela-sela ramo pisan, cukup keur jalma rĂ©aan. 

Ya Allah Nu Sipat Rohman, abdi tĂ©h iman ka Tuhan, teu aya deui PangĂ©ran, lain ti Allah Nu HĂ©man. 

Nu ngadamel bumi-alam, rawuh jeung eusina pisan, nu wajib diibadahan, taya anu nyasamian. 

Sareng abdi iman deui, ka Muhammad Kangjeng Nabi, yĂ©n Ă©ta utusan Gusti, miwulang ka jalmi-jalmi. 

Nu sipat kapercantenan, wijaksana tur budiman, bener wungkul sasauran, lain saur kaheureuyan. 

Hurmat urang ka anjeunna, dina mangsa jumenengna, sareng sabada wapatna, Ă©stu teu aya bĂ©ntenna. 

Duh Gusti jungjunan abdi, Sayidina Muhammad habibi, pamugi salira nampi, ka nu hina diri abdi. 

Abdi umat ahir jaman, anu banget panasaran, hoyong tepang ngadeuheusan, seja tumut serah badan.

Perempuan Baik (?)

Perempuan Baik (?)

Minggu lalu saya kedatangan seorang teman lama. Teman SMP. Kini ia bekerja di Jakarta, dan minggu lalu ia berkunjung ke Bandung untuk mengikuti sebuah kajian agama di kampusnya dulu. Lalu bergulirlah ceritanya tentang isi kajian itu yang menurutnya–menurutku juga–cukup menarik.

Katanya begini, ‘laki-laki yang baik pasti akan mendapatkan perempuan yang baik. Tapi perempuan baik belum tentu mendapatkan laki-laki yang baik.’

Saya terhenyak.

Teman saya menjelaskan, ada kalanya perempuan maupun laki-laki tidak mendapatkan pasangan sesuai dengan yang mereka harapkan. Bisa saja seorang laki-laki shalih berpasangan dengan perempuan yang, katakanlah, tidak seshalih si laki-laki. Begitu pula sebaliknya.

“Tapi bagaimanapun, perempuan itu harus baik, biar bisa menghasilkan generasi-generasi yang baik,” jelas teman saya.

Untuk poin itu, saya setuju.

Perihal baik dan buruk kualitas diri seseorang adalah sebuah subjektivitas manusia. Kebaikan dan keburukan adalah sebuah keniscayaan yang ada pada diri manusia. Tuhan menciptakan manusia berbeda dengan makhluk lainnya. Ia diberikan nalar dan nurani sekaligus, yang karenanya manusia bisa memiliki berbagai dimensi.

Wajah manusia bisa memiliki banyak sisi. Si A mungkin baik, sebab kau melihat sisi baiknya. Suatu saat orang lain bisa menilainya buruk karena melihat sisi buruknya. Maka kebaikan dan keburukan manusia seutuhnya hanya bisa dilihat oleh Dia yang maha melihat segala sesuatu.

Saya tidak bermaksud bicara agama. Namun dalil yang mengatakan perempuan baik untuk lelaki baik dan sebaliknya, hadir karena adanya konteks tertentu dan tidak berkorelasi dengan rumus perjodohan. Namun dewasa ini, untuk memotivasi para pencari jodoh, dalil tersebut kemudian diterjemahkan sebagai teori atau rumus mendapatkan jodoh idaman. *Tolong koreksi jika saya salah*

Tentu hal ini sah-sah saja, sebab tidak ada yang salah jika kita menganjurkan untuk memperbaiki dan memantaskan diri untuk mendapatkan jodoh yang sepadan.

Hal yang ingin saya tekankan adalah bahwa dengan siapapun jodohnya, menjadi baik adalah sebuah keharusan. Menjadi baik, dan ikhlaslah. Bukan menjadi baik dengan tujuan tertentu, salah satunya untuk mencari jodoh. Menjadi baiklah karena Allah menginginkan kita menjadi hamba yang baik, taat, dan bermanfaat bagi sesama.

Perihal jodoh, kita hanya tinggal percaya bahwa Allah akan memberikan yang terbaik bagi kita. Sebagaimana yang dikatakan dalam kajian teman saya itu, bahwa perempuan yang baik akan mampu menjadikan keturunannya menjadi orang yang baik, pun ia akan membimbing suaminya ke jalan yang lebih baik.

Demikian pula dengan para lelaki. Menjadi pemimpin yang baik bagi keluarga akan menghantarkan keluarga tersebut ke pintu syurga yang dijanjikan Allah. Ia yang akan membimbing anak dan istrinya ke jalan yang baik.

Keduanya tentu tidak semanis teori yang dikatakan. Ada proses yang harus dilalui dengan penuh kesabaran. Maka ketika sang perempuan mampu membawa suaminya, atau sebaliknya, lelaki mampu membawa istrinya, ke arah yang diridhai Allah, Dia akan memberikan apresiasi dalam bentuk apapun, bukan?

Akan selalu ada harga untuk setiap perjuangan mendapatkan ridha Allah. Tinggal sejauh mana kesanggupan kita menjalani itu semua. Wallahualam bishawab.

Demikian hasil diskusi panjang saya dengan si Teman. Kalau ada yang mau nimbrung, dipersilakan 🙂

 

Penilaian

Penilaian

Aku ingin bertanya padamu, berhakkah kita menilai seseorang baik atau buruk? Siapa yang berhak menilai itu?

Aku baik? Siapa bilang? Kau tak tahu saja seberapa baikkah aku, atau apa ada keburukkan padaku.

Begitupun kau. Burukkah kau? Siapa bilang? Kupikir tak semua orang tahu bahwa kau juga baik.

Lalu menurutku, tak baik pula menilai kebaikan dan keburukan seseorang, karena yang baik belum tentu baik kelihatannya, belum tentu pula seburuk kelihatannya.

Hanya Tuhan yang tahu, dan hanya Dia yang berhak menilai. Kita? Tak usah repot-repot.

22.55
14.08.2016